Refleksi Tutup Tahun 2021

Post a Comment
Sumber foto: pinterest.com


Masa lalu selalu mempunyai rekam jejak. Ketika langit masa kini seolah runtuh karena beratnya persoalan hidup, menengok masa lalu menjadi satu langkah untuk kembali menyulut api harapan. Pergumulan yang jujur dengan masa lalu akan menawarkan kepada kita arah ke masa depan. 

Menemukan arah yang jelas itu dapat membantu kita mengurai kembali benang-benang kusut yang sering membuat kita putus asa menghadapi tantangan yang ada sekarang.

Oleh karena itu, Saya mengajak kita semua untuk memikirkan kembali perjalan hidup kita sejak dari rahim ibu. Pada saat kita sama sekali belum sadar mengenai keberadaan kita, Ibulah yang paling pertama merasakannya. Percayalah, ketika lahir ke dunia, bukan hanya bayi yakni saya dan Anda yang menangis, tetapi juga Ibu. Kita dan ibu menangis karena alasan yang sama: kehidupan baru.

Tidak ada ibu yang menimang anaknya sambil berkata, “Cepatlah tua, anak-Ku”. Dalam hatinya, ia memendam kekhawatiran yang serius. Asrul Sani menulis sebuah puisi yang menggambarkan kegelisan tersebut sebagai berikut:

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinari daun-daun
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman,
boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”


(Surat dari Ibu, Asrul Sani, 1984)

Ketika usia saya satu tahun, mama selalu memandikan dan menyuapi saya. Ucapan terima kasih dari saya hanya dengan suara tangisan sepanjang malam. 

Ketika usia saya 7 tahun, mama membelikan sebuah bola. Ucapan terima kasih saya hanya dengan cara memecahkan kaca jendela rumah tetangga dengan bola itu. 

Ketika usia saya 14 tahun, mama berhemat demi uang asrama tempat saya tinggal. Di rumah, mereka hanya makan nasi dan garam. Ucapan terima kasih saya hanya dengan menulis sepucuk surat atau mengirimkannya SMS untuk meminta uang tagihan asrama bulan depan. 

Ketika usia saya 19 tahun, mama bersusah payah membayar uang kuliah dan kos. Ucapan terima kasih saya hanya dengan mengucapkan selamat jalan kepadanya di depan gerbang kos karena malu dengan kawan-kawan. 

Ketika usia saya 20 tahun, mama membelikan saya perlengkapan kamar dan ucapan terima kasih dari saya hanya dengan mengatakan, “Pilihan Ibu tidak bagus, tidak cantik, kurang kece, dan ketinggalan zaman!”

Dan kemudian, saya mendapat berita kematian mama.

Kabar itu bagai petir di siang bolong. Dalam lelehan air mata, barulah segala perbuatan saya terhadap ibu menerpa satu per satu.

Teman-teman yang terkasih….

Sebelum semuanya berlalu begitu cepat dan kita terlambat, kita lalu berinisiatif untuk berkumpul pada acara tutup tahun. Momen ini menjadi ajang untuk introspeksi diri dan berucap syukur atas apa yang telah kita peroleh selama ini sekaligus menegaskan bahwa masa lalu memiliki andil dalam pembentukan karakter kita sekarang.

Apakah saya yang dahulu pendiam, sekarang lebih aktif berbicara? Apakah saya yang dahulu menerima begitu saja apa yang diajarkan guru, sekarang lebih bersikap kritis? Apakah saya yang dahulu pemabuk, sekarang sudah berkurang? 

Apakah saya yang dahulu malas membaca buku, kini rasa hampir mau mati kalau sehari saja tidak baca buku dan bukannya stalking status facebook dan instagram kawan atau mantan? Apakah saya yang dahulu malas ke gereja, kini semakin rajin dan tidak menganggap hal itu sebagai rutinitas saja? 

Apakah pernah, di malam yang sunyi, dalam kamar kos, saya duduk dan berkata kepada diri saya sendiri, “Tuhan, maafkan aku yang dahulu?”

Atau jangan-jangan, saya yang dahulu selalu giat berpendapat di kelas, sekarang malah diam karena kehilangan ide? Apakah saya yang dahulu senantiasa bersikap kritis, sekarang lebih pilih ikut arus dan jaga ‘muka’? 

Apakah saya yang dahulu benci moke, sekarang merasa hidup tanpa minum adalah kesalahan? Apakah saya yang rajin membaca buku, kini rasa hampir mau mati kalau harus menyengsarakan diri dengan baca artikel ilmiah apalagi yang berbahasa Inggris? 

Apakah saya yang dahulu rajin ke gereja, kini malah lebih suka di tempat tidur? Apakah pernah, di malam yang sunyi, dalam kamar kos, saya duduk dan berkata kepada diri saya sendiri, “Tuhan, kembalikan aku yang dahulu?”

Sekurang-kurangnya, ada 11 poin penting yang ingin saya sampaikan pada kesempatan hari ini.

  1. Kamu boleh aktif bergiat di mana pun, tapi jangan sampai kegiatan itu menjadi lebih utama dari perkuliahan. Hal pertama yang paling penting untuk kamu renungkan adalah tetap menempatkan kuliah di prioritas utama, lebih utama daripada kesibukanmu sebagai aktivis kampus hari ini. Sebab, bagaimanapun amanah yang kamu emban ke kampus adalah untuk menyelesaikan pendidikan, bukan untuk mengikuti semua kegiatan. Kamu boleh aktif di mana pun, tapi ketika kamu dihadapkan pada pilihan antara kuliah dengan organisasi, pilih mana? Kalian harus berani menjawab, saya pilih kuliah.

  2. Jangan sampai kesibukan membuatmu jadi anak yang durhaka. Hebat sekali bisa sibuk di mana pun. Jadi orang penting yang diundang kemana-mana. Tapi karena saking sibuknya sampai lupa orang tua. Tidak ingat lagi entah kapan terakhir kali menelpon mereka. Bahkan sekadar untuk menanyakan atau memberi kabar. Kesibukanmu sebagai aktivis kampus hari ini, janganlah sampai membuatmu melupakan orang-orang berharga dalam kehidupanmu. Apalagi hingga membuatmu menjadi “anak hilang” yang tidak tahu ke mana rimbanya. Dalam Kitab Suci PB, perumpamaan tentang anak yang hilang itu bukan hanya si bungsu, tetapi juga si anak sulung. Dikatakan sebagai anak hilang karena anak sulung, yang setiap hari berada dengan ayahnya, tetapi relasi mereka hanya bersifat formal, teknis, tanpa pembicaraan dari hati ke hati.

  3. Jangan sekali-kali menjadikan kesibukan organisasi sebagai kambing hitam dari kegagalanmu di tempat lain. Kamu adalah orang yang sibuk. Super sibuk malah. Saking sibuknya sampai keteteran untuk mengelola waktu. Alhasil banyak pekerjaan lain yang terzalimi akibat pekerjaan yang satu: kesibukanmu menjadi aktivis kampus itu. Dan, malang dikata, nilai akademismu anjlok. Lalu kamu menyalahkan kesibukanmu menjadi aktivis. Menyalahkan amanah yang kamu emban.

  4. Sesibuk apa pun kamu saat masih di kampus, itu adalah omong kosong jika pada akhirnya kamu tidak terpakai di tengah masyarakat. Boleh jadi di kampus kamu adalah orang penting, tapi jika di masyarakat nantinya kamu hanya jadi seorang yang biasa-biasa saja. Kamu telah gagal! Masa kampus, masa menjadi mahasiswa, masa menjadi pelajar, hanyalah masa persiapan. Pertempuran sebenarnya adalah di dunia bermasyarakat. Belajarlah untuk bisa berkontribusi dalam masyarakat mulai dari hari ini.

  5. Jangan sesekali mengatakan apa yang tidak kamu lakukan! Nyatanya banyak mahasiswa yang keras menantang korupsi tapi ia sendiri justru melakukannya. Lihat saja, aktivis tahun 1998 yang sekarang duduk di Senayan. Atau, diam-diam, masih nyontek saat ujian, copy paste skripsi dan tesis orang, dan masih suka titip absen saat tidak masuk kelas.

  6. Ketika memutuskan untuk menjadi seorang aktivis kamu harus sadar, bahwa kamu hari ini adalah representasi kamu di masa depan. Bagaimana kita hari ini menentukan bagaimana kita di masa depan. Maka jadilah orang baik, dengan lebih dahulu memperbaiki diri sendiri sebelum mendorong orang lain untuk memperbaiki diri mereka pula. Menjadi aktivis bukan sebuah pelarian. Satu hal yang perlu untuk kamu ingat saat memutuskan untuk berkarir sebagai aktivis kampus adalah jangan sampai pilihan itu adalah pilihan pelarian dari suatu hal lainnya. Sesuatu yang dilakukan dengan setengah hati adalah sesuatu yang tidak akan maksimal hasilnya.

  7. Jangan menjadi aktivis kampus jika hanya ikut-ikutan semata. Senada dengan poin ke enam, jangan jadi aktivis kalau cuma untuk ikut-ikutan. Menjadi aktivis tidak sebercanda itu. Menjadi aktivis berarti berani meluangkan waktu untuk bekerja dan berpikir untuk kepentingan publik serta menomorduakan kepentingan pribadi. Seyogyanya setiap aktivis memahami itu.

  8. Menjadi aktivis kampus bisa memberikan kamu soft skill yang mumpuni, jangan sampai jadi sia-sia. Ketika kamu telah menjadi seorang aktivis jangan pernah sia-siakan kesempatan itu. Kamu dapat meningkatkan soft skill mu selama kamu menjalaninya dengan sebaik mungkin. Soft skill inilah yang sangat diperlukan untuk bisa survive di dunia pasca kampus kelak.

  9. Tetap santun meskipun sepenting apapun posisi kamu. Anda presiden mahasiswa? Anda ketua organisasi atau apapun itu bukanlah apa-apa. Posisi yang anda dapatkan sekarang adalah titipan, bukan sesuatu yang dapat anda pertahankan seumur hidup anda. Oleh karena itu, tetaplah menjadi seorang yang santun. Sebab kedudukan dunia punya limit waktu untuk menjadi sirna, tapi citra kita di mata dan hati orang lain akan bertahan lama.

  10. Jadilah seorang yang idealis dan imajinatif. Albert Einstein bilang, “Imagination is important than knowledge”, imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan. Imajinasi itu bukan duduk dan menghayal yang bukan-bukan. Idealis juga bukan duduk dan berharap tanpa berbuat apa-apa. Dua hal ini menekankan strategi, framing, dan orientasi. Hanya dengan banyak membaca dan bersikap peka, mahasiswa bisa disebut sebagai kaum intelektual yang memiliki idealisme yang akut. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang yang sangat idealis. Terlebih ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam organisasi baik intrakampus maupun ekstrakampus. Jika saja mereka kehilangan idealisme itu maka mereka sama saja dengan orang kebanyakan.

  11. Anda adalah pejuang kebenaran. Motto universitas terbaik sedunia, Universitas Harvard, dalam kata bahasa Latin, Veritas, yang artinya kebenaran. Sebagai pejuang kebenaran, Anda harus memanfaatkan segala potensi di dalam dirimu untuk melawan ketidakadilan, selalu merasa tidak puas dengan pengetahuan sekarang, dan peka terhadap penderitaan orang lain. Sebab, tujuan pendidikan itu bukan pengetahuan, tetapi tindakan.

Menutup renungan ini, saya mengajak kita membayangkan diri kita sedang melakukan perjalanan mendaki sebuah bukit. Karena letih, kita beristirahat sebentar dan mencoba menulis sesuatu:

Ibuku!
Gunung yang ibu suruh daki sudah kudaki,
Sekarang aku baru sampai di lerengnya,
Duduk sebentar di atas tunggul pohon mati,
Memandang ke bawah ke lembah yang telah kulalui.
Ah, alangkah dekatnya baru kiranya perjalananku
Kalau dibandingkan dengan puncak yang harus kucapai;
Tapi alangkah banyaknya sudah yang kuderita
Dalam hidup yang masih muda ...

Ya, ya ibuku, aku akan turut segala petuamu,
Aku tidak akan kecewa, aku tidak akan berputus asa;
Hanyalah puncak bukit yang tak dapat bertemu dengan lembah,
Tapi bukankah gunung yang tinggi boleh didaki?
Ibuku, sekarang aku baru sampai di lerengnya.

Duduk sebentar di atas tunggul pohon mati,
Memandang ke bawah ke lembah yang telah kulalui.

....

("Kepada Ibuku" karya Samadi dalam Senandung Hidup, 1941)

Yohanes W Hayon
Malas makan, rakus membaca, minder bertemu perempuan cantik, dan ingin menjadi dongeng
Newest Older

Baca Juga

Post a Comment

Buku Esai

Buku Esai
Klik gambar di atas