-->

Sumpah Pemuda: Menjadi Penulis Lingkungan


Menulis, menurut saya, adalah cara yang aneh untuk menanggapi krisis iklim. Tapi kemudian menulis adalah cara yang aneh untuk menanggapi apa pun

Beberapa dari tulisan yang paling indah dan paling berharga, disusun dalam menghadapi kekerasan dan ketidakadilan. Ketika saya membaca James Baldwin, John Berger, Naomi Klein, atau Arundhati Roy, saya memperoleh keyakinan bahwa perlu untuk menulis indah tentang hal-hal seperti itu, bahwa mereka adalah raison d' ĂȘtre untuk menulis itu sendiri. "Sebuah luka dibuat agar terdengar indah selamanya," tulis Geoffery O'Brien dalam Sonata for Jukebox (2004). Bahwa dalam dunia yang benar-benar adil orang tidak butuh penulis dan tidak perlu menulis. Mungkin itu sebabnya Plato membuang para penyair.

Namun, saat ini kita memasuki sebuah masa di mana komunikasi tidak hanya terjadi karena dua mulut saling nyerocos bersahut-sahutan. Hukum komunikasi konvensional yakni tersampaikannya pesan dari komunikator kepada resipien sudah tak lagi relevan. Mengutip Jacques Lacan, bagaimanapun juga komunikasi harus gagal. Itulah sebabnya kita terus berbicara satu dengan yang lain

Dengan kata lain, bagaimanapun juga, surga tak pernah ditakdirkan terjadi di bumi. Itulah sebabnya kehadiran penulis semakin penting dari masa sebelumnya.

Persis bertepatan dengan bulan Sumpah Pemuda, kita membutuhkan sosok penulis muda yang diciptakan dari tiga semangat fundamental yakni:

Pengakuan akan satu tanah air Indonesia, berbangsa satu yakni bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan

Tiga komitmen tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, hubungan penulis dengan tanah air Indonesia secara geografis. Tanah dan air bukan hanya sebagai parameter kedaulatan politik sebuah negara tetapi juga kedaulatan eksistensial semua makhluk hidup di darat, lautan, dan udara. Artinya, selain mengakui, penulis muda Indonesia mesti menjadi #MudaMudiBumi yang menjaga dan mempertahankan tanah air itu dari segala bentuk ancaman pengerusakan lingkungan. Di situ, muncul pertanyaan: Bagaimana menulis dapat membantu kita menanggapi darurat iklim?

Kedua, hubungan penulis dengan masyarakat sebagai sebuah bangsa. Sebagai bagian dari bangsa yang multikultural, penulis muda Indonesia mesti mengedepankan empati dan pengertian dalam setiap tulisannya. Di situ muncul pertanyaan: Bagaimana aktivitas membaca, menulis, dan diskusi dapat membantu memperdalam empati dan pemahaman berbagai suku bangsa terhadap alam dan mendorong kita semua untuk mengambil tindakan?

Ketiga, hubungan penulis dengan bahasa. Ini bagian paling fundamental karena mengukur kedalaman relasi seseorang dengan bahasa. Artinya, selain menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, penulis Indonesia perlu bertanya: Berhadapan dengan krisis lingkungan, apakah kita membutuhkan kata-kata yang berbeda untuk mengungkapkan kompleksitas, urgensi, dan ketidakpastian bersakala mendadak seperti itu, termasuk mencitakan kisah yang berbeda? Bisakah membaca dan menulis memperluas imajinasi kita sehingga kita dapat menciptakan cara baru untuk hidup, melibatkan komunitas yang terabaikan dan memperbaiki ketidakadilan lama?


Mengapa Penting?

Tiga komitmen di atas perlu dimiliki oleh penulis Indonesia, apalagi mereka yang fokus pada isu lingkungan hidup dan krisis iklim sangat sedikit jumlahnya. Terlepas dari debat soal kualitas dan kuantitas tulisan yang sudah dihasilkan belakangan dari berbagai genre, di bawah ini terdapat beberapa alasan mengapa kita perlu menciptakan sekaligus memiliki penulis lingkungan.


Pertama, Indonesia merupakan “Paru-Paru Dunia” yang sekarat. Berdasarkan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (BPS 2019), pada tahun 2018-2019, angka deforestasi Indonesia sebesar 426.258,1 hektare. Artinya, setelah pada tahun 2013 menempati peringkat ketiga negara dengan hutan terluas versi Forest Watch Indonesia (FWI), negara ini juga didaulat mengalami laju kerusakan hutan tercepat tahun-tahun berikutnya. Oleh karena itu, #UntukmuBumiku, saya bersumpah ketika menulis, akan lebih banyak membahas tentang isu lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Kedua, patut disadari bahwa perubahan iklim adalah bidang yang dianggap masih relatif baru karena rendahnya tingkat penerimaan masyarakat terhadap isu tersebut. Asumsi saya, itu terjadi karena sejauh ini manusia tidak pernah menghadapi dilema serumit pembakaran bahan bakar fosil, sebuah praktik yang telah mengangkat serentak menghancurkan manusia pada saat yang sama. Ini tantangan sekaligus #timeforActionIndonesia yang mesti digarap, terutama oleh penulis Indonesia hari ini.

Ketiga, untuk mengkampanyekan isu ini ke publik, kita butuh penulis iklim. Tanpa penulis jenis ini, keadaan kita akan jauh lebih buruk daripada situasi sekarang—yang saat ini pun sudah benar-benar buruk. Mengapa demikian? Ya, karena penulis iklim dapat berbicara dengan para ahli, ilmuwan, akademisi, eksekutif, dan pengusaha melalui tulisannya. Ini juga menunjukkan bahwa aksi perubahan iklim yang efektif itu harus saling terkait dan melibatkan banyak sektor. Dibahasakan secara sederhana, penulis iklim harus mampu menerjemahkan jargon, tabel dan grafik statistik, ekperimen saintifik yang sangat spesifik dan terkadang abstrak ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh publik tentang dampak politik, sosial, dan ekonomi yang luas dari perubahan iklim hari ini dan ke depan.

Keempat, perubahan iklim adalah perubahan tata bahasa alam, karena iklim itu sendiri adalah bahasa. Ketika sebuah bangunan runtuh atau matinya makhluk hidup, alam akan mengambilnya kembali dan ini menggambarkan kisah yang berbeda, bahwa bangunan dan makhluk hidup adalah spesies yang sementara sedangkan alam adalah hal yang permanen. Bahasa alam melalui badai, kebakaran hutan, dan pemanasan global memberikan kita informasi bahwa kita telah melakukan beberapa hal yang tidak selaras dengan masa depan spesies kita. Betapa celakanya bangsa ini jika kita memiliki penulis yang tidak peka pada bahasa alam.

Kelima, kebutuhan kita akan penulis lingkungan berbanding lurus dengan kebutuhan minat generasi muda hari ini. Berdasarkan NextGen Climate Survey, lebih dari 80% generasi Z terlibat dengan isu kesehatan planet. Informasi ini merupakan peluang yang mesti disikapi secara strategis dan taktis.

Peran Saya Ketika Menjadi Penulis Lingkungan


Berhadapan dengan urgensitas di atas, sebagai orang muda Indonesia, terdapat beberapa peran yang mesti saya lakukan ketika memutuskan menjadi penulis lingkungan, antara lain:

  1. Melawan problem disinformasi. Selain menyebarluaskan pengetahuan dan gagasan guna mengatasi rendahnya minat publik pada isu lingkungan, saya juga perlu melawan kesalahan informasi ilmu iklim yang disebarkan oleh perusahan atau korporasi besar seperti Exxon Mobil. Big Oil dan investornya telah menghabiskan 30 tahun terakhir memicu kampanye disinformasi tentang ilmu iklim, mempekerjakan orang untuk membela industri tempakau pada pertengahan abad ke-20 (lihat earthday.org). Atau dalam konteks Indonesia hari ini, disinformasi tentang projek food estate sebagai upaya meningkatkan produksi pangan dalam negeri justru melegalkan pengrusakan hutan berskala besar di Sumatera dan Papua.

  2. Membongkar struktur ideologi baik itu di dalam kapitalisme industrial yang mengandalkan fosil fuel maupun di dalam green capitalism. Memang, ideologi itu sulit dilihat karena kita hidup di dalamnya. Oleh karena itu, tulisan tentang perubahan iklim, seperti kebanyakan tulisan, berharga jika itu mampu memperlihatkan dimensi kekerasan dan ketidakadilan ideologi-ideologi tersebut dan, yang sama pentingnya, membayangkan kemungkinan masa depan radikal di luar ideologi tersebut. Gaya dan keindahan tulisan sebenarnya mungkin diperlukan untuk proyek semacam itu.

  3. Suka atau tidak suka, tidak sedikit penulis Indonesia masih bersifat individual. Kalau pun bergabung dalam sebuah komunitas, kancah itu hanya sebagai sebuah organisasi, bukan gerakan. Mengenai hal ini, saya patut mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak terkait yang sudah membentuk Eco Blogger Squad sebagai sebuah kancah diskusi dan bertemunya banyak penulis lingkungan dari berbagai latar belakang. Komunitas ini menjadi sangat penting hari ini dan di masa depan karena selain semua penulisnya fokus pada isu lingkungan, tapi juga fokus tulisan termasuk topik yang dibahas selalu proporsional dan bertujuan. Sependek pengamatan saya, belum ada komunitas semacam ini di Indonesia.

  4. Elitisme penulis. Disadari atau tidak, sebuah tulisan bukan dihasilkan oleh seorang penulis melainkan oleh konteks sosial politik tempat di mana tulisan itu dibuat. Kesadaran ini penting dalam rangka menghindarkan penulis dari kecenderungan elitis, yang menganggap diri lebih pintar dari pembaca, lebih suka menggurui tanpa terlebihdahulu memahami konteks pembaca, dan seterusnya.

  5. Pentingnya keterampilan dan kecerdasan digital. Tidak semua penulis dan pembaca melek dengan platform digital. Artinya, selain keterampilan digital, penulis lingkungan perlu cerdas memanfaatkan dunia digital baik sebagai sarana belajar maupun sarana penyebarluasan gagasan. Mengandalkan viralitas misalnya, membuktikan bahwa kita menyukai sebuah konten bukan karena sesuatu itu penting dan menarik tapi karena konten itu disukai orang banyak. Viralitas membuat kita kehilangan kemampuan menilai dan merasakan. Kita bersedih karena melihat orang lain bersedih, kita tertawa karena menyaksikan orang lain tertawa, dan seterusnya. Singkatnya, tanpa kecerdasan, kita kehilangan diri kita sendiri dan bergantung sepenuhnya pada selera massa. Memberikan pencerahan terhadap situasi semacam ini merupakan tugas etis seorang penulis.

Mekanisme Menulis tentang Lingkungan


Setelah mengetahui peran di atas, berikut ini adalah mekanisme yang perlu dilakukan ketika Saya dan Anda memutuskan menjadi penulis lingkungan atau sekurang-kurangnya menulis tentang lingkungan.



  1. Pikirkan tujuan menulis, apakah untuk memberikan informasi, menyebarluaskan gagasan, ataukah mendorong orang untuk mengambil sikap?

  2. Mengapa pembaca harus membaca tulisan Anda

  3. Ini dibuat dengan pertama-tama menganalisis audiens atau pembaca. Setelah menentukan segmentasi pembaca, jelaskan topik yang awalnya dianggap rumit dan abstrak dengan cara yang mudah dipahami dan gampang diakses. Orang-orang suka membaca cerita dan pengalaman manusia, karena memungkinkan kita untuk terhubung pada tingkat manusia-ke-manusia yang paling dasar — ​​jika orang merasa terhubung secara pribadi dengan sesuatu, mereka merasa lebih terinspirasi untuk mempertahankannya. Ketika itu terjadi, orang dapat mulai mengubah perilaku mereka sendiri, atau lebih baik lagi, mengambil tindakan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika Aristoteles, Filsuf Yunani Klasik menetapkan tiga pilar untuk memengaruhi orang (pembaca, audiens) yakni ethos (dipercaya), logos (logis), dan pathos (menarik emosi orang).

    Bandingkan penggalan pidato Greta Thunberg di World Economic Forum di Davos, Switzerland pada tahun 2019, berikut:


    Our house is on fire, I am here to say, our house is on fire(Pathos).

    According to the IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change)(Ethos), we are less than 12 years away from not being able to undo our mistakes — (Logos).

    Yes, we are failing, but there is still time to turn everything around — (Pathos). We can still fix this. We still have everything in our own hands. But unless we recognize the overall failures of our current systems, we most probably don’t stand a chance — (Ethos).

    Solving the climate crisis is the greatest and most complex challenge that Homo Sapiens have ever faced. The main solution, however, is so simple that even a small child can understand it. We have to stop our emission of greenhouse gases(Logos).

  4. Tekankan urgensinya tapi jangan mengulang pembahasan. Bersamaan dengan itu, kaitkan isu lingkungan dengan berbagai dimensi lain seperti pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, religi, dan seterusnya. Komparasi dan keterhubungan ini penting agar pembaca merasa terhubung dengan isu perubahan iklim secara pribadi. Misalnya, kaitkan juga dengan isu rawan pangan di bidang pertanian, atau bencana alam lain yang dapat pembaca identifikasi secara langsung hic et nunc (di sini dan sekarang).

  5. Lakukan riset. Salah satu bagian penting dalam tulisan adalah menujukkan fakta-fakta. Ketika menulis tentang perubahan iklim dan lingkungan, dukung argumentasimu dengan data-data dari organisasi internasional seperti IPCC, WWF, World Bank.

  6. Tambahkan perspektif tak terduga dalam tulisan. Mengapa? Karena tidak ada orang yang ingin membaca kebenaran umum dalam sebuah tulisan.

  7. Buat kesimpulan preskriptif, yang mendorong orang mengambil tindakan individual dan kolektif bahkan kelembagaan. Sebagaimana sebuah puisi tidak mampu melenyapkan semua jenis kejahatan dari muka bumi namun mampu mengubah cara berpikir dan bertindak seseorang, sebuah tulisan akan menjadi salah satu dari banyak hal yang kita perlukan untuk mengekang emisi gas rumah kaca, mendorong kita menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan, pada akhirnya, menyelamatkan umat manusia dan diri kita sendiri.