-->

Saatnya Merdeka Belajar Daring

Siswa-siswi belajar secara daring dibantu orangtuanya menggunakan fasilitas wifi gratis di Perumahan Depok Mulya 1, Depok, Jawa Barat, 4 Agustus 2020. Fasilitas wifi tersebut disediakan oleh warga yang peduli pendidikan dimasa pandemi Covid-19; sebagai bentuk kepedulian atas kesulitan biaya untuk kebutuhan belajar daring. Sumber foto: TEMPO/Amston Probel.


Aktivitas dalam jaringan (daring), diantaranya belajar daring, bukan sebuah istilah baru. Pada tahun 1988, John Walker mengusulkan sebuah proyek “Pintu masuk ke dalam cyberspace” dengan moto: reality is not enough anymore. Dengan kata lain, TV, komputer, dan internet telah mendorong orang mulai mempertimbangkan alternatif realitas lain di luar realitas kehidupan sehari-hari (Budiman, 2002). Dengan sedikit banyak sentuhan globalisasi yang memuncak pada pertengahan tahun 1990-an, sekejab saja semua negara di dunia sepakat menerjemahkan proyek itu ke dalam apa yang hari ini kita namakan revolusi industri. 

Akhirnya, bersamaan dengan hadirnya pandemi covid-19 sebagai momen percepatan digitalisasi, pembelajaran daring menjelma proses yang berkelanjutan, baik pada masa pandemi maupun paska pandemi.

Mengapa Penting?


Jamak diketahui bahwa pandemi membuat para siswa dan mahasiswa serta pengajar diajak untuk beradaptasi dan melakukan pembelajaran daring serba mendadak. Kemendesakan tersebut didukung oleh asumsi adanya peningkatan fenomena pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan kategori usia, BPS Proyeksi 2019 menyebutkan bahwa pengguna internet kelompok usia 0-4 tahun sebesar 8,23%, usia 5-9 sebesar 8,24%, usia 10-14 sebesar 8,31%, usia 20-34 sebesar 7,96%, usia 45-49 tahun sebesar 6,69%, dan usia 75 tahun ke atas sebesar 1,89%. 

Dibandingkan tahun sebelumnya, usia termuda dalam menggunakan internet adalah 10 tahun maka pada 2020 usia termuda adalah 2 tahun dan tentu saja ada kecenderungan usia pengguna internet semakin lama semakin muda


Tren semakin mudanya usia pengguna internet di atas merupakan blessing in disguise. Disebut berkat karena menggenapi prediksi Walker atau selaras dengan apa yang disebut oleh McLuhan sebagai “global village” dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man. Sementara itu, disebut kutukan atau bencana jika perubahan tersebut tidak diikuti dengan tata kelola kebijakan pendidikan yang adaptif dan strategis. 


Sebagaimana para ahli telah meramalkan pandemi virus selama bertahun-tahun, demikian pula para ahli lain telah meramalkan transfer ke pekerja dan belajar jarak jauh. Pada tahun 1973, seorang mantan insinyur NASA beranama Jack Nilles menulis sebuah buku berjudul, The Telecommunications-Transportation Tradeoff yang memperdebatkan pekerjaan jarak jauh sebagai cara untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Itu bukan buku terlaris. Tapi melalui buku itu, dimulailah projek pembubaran staf pada masa itu meskipun teknologi yang digunakan masih sederhana. Dua tahun berselang, barulah istilah “komputer pribadi” diciptakan dan persis dua dekade kemudian, komputer rumah dengan harga terjangkau, beredar masif di pasaran.

Ilustrasi oleh Blog Ata Diken



Urgensitas selanjutnya yang membuat mengapa topik ini penting dibicarakan yakni belajar daring menjadi prasyarat penting yang mesti dipenuhi oleh semua warga negara untuk bisa masuk ke dalam model ekonomi terkini yaitu sistem ekonomi yang berbasiskan pengetahuan. Dibahasakan secara berbeda, sistem ekonomi hari ini semakin berpijak pada produksi kecerdasan dan teknologi dan karena itu, agar tidak menjadi kumpulan orang yang irelevan, prasyarat di atas mesti dipenuhi. 

Persis di situ, mempertimbangkan bahwa keberlanjutan siswa ke universitas yang semakin menekankan pembelajaran daring, konsekuensi logis yang muncul adalah bahwa belajar daring di jenjang pendidikan menengah mesti dibiasakan dan disesuaikan dengan minat studi atau demi perluasan pengetahuan umum. 

Memang, saat ini negara sedang mengembangkan kebijakan dan program belajar digital yang semakin terpadu. Namun, para guru dan siswa harus segera membiasakan diri dalam proses belajar daring tanpa harus menunggu terlebihdahulu penerapan legal kebijakan dan program tersebut dari pemerintah. Mengapa demikian? Ya, karena jika tidak maka kekhawatiran beberapa teoretikus, sebagaimana dikutip World Economic Forum (The Future of Jobs, 4 Januari 2017) dapat menjadi kenyataan. Mereka berargumen dengan nada pesimis bahwa 65% anak yang memasuki PAUD akan memiliki pekerjaan yang belum ada saat ini dan karena itu pendidikan mereka akan gagal mempersiapkan mereka, memperburuk jurang skill dan ketidakprofesionalan di masa depan. Beberapa teoretisi lain bahkan menambahkan, sistem pelatihan tenaga kerja saat ini tidak mampu mendukung proses belajar sekitar 3 miliar orang. 

Itu berarti pendidikan hendaknya selalu memperbaharui sistemnya terutama muatan kurikulumnya agar mampu beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan zaman. Para orang tua dan pendidik misalnya, hendaknya punya wawasan yang cukup tentang bagaimana memperluas wahana bermain anak termasuk permainan edukatif yang ditawarkan oleh teknologi digital. 

Untuk jenjang PAUD misalnya, saya coba sebut beberapa diantaranya: Paket Belajar Lengkap TK & PAUD untuk anak usia 12 tahun ke bawah (download di sini), Paket Belajar Lengkap Anak PAUD TK dengan 2 bahasa berisi materi yang mengenalkan anak pada huruf, angka, belajar menulis, mengenal warna, mengenal nama buah-buahan, nama hewan, dan berbagai games interaktif lainnya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (download di sini). Terdapat juga 20 channel youtube anak yang edukatif dan interaktif yang bisa menjadi referensi tambahan (download di sini).

Implementasi pembelajaran daring di atas tentu saja dapat dilaksanakan jika prasayarat dan tantangan berikut ini dapat dipenuhi sekaligus diatasi, antara lain:

  1. Keterampilan teknis digital. Ini berhubungan dengan bagaimana semua pihak terkait tahu mengoperasikan perangkat digital termasuk aplikasi daring yang dibutuhkan dalam proses belajar. 

  2. Keterampilan substansial. Ini menyasar tentang bagaimana para siswa dan guru belajar dan berkolaborasi baik dalam hal mendiskusikan maupun menciptakan konten yang edukatif. 

  3. Rendahnya dua jenis keterampilan di atas diperparah juga dengan masih terbatasnya inovasi kebijakan sekolah yang mampu memfasilitasi pembelajaran guru, masih kurang kepeloporan, dan perintis di kalangan para guru. Akibatnya, ada kecenderungan ke model belajar lama di mana para guru fokus ke mata pelajarannya masing-masing. Apalagi, hingga saat ini masih ada label sekolah unggulan tidak unggulan dan metode perangkingan yang membuat guru dan siswa tidak percaya diri, dan seterusnya.

  4. Tantangan Bahasa Inggris. Ini merupakan problem klasik yang sebenarnya menjadi soal yang serius untuk ditanggapi. Disebut demikian karena Bahasa Inggris bukan hanya sebatas mata pelajaran tetapi mesti menjadi kunci percepatan pembelajaran digital hari ini mengingat tidak sedikit konten bermutu justru dibuat dalam Bahasa Inggris.

Ilustrasi oleh Blog Ata Diken

Apa yang Harus Dilakukan


Berhadapan dengan peluang dan tantangan di atas, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain:

Pertama, penerapan keterampilan digital untuk sekolah, guru, dan siswa/mahasiswa. 

Setiap sekolah harus punya inovasi penguatan kapasitas guru dalam berliterasi digital. Wujudnya program sekolah dan forum guru pelopor. Rendahnya literasi digital tampak misalnya dalam survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa 196,71 juta dari 266.91 (73,7%) juta masyarakat Indonesia menggunakan internet pada tahun 2020. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yakni dari 246,16 juta penduduk Indonesia, sebanyak 171,17 juta (64,8%) menggunakan internet. 

Sementara itu, mengutip laporan bertajuk “Digital 2021” dari HootSuite yang diberitakan Kompas.com, dari total 274,9 juta jiwa, pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 15,5 persen atau 27 juta jiwa jika dibandingkan pada Januari 2020 lalu 

Meskipun demikian, dari data yang sama, ketika diminta menyebutkan konten pendidikan yang sering dikunjungi, dari total 7.000 sampel dengan rentang survei 2-25 Juni 2020 yang diadakan oleh APJII, hanya sebanyak 13,1% menjawab website sekolah dan mengejutkan bahwa sebesar 52,8 mejawab tidak pernah berkunjung sama sekali. Sementara itu, orientasi terbesar penggunaan internet yakni sebanyak 23,3% mengakses internet untuk mendapatkan informasi pekerjaan dan 19,0 untuk hiburan.

Kedua, para guru perlu memberikan penugasan reguler kepada siswa, mengurangi kecanduan siswa pada konten yang tidak edukatif. Fenomena kecanduan tersebut bukanlah hal sepele. Dibutuhkan kecerdasan digital, alih-alih keterampilan digital semata. 

Keterampilan bisa dipelajari namun menggunakan keterampilan tersebut secara bijak merupakan hal yang lain. Dibahasakan secara berbeda, pengetahuan tentang digital tidak berjalan sejajar dengan pengalaman pribadi seseorang menggunakan teknologi digital. Satu contoh yang bagus berasal dari India, di mana National Association of Software dan Service Companies (NASSCOM) bekerja sama dengan NGO dan Pemerintah India membangun Literasi Digital Nasional di seluruh pelosok India (How Do We Make Sure Our Children Are Fluent in Digital? 4 Januari 2017). Terobosan itu dilakukan mengingat tanpa adanya literasi digital, masyarakat diprediksi akan sulit beradaptasi dengan bentuk-bentuk dunia masa mendatang entah itu sistem ekonomi politik, pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan, kesehatan, dan pertahanan keamanan.

Baca juga: Mempersiapkan Generasi Bijak Digital

Ketiga, para siswa hendaknya didorong untuk belajar bahasa Inggris secara mandiri baik itu di sekolah maupun didukung juga dengan insentif yang ada di rumah dan lingkungan bermain. Pentingnya insentif dari lingkungan belajar di luar sekolah karena menggantungkan proses pembelajaran hanya secara daring justru akan memperburuk hakikat dan fundamen pembelajaran. Hal ini juga dilukiskan dalam kolom New York Times, So You Think New York Is ‘Dead’, di mana komedian Jerry Seinfeld mempermasalahkan gagasan bekerja dan belajar jarak jauh: 

Semua orang tidak suka melakukan ini. Semua orang. Benci. Anda tahu mengapa? Tidak ada negeri. Energi, sikap, dan kepribadian tidak dapat dihubungkan bahkan melalui jalur serat optik terbaik 

Seinfeld benar tentang energi itu. Itu adalah sumer kehidupan dari kutipan-kutipan hebat yang ada di dunia ini. Itulah kenapa bekerja dan belajar dari jauh membuat orang stress karena orang-orang tidak akan melihat guru atau pemimpin kantornya tersenyum pada mereka di lift, atau bertukar tegur di kantin kampus ketika membeli kopi.

Terlepas dari kontroversi mengenai dampai positif dan negatif dari proses belajar daring, artikel ini kembali menegaskan tentang kemendesakan penerapan proses belajar daring berdasarkan inisiatif institusi pendidikan dan para pendidik atau kolaborasi antara kancah pendidikan dan lingkungan masyarakat tanpa harus menunggu terlebihdahulu penerapan kebiajakan legal dari negara. Kemendesakan dan urgensitas tersebut selaras dengan mode perkembangan sistem ekonomi dan politik hari ini. Alih-alih menolak secara total perubahan tersebut, dibutuhkan aksi serba taktis dalam rangka menghindarkan generasi muda Indonesia dari kemungkinan menjadi class of irelevance, sebuah kelompok masyarakat yang tidak relevan atau tidak berguna di hadapan perubahan sistem yang berlangsung begitu cepat.

#LombaBlogUnpar
#BlogUnparBelajarDaring