Cinta dan Demokrasi Kita yang Ringkih

Post a Comment
Sumber gambar: Finansial Times

Dari Simposium Plato hingga The Second Sex karya Simone de Beauvoir, para filsuf dan pemikir politik berulang kali bertanya: apa itu cinta? Dari mana asalnya, apa fungsinya, dan apa yang dituntutnya?
Bagi Hannah Arendt, cinta romantis itu apolitis karena menjauhkan kita dari dunia. Dalam Minima Moralia, Theodor Adorno berpendapat bahwa cinta adalah satu hal dalam masyarakat konsumen yang kita anggap takdir dan bukan masalah pilihan. Melalui cinta, Jean-Jacques Rousseau membuat perbedaan antara amor de soi (semacam egoisme) dan amour propre (semacam harga diri) untuk memikirkan ketidaksetaraan dalam masyarakat sipil. Erich Fromm melihat cinta sebagai bentuk seni, sementara Herbert Marcuse menganggap cinta yang sangat menyimpang adalah alat untuk melawan kapitalisme.

Hal yang membedakan tulisan ini dari perspektif beberapa filsuf di atas adalah pendekatan yang digunakan. Jika yang pertama menggunakan penalaran epistemologis filosofis maka status ini bertolak dari dimensi ontologi. Sederhananya begini: kalau kamu membayangkan cinta itu seperti rasa manis yang otomatis ada dalam gula, atau cinta itu berarti keharmonisan dan kerukunan, nah itu cara berpikir epistemologis. Ia membentuk sekaligus menciptakan batas-batas pengetahuan kita terhadap sesuatu.

Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Anda menemukan bahwa ternyatat cinta bukan hanya mengandung rasa manis tetapi juga rasa pahit bahkan tidak ada rasa sama sekali, atau atas nama cinta seorang suami menggorok leher istrinya, itulah ontologi. Ia melampaui definisi dan kategori epistemik yang ditetapkan oleh institusi dan aparatus sosial politik.

Meskipun demikian, tulisan ini berargumen bahwa sampai kapanpun kita tidak pernah benar-benar memahami apa itu cinta. Kita memahami cinta persis ketika ia diterjemahkan dalam perilaku hidup, sekaligus membuka kerentanan kita sebagai makhluk rapuh, yang mudah tersihir pesona keremang-remangan, yang gampang percaya pada kebohongan, dan pada titik itu, kita jadi ringkih.

Dalam cerita pendek yang ditulis oleh pengarang Amerika Raymod Carver berjudul, “What We Talk About When We Talk About Love” (1981), teman narator Mel McHinnis mengatakan hal penting sebelum saya berbicara panjang lebar tentang cinta:

Apa yang benar-benar kita ketahui tentang cinta…Seharusnya itu membuat kita merasa malu ketika kita berbicara seperti kita tahu apa yang kita bicarakan ketika kita berbicara tentang cinta

Seseorang tidak tahu apa yang dibicarakannya ketika berbicara tentang cinta. Meskipun demikian, seperti komunikasi harus gagal agar kita tetap terus berbicara satu sama lain, seseorang tidak akan pernah berhenti berbicara tentang cinta. Dan persis di situ, cinta mengaktifkan demokrasi. Disebut demikian karena politik demokrasi bukan hanya partisipasi dalam pengambilan keputusan, tetapi juga kapasitas masyarakat biasa untuk bertindak secara kolektif dalam menyusun kembali kehidupan bersama melalui ucapan dan tindakan bersama.

Namun, pada momen kontemporer, sangat mungkin untuk berbicara dan bertindak di tengah perbedaan dan ketidaksepakatan. Pembicaraan tentang “perang budaya”, “polarisasi”, “ketidaksopanan” dan berbagai jenis perilaku tak masuk akal adalah hal yang tidak bisa dihindari. Sebab, sumber kehidupan demokrasi adalah membangun hubungan dengan orang-orang yang tidak Anda setujui, atau yang tidak Anda sukai, atau bahkan yang Anda anggap mengancam.

Cinta Bukan Jaringan Pengaman


Psikoanalis Jacques Lacan dan filsuf Alain Badiou berkomitmen dengan hal yang sulit ini. Keduanya terlibat dengan masalah cinta sepanjang hidup dan karier intelektual mereka. Anda dapat membaca beberapa iklan di situs web kencan Prancis (www.meetic.fr) yang membuat filsuf Prancis Alain Badiou sangat marah.

Banner iklan yang berbunyi: “Cinta tanpa peluang” atau “Kita bisa terpikat tanpa jatuh cinta”, berupaya menawarkan cinta yang aman untuk Anda bahkan dapat menyewa pelatih cinta yang akan mempersiapkan dan membimbing Anda melalui petualangan yang aman. Iklan ini membahas cinta dari perspektif keamanan, dan mereka hampir seperti “asuransi cicilan mobil”. Ini adalah jenis propaganda tanpa korban.

Namun jika kita berpikir lebih mendalam, bagaimanapun juga, slogan di atas justru menelanjangi tipikal budaya kita saat ini yang memisahkan manusia dari fenomena sosial. Kita dibuat yakin bahwa ada kesenangan dan barang di satu sisi dan penderitaan serta akibat negatifnya ada di sisi yang lain. Kita lalu coba membangun zona aman dari “masyarakat bersisiko” versi Beck (1991).

Padahal, cinta merupakan sebuah komitmen lain yang membuka ruang kosong yang sebelumnya dipenuhi dengan hubungan, institusi, dan penilaian. Ruang itu penuh dengan pengalaman dasar kita sampai cinta memasuki dan melukai kita. Singkatnya, saat cinta masuk, semua kelengkapan itu lenyap tanpa jejak.

Anda tidak perlu menjadi profesor untuk tahu betapa meledaknya perpaduan antara keinginan dan cinta untuk orang lain. Pecinta sejati bercinta seolah-olah mereka termasuk dalam daftar spesies yang terancam punah. Cinta (eros) adalah kerinduan. Ini melahirkan desahan. Itu terbakar seperti bahan bakar di tungku. Cinta adalah kesedihan dengan sedikit sentuhan kegilaan.

Sayangnya, kita cenderung memahami cinta secara narsistik. Narsisme cinta diri seperti itu, ada di sekitar kita: kita membintangi selfie kita sendiri dan, dengan satu klik mouse, di sanalah kita, terunggah sepenuhnya, terlihat, terkenal, menjadi pusat daya tarik, dikelilingi oleh orang lain yang siap menjadi cermin tempat kita berkaca. Itulah sebabnya mengapa cinta diterjemahkan secara jelek berdasarkan gender, mengapa begitu banyak pria mengacaukan orgasme dengan cinta, dan mengapa, seperti dikatakan oleh salah seorang teman perempuan saya, pria jarang jatuh cinta karena terlalu banyak dari mereka yang tertidur lebih dulu.

Fakta bahwa cinta bukanlah cinta diri di atas membawa kita ke politik dan demokrasi. Dimulai dengan perjumpaan, cinta adalah interaksi yang penuh gairah dengan orang lain. Itu relasional, dan melekat dalam hubungan dan kemungkinan pemberdayaan timbal balik. 

Cinta adalah menempa kesepakatan, menyelesaikan perselisihan, secara adil, tanpa racun kebencian, atau manipulasi. Cinta bukanlah masalah bagi para profesional. Ini adalah seni praktis dalam memelihara kesetaraan dengan orang lain. Itulah dimensi politis cinta yang mestinya memperkaya demokrasi kita yang ringkih. Sebaliknya, para politisi kita jarang jatuh cinta karena terlalu banyak dari mereka yang tertidur lebih dahulu.
Yohanes W Hayon
Malas makan, rakus membaca, minder bertemu perempuan cantik, dan ingin menjadi dongeng

Baca Juga

Post a Comment

Buku Esai

Buku Esai
Klik gambar di atas