Menugur Jeda di Kota yang Tak Pernah Tidur

Post a Comment

(Sejarah dan Peran Taman Ismail Marzuki dalam Perkembangan Budaya)


Para sejarahwan diberikan bakat yang bahkan ditolak oleh para dewa yaitu mengubah apa yang sudah terjadi! (David Irving, Hitler’s War. 2011:ix)

Kita hidup di dunia dengan batas-batas yang sengaja dibuat cair dan kabur. Batas-batas geografis melempem dalam moda transportasi dan aplikasi google map. Batas antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa roboh di hadapan situs film porno. Batas antara masa lalu dan masa kini berpendar di hadapan penyimpanan virtual, dan daftar ini bisa dibuat lebih panjang.

Gejala ini merangsek masuk, persis di jantung Indonesia, di Jakarta. Dihimpit berjubel gedung pencakar langit, kota tua itu nyaris tak pernah tidur. Berlaksa kendaraan dan manusia sibuk bergerak, dan tak jarang terjebak macet atau pun diserang kepanikan karena banjir musiman. Di kota itu pula, anonimitas terwujud: tingginya mobilitas membuat orang-orang tidak sungguh-sunguh saling mengenal.

Tapi Jakarta hanyalah eksemplar terdekat dari wajah dunia hari ini. Sebuah dunia di mana kita membangun relasi dan intimasi berdasarkan logika yang tidak berbeda jauh dengan koneksi world wide web (www). Sementara itu, dalam rangka mencari sumber semangat hidup, kita menyembah URL (uniform resource locator) sebagai kata kuncinya. Inilah dunia yang disebut oleh Baudrillard sebagai “imagology” dan “McDonaldisasi dunia” versi Ritzer, atau dalam kosa kata Giddens, sebuah “dunia tunggang langgang”.

Paul Virillio dalam The Lost Dimension (1991) menulis bahwa masyarakat kota postmodern adalah komunitas manusia yang telah kehilangan berbagai dimensi arsitektural. Inilah kota yang telah kehilangan dimensi interaksi, tatap muka, aura, dan ingatan. Tanpa sentuhan, tidak ada interaksi, tidak ada aura, tidak ada ingatan, tidak ada manusia.

Tapi Jakarta juga adalah rumah bagi 11,25 juta orang dari berbagai latar belakang, dari seluruh Indonesia. Pada siang hari, jumlahnya meningkat, dengan komuter yang pergi ke kantor mereka di kota dan berkumpul lagi di rumah pada malam hari.

Tapi Jakarta juga adalah kota tua yang kemegahannya telah benderang sejak masa lampau. Ketika masa VOC dan Belanda, kota ini merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan yang penting. Tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa, batas-batas geografis dan kebudayaan memendar. Jika Anda ingin membuktikan kebenaran kata-kata di atas, bertandanglah ke beberapa titik kota tua itu. Anda akan menemukan berbagai model bangunan peninggalan penjajahan Belanda yang masih kokoh, rapih, dan artistik sejak tahun 1600-an.

Lalu, bagaimana kita mesti merumuskan Jakarta? Bukankah ia menjelma ruang dengan medan tarik menarik ganda? Salah satu sisi menarik kita ke masa lalu yang telah terpahat di museum, artefak, teks sejarah, dan teukir di dalam sanubari kita. Sementara itu, sisi yang lain menarik kita ke masa depan yang belum sepenuhnya rampung kita tenun atau mampu kita antisipasi.

Jakarta, sebagaimana Indonesia, butuh dirumuskan kembali, terus-menerus, setiap hari. Hanya dengan cara itu, kita sanggup terjaga tatkala kota itu tak lagi tertidur.
Hanya dengan cara itu, kita mengerti bahwa Jakarta bukanlah sebuah kota yang hubungannya dipisahkan begitu saja dari desa.
Ada intimasi penuh pesona, ada kegelisahan yang paradoksal, dan ada rahasia yang perlu kita tugur dari waktu ke waktu.

Ilustrasi merayakan HUT Ke-53 TIM pada tanggal 10 November 2021. Sumber foto: mediaindonesia.com.


Sejarah dan Kiprah TIM


Menjawabi pertanyaan di atas, pada tanggal 10 November 1968, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin meresmikan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang teletak di Jalan Cikini Raya 73. Tempat yang memiliki nama lengkap “Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki” (PKJ-TIM) tersebut, kini menjadi simbol eksistensi Jakarta sebagai pusat seni dan budaya di Indonesia. Tentu saja rencana tersebut bukan jatuh begitu saja dari langit sebagai taken for granted. Wajah dominan Jakarta hari ini telah diprediksi oleh Ali Sadikin yang berharap bahawa Jakarta bukan saja kota dagang, pusat administrasi negara, dan pusat kegiatan politik. Jakarta juga adalah jendela kebudayaan Indonesia bagi mata luar negeri.

“Saya ingin menjadikan ibu kota Jakarta sebagai kota budaya, di mana kesenian Indonesia dapat muncul di Jakarta,” ujar Ali seperti dikutip dari Kompas, 11 November 1968.

Sejak peresmian itu, secara rutin TIM menjadi tempat penyelenggaraan berbagai iven kesenian seperti pementasan musik, film, wayang, pagelaran tari, drama, dan pameran lukisan. Nama TIM berasal dari nama seorang komponis pejuang Indonesia, Ismail Marzuki sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi khazanah musik Indonesia.

Besarnya perhatian Ali Sadikin pada Jakarta dari perspektif kebudayaan dilanjutkan dengan menginisiasi pertemuan di Matraman Raya untuk membuat konsep pembangunan pusat kesenian yang melibatkan para budayawan dan seniman. Arifin C. Noer, Sukardjasman, Goenawan Mohamad, Ed Zulverdi adalah beberapa nama yang ikut serta dalam diskusi tersebut.

Tidak berhenti di situ, Ali juga menyediakan dana dan berbagai fasilitas penunjang agar TIM dapat beroperasi. Bahkan, memberikan wewenang kepada budayawan dan seniman untuk mengelola Taman Ismail Marzuki. Ini menunjukkan besarnya perhatian pemerintah pada waktu itu terhadap masa depan kebudayaan Indonesia, khususnya Ibu Kota Jakarta.

“Akan gersang jadinya kehidupan kota ini jika rohani tidak dikembangkan. Kesenian mesti hidup, tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah kegiatan seperti apa yang diinginkan oleh Jakarta,” katanya dalam Bang Ali Demi Jakarta 1996-1977 (1992).


Apa yang Harus Dilakukan?


Pertama, Revitalisasi TIM

Ali Sadikin tidak sendirian. Hingga saat ini, terdapat banyak pihak yang menaruh perhatian serius terhadap eksistensi TIM. Besarnya perhatian pada ruang fisik tampak dalam upaya pemerintah dan pihak terkait untuk menginisiasi wajah baru TIM.

Planetarium Jakarta yang terletak di dalam komplek Taman Ismail Marzuki (TIM). Sumber foto: indonesiakaya.com

Pada awalnya, TIM memiliki bangunan Teater Tertutup, Teater Terbuka, Teater Arena, Teater Halaman, Teater Besar, Sanggar Baru, Mesjid Amir Hamzah, Sanggar Tari Huriah Adam, Wisma Seni, dan perumahan anggota Dewan Kesenian Jakarta dan dosen Institut Kesenian Jakarta. Namun Teater Tertutup, Teater Halaman, Teater Terbuka, dan Teater Arena ditiadakan pada tahun 1996. TIM saat itu juga memiliki sebuah taman yang menjadi tempat rekreasi umum bernama Taman Raden Saleh (TRS). Fasilitas lainnya yakni dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium. Bukan hanya itu, pada tahun 1964, Presiden Soekarno meresmikan Planetarium Jakarta di lokasi yang sama dengan TIM.

Hingga hari ini, dalam rangka merevitalisasi bangunan yang ada, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mengatakan PKJ-TIM akan memiliki fasilitas baru dan fasilitas yang direvitalisasi.

“Fasilitas budaya yang baru, yakni Teater Halaman, Teater Arena, Galeri Annex, dan Pusat Latihan Budaya. Sedangkan, fasilitas yang direvitalisasi adalah Graha Bhakti Budaya, Galeri Cipta 1, 2, dan 3, serta Perpustakaan,” katanya dikutip dari Tempo.co, 28 November 2021.

Berbeda dengan sebelumnya, wajah baru TIM terkesan lebih futuristik dan modern namun tetap ramah lingkungan. Arsitek Revitalisasi TIM, Andra Martin menyebut, bahwa ruang terbuka hijau pada TIM baru lebih banyak, yakni dari sebelumnya 11 persen menjadi 27 persen. TIM, secara metaforis, adalah satu-satunya tempat yang akan menjadi oase.

“Kalau kita jalan kaki atau naik mobil di Cikini Raya itu kan satu arah, itu semuanya adalah bangunan,” katanya dikutip dari Bisnis.com (17 September 2021).

Desain tersebut berusaha membuat semuanya ini menjadi lebih hijau agar orang merasakan ada perbedaan. Dari Jalan Cikini Raya, ruang terbuka hijau (RTH) sudah terlihat dengan adanya taman di atas atap (rooftop) Gedung Parkir yang nantinya akan menjadi ruang publik atau wadah interaksi antarseniman. Ini mirip dengan apa yang diharapkan oleh Ali Sadikin dulu ketika ia mengatakan, 

“Saya perintahkan supaya pohon-pohon yang masih hidup di sana dipelihara. Malahan harus ditambah, supaya terasa teduh. Hijau itu kan indah dan harus bersih. Penampilan TIM harus bagus dan enak dipandang.” (Lihat, Bang Ali demi Jakarta 1966-1977 (1992).


Bangunan baru lainnya yang tidak kalah penting, yakni Gedung Panjang, bangunan tertinggi di kawasan TIM yang terdiri dari 14 lantai. Gedung yang bentuknya berundak-undak seperti terasering ini akan memuat banyak fungsi, seperti Galeri Seni, Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Wisma Seni, Ruang Komite Seni dan Kantor Pengelola TIM.

Foto udara revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta, Sabtu (27/2/2021). Pembangunan tahap I revitalisasi kawasan TIM oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) per akhir Januari 2021 mencapai 65,15 persen. Sumber Foto: Antara Foto/Aditya Pradana Putra


Didirikannya bangunan baru dan revitalisasi bangunan lama tersebut membuktikan bahwa sebagai ruang fisik, TIM mencerminkan eksistensi kita sebagai manusia Indonesia, antara lain identitas tentang siapa kita, di mana kita berada, dan apa yang diharapkan dari kita. Ini juga menentukan signifikansi lokasi kita dalam jaringan komunitas yang lebih luas, jenis dan jumlah orang yang berhubungan dengan kita. 

Bersentuhan dengan TIM pada akhirnya mencerminkan tingkat pendidikan, latar belakang agama, akses ke teknologi tertentu, harapan, ketakutan, dan harapan kita akan masa depan. Ia juga menentukan pengertian kita tentang masa lalu dan signifikansinya, keterpaparan kita pada yang lain, baik dalam masyarakat kita sendiri atau masyarakat lain.


Kedua, Revitalisasi Program

Sejak berdirinya, TIM dikenal menjadi ruang bagi para seniman untuk menyalurkan kreativitasnya dalam bentuk berbagai karya inovatif. TIM memang membuka seluas-luasnya bagi para seniman untuk menghasilkan karya fenomenal dan berkualitas. Dari sinilah Rendra, Sardono W. Kusumo, Farida Oetojo, Arifin C. Noer, Suyatnya Anrun, Affadi pernah merintis karir berseninya disini. 

Bukan hanya karya dalam negeri, dikutip dari laman CNNIndonesia.com (2 Oktober 2021), TIM juga sering menjadi sarana pertunjukan kelas dunia. Salah satunya koreografer ternama dunia asal Amerika Serikat Martha Graham pernah tampil di TIM pada 1974. Selain itu juga ada koregrafer asal Jerman Pina Bausch (1974), pertunjukan kelompok butoh pertama di Indonesia Byakkosha (1981).

Bahkan tempat ini juga menjadi area perkuliahan yang diberi nama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Letak kampus yang diesmikan oleh Soekarno pada tanggal 25 Juni 1976 itu berada di area belakang kompleks TIM. Lima tahun setelah diresmikan, LKPJ beralih nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan sistem pendidikan formal sesuai dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu.

Desain Revitalisasi Taman Ismail Marzuki di Jalan Cikini Raya, Nomor 73, Jakarta Pusat. Sumber Foto: Jakpro.

Mencermati apa yang sudah dilakukan pada masa lampau, dan upaya hari ini menjadikan TIM sebagai Urban Art Center dan Creative Hub, kita membutuhkan kolaborasi antarsektor untuk memikirkan bagaimana merumuskan program pendidikan dan kebudayaan di TIM, terutama di era digital. Dibahasakan secara berbeda, jika dikemas dengan konteks kekinian tanpa menghilangkan substansi, TIM dapat menjadi panggung Indonesia untuk memperkenalkan budaya dan kesenian masyarakat Indonesia yang kaya dan unik.

Dengan adanya revitalisasi TIM, mengutip Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Jakpro Nadia Diposanjoyo dalam laman Jakpro (28 September 2021), masyarakat, khususnya warga Jakarta dapat memanfaatkan TIM sebagai ruang ketiga untuk mengembangkan kreativitas dan mengekpresikan talenta seni maupun budaya. Apalagi, TIM dibangun dengan konsep mixed-use building yang unik karena mengakomodasi kebutuhan seni, budaya, edukasi, dan tentu saja mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Akhirnya, sekali lagi, meskipun kita hidup di dunia dengan batas-batas yang sengaja dibuat cair dan kabur, kita perlu memastikan: tidak ada kenangan dan harapan yang luput dicatat.
Bagaimanapun juga, perlu ada yang dikisahkan. Sebab, alangkah miskinnya masyarakat tanpa cerita, tanpa gagasan.
Yohanes W Hayon
Malas makan, rakus membaca, minder bertemu perempuan cantik, dan ingin menjadi dongeng

Baca Juga

Post a Comment

Buku Esai

Buku Esai
Klik gambar di atas