-->

Kanker Payudara dan Masa Depan (Perempuan) Indonesia*



Suka atau tidak suka, masa depan bangsa Indonesia sangat bergantung dari kehidupan kaum perempuan. Dikatakan demikian karena perempuan adalah pelahir generasi masa depan bangsa. Jika perempuan hari ini sehat dan cerdas maka generasi yang akan datang tentu sehat dan cerdas. Penalaran ini merupakan hubungan sebab akibat atau kausalitas yang paling sederhana, apalagi jika kita meletakkan kesehatan kaum perempuan sebagai sebuah topik yang patut didiskusikan secara serius.

Persis di tengah gempuran pandemi covid-19 hari ini, ketika perhatian publik mendadak diarahkan pada institusi kesehatan, kanker payudara tidak bisa dianggap sebagai masalah remeh. Terdapat komplikasi soal dan isu yang membuat kanker payudara menjadi bukan hanya masalah kesehatan tapi juga masalah politik. 

Oleh karena itu, tulisan ini akan menjelaskan apa saja risiko-risiko kesehatan dan risiko-risiko politik yang mesti dihadapi oleh para penderita kanker payudara, terutama kaum perempuan


Dalam rangka menjawabi tujuan di atas, bangunan tulisan ini terdiri atas tiga bagian utama: 
Pertama, mengapa penting; membahas tentang mengapa topik ini penting. Kedua, jenis-jenis kanker payudara. Ketiga, apa yang harus dilakukan; yaitu mencakup bagaimana mencegah dan mengobati kanker payudara. 

Dari kategorisasi soal tersebut, tulisan ini berargumen: 
    • Pertama, perlu adanya perbaikan tata kelola kesehatan. Ini termasuk penanganan dan pencegahan kanker payudara melalui intervensi institusi kesehatan. 
    • Kedua, perbaikan pola hidup yang menuntut para penderita kanker perlu menerapkan pola hidup sehat. 
    • Ketiga, dukungan sosial yang meliputi insentif sosial dari masyarakat terhadap para penderita kanker termasuk menghindarkan mereka dari stigma sosial tertentu.

Mengapa Penting?


Signifikansi topik ini terletak pada bagaimana cara kita merumuskan kanker payudara sebagai masalah kesehatan sekalius masalah politik. Sebagai masalah kesehatan, fokus kita diarahkan pada perbaikan tata kelola kesehatan dalam mencegah dan mengobati kanker. Sementara sebagai masalah politik, fokus kita diarahkan pada bagaimana faktor sosial, kebudayaan, dan religiositas dapat menjadi faktor pendukung proses pencegahan dan penyembuhan kanker payudara.

Di bawah ini terdapat beberapa alasan mengapa topik ini penting antara lain:

Pertama, perempuan adalah masa depan bangsa Indonesia
Perempuan yang sehat dan cerdas sudah tentu akan melahirkan generasi yang sehat dan cerdas pula. Sayangnya, risiko terbesar dari kanker payudara adalah menjadi perempuan dan menginjak usia tua. Berdasarkan data Global Burden Cancer (Globocan) International Agency for Research on Cancer (IARC) pada 2020, kanker payudara di Indonesia merupakan kanker paling banyak pada perempuan dengan proporsi 16% dari total kasus kanker, terdapat 65.858 kasus baru dan 22.430 kematian pada tahun 2020; dan menempati posisi pertama dengan jumlah kematian tertinggi (Lihat databooks.katadata.co.id).


Semua itu berarti apa yang kita butuhkan adalah menjaga kesehatan payudara kita, terlepas dari apa pun sejarah keturunan keluarga kita. Apalagi, semakin tua usia seorang perempuan, ia semakin berisiko terkena kanker payudara dan pada perempuan risiko ini lebih banyak daripada pria. Pria kurang dari 5 persen angka kejadian kanker payudara.

Kedua, deteksi dini dan treatment yang lemah
Banyak orang bertahan melewati kanker payudara karena mereka mendeteksi kanker lebih awal dan mendapatkan treatment secara efektif. Sayangnya, kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Cut Putri Ariane, pada umumnya 70 persen pasien kanker baru berkunjung ke fasilitas kesehatan pada saat stadium akhir (lihat Antaranews.com, 4 Februari 2021). Itu berarti ada yang lemah di sisi deteksi dini. Padahal, ada tiga cara di mana kita dapat meningkatkan kesempatan kita menemukan kanker secara lebih dini antara lain: tahu risiko kita, tahu kondisi normal kita dan melakukan screening secara berkala. 

Ketiga, rendahnya pemahaman tentang faktor keturuan dan sejarah keluarga

Kebanyakan perempuan penderita kanker tidak tahu sejarah keluarga yang bercerita banyak tentang mutasi gen 

Faktor keturunan dan mutasi gen dapat meningkatkan risiko kanker payudara, tetapi itu hanyalah salah satu dari sekian banyak penyebab lain. Dengan kata lain, jika ada kerabat dekat yang menderita kanker payudara, seseorang itu juga berisiko terkena penyakit serupa. Meskipun demikian, perempuan dengan sejarah kanker payudara, ovarium, dan pankreas mungkin meningkatkan risiko, khususnya perempuan dengan anggota keluarga yang didiagnosa sebelum umur 50 tahun. 

Memang, kita tidak dapat mengubah sejarah hidup keluarga mereka. Namun bagaimanapun juga, mereka hendaknya berusaha mengetahui sejarah hidup keluarga dan berbicara dengan penyedia kesehatan mereka tentang apakah mereka perlu mengubah rencana screening mereka atau mencari evaluasi dengan penyedia genetik yang terpercaya untuk tes gen yang memungkinkan.

Hubungan antara faktor keturunan dan kanker payudara ditunjukkan oleh beberapa penelitian diantaranya Azmi, dkk (2020) di RSUD Abdoel Moeloek menunjukkan bahwa distribusi riwayat herediter pada pasien kanker payudara terbanyak dengan riwayat keluarga kanker payudara sebesar 61,0%. 

Hal yang sama juga ditunjukkan dalam penelitian Schacht, dkk (2014) terhadap 97 pasien. Dengan melakukan screening MRI, ditemukan bahwa risiko absolut pasien dengan keturuanan kanker sebesar 2.0% dan risiko relatif bagi deteksi kanker payudara berdasarkan sejarah personal yakni 1.42 dibanding dengan sejarah keluarga. Penelitian ini menyimpulkan pentingnya sejarah personal berhubungan dengan kanker payudara merupakan faktor risiko penting bagi pengembangan bagi kanker payudara berikutnya.

Jenis-Jenis Kanker Payudara


Bagian ini coba membahas tentang jenis-jenis kanker payudara dan problem yang mesti dihadapi oleh pasien. Mengenai jenis-jenis kanker payudara, Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya, yang merupakan tempat pelayanan kanker terpadu dan terintegrasi di bawah naungan RS Adi Husada Undaan Wetan menjelaskan beberapa jenis kanker payudara yang harus diketahui antara lain (lihat ngopibareng.id):
    • karsinoma Dukai In Situ. Kanker ini merupakan kanker payudara dini, di mana sel kanker ditemukan dalam saluran tabung kecil yang membawa susu ke putting. Sel kanker ini menyebar melalui saluran ke jaringan payudara terdekat. Ini termasuk jenis kanker yang bisa disembuhkan.
    • Karsinoma Lobular In Situ. Kondisi non kanker di mana masalah timbul di kelenjar yang menghasilkan susu, tetapi tidak tumbuh melalui dinding kelenjar. Jika tidak mendapat perawatan akan berujung kanker.
    • Karsinoma Duktai Invasif. Kanker payudara yang paling umum. Dimulai di saluran susu payudara dan tumbuh melalui dinding saluran ke jaringan payudara terdekat. Berpotensi menyebar ke organ tubuh lainnya.
    • Karsinoma Lobular Invansif. Kanker payudara yang dimulai dari kelenjar susu. Jenis kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Apa yang Harus Dilakukan?


Ada dua hal yang perlu kita lakukan berhadapan dengan masalah ini yakni mengupayakan tindakan preventif atau pencegahan di satu sisi dan tindakan kuratif di lain sisi. Tentu saja, tindakan pencegahan dan pengobatan yang dibahas di sini bukan hanya melulu intervensi medis melainkan juga disertai dengan dukungan sosial.

1. Tindakan preventif

Pertama, Mengetahui dan Mengenal Gejala


Mengutip laman Adi Husada Cancer Center (AHCC), tanda peringatan kanker payudara dapat diidentifikasi melalui:
    • benjolan tanpa rasa sakit di payudara
    • gatal-gatal terus menerus di sekitar putting
    • pendarahan atau lendir yang tidak biasa dari putting
    • kulit di atas payudara membengkak dan menebal
    • putting masuk atau tertarik kembali

Kedua, Diagnosa dan Penilaian.
Mengutip dari AHCC, diagnosa dan treatment dapat dilakukan dengan cara:
    • Pemeriksaan Klinis – Terutama jika benjolan, puting susu atau perubahan payudara yang tidak biasa terdeteksi.
    • Mammogram – Ini dapat mendeteksi perubahan seperti kepadatan abnormal atau deposit kalsium.
    • Pemindaian Ultrasound – Ini digunakan untuk menargetkan area perhatian khusus yang ditemukan pada mammogram atau dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan yang tidak terlihat pada mammogram. Pemindaian ultrasound dapat membedakan antara massa padat, yang mungkin merupakan kanker, dan kista berisi cairan, yang biasanya bukan kanker.
    • Magnetic Resonance Imaging, MRI – Dalam beberapa kasus, pasien mencari pemindaian MRI untuk lebih baik atau memeriksa area yang mencurigakan. Ini sangat berguna bagi wanita muda karena wanita muda memiliki kepadatan jaringan payudara dan tes konvensional seperti mammogram atau ultrasound kurang sensitif dan spesifik untuk mendeteksi kanker payudara.

Ketiga, Melakukan SADARI dan SADANIS

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kanker payudara adalah dengan melakukan pencegahan primer seperti pengendalian faktor risiko dan peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi. Sementara itu, pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini kanker payudara yaitu pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS). 

 Dalam buku mereka berjudul "Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan" (2012), Kumalasari dan Andhyantoro menjelaskan bahwa SADARI merupakan metode pemeriksaan sederhana dan paling mudah yang dapat dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan. Tujuannya melihat perubahan bentuk payudara dan palpasi melalui perabaan guna mendeteksi adanya massa. 

Penting untuk dicatat bahwa hampir 85% kelainan pada payudara ditemukan pertama kali oleh penderita melalui penerapan SADARI yang benar

Itu berarti, peningkatkan pengetahuan remaja tentang SADARI sedini mungkin dapat membawa pengaruh baik bagi remaja hingga menjadi wanita dewasa nanti (Lestari, Laksmi & Sintari, 2019). Mengenai hal ini, sebuah penelitian terhadap ibu-ibu di Kelurahan Cipayung, Kota Depok merupakan sampel penting. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa semua peserta tidak pernah mendapat edukasi tentang SADARI sebelumnya, bahkan 95% dari 32 peserta baru pertama kali mendengar tentang SADARI (Pulungan & Hardy, 2020).

Penelitian yang sama juga dilakukan di Kelurahan Sidotopo Kecamatan Wetan Kanjeran Surabaya terhadap ibu rumah tangga berusia 40-50 tahun. Meskipun mayoritas ibu ruma tangga di daerah tersebut menunjukkan sikap dan dukungan yang baik terhadap SADARI dan SADANIS, penelitian itu menunjukkan bahwa dukungan untuk melakukan SADARI dan SADANIS tidak didapat dari penyedia layanan kesehatan (Arafah & Notobroto, 2017, halaman 152).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan perilaku SADARI dan SADANIS sangat bergantung pada sikap, aksesibilitas informasi, dan dukungan penyedia layanan kesehatan 

Oleh karena itu, kerja sama lintas sektoral sangat dibutuhkan dalam rangka mengkampanyekan hal tersebut di atas.


2. Tindakan kuratif atau pengobatan

Mengutip laman AHCC, tindakan kuratif dapat dilakukan dengan melakukan beberapa hal antara lain:

Pertama, Operasi. Sebagian besar menjalani operasi untuk mengangkat kanker. Bentuk operasi meliputi:  
    • Operasi pembedahan payudara yang terdiri atas dua kategori yakni Lumpectomy atau Wide Local Excision – pengangkatan kanker dan sejumlah kecil jaringan di sekitarnya; dan Quadrantectomy – pengangkatan jaringan di sekitarnya lebih banyak daripada lumpektomi. Untuk kuadektomi, seperempat payudara dikeluarkan. 
    • Mastektomi – pengangkatan seluruh payudara. Selama kedua operasi payudara di atas, beberapa kelenjar getah bening di bawah ketiak yang sama juga akan dikeluarkan untuk pemeriksaan.

Kedua, Rehabilitasi fisik dan mental. Rehabilitasi fisik meliputi:
    • Latihan bahu setelah operasi
    • Pelindung lengan untuk menghindari lymphoedema
    • Nutrisi Seimbang dan adaptasi gaya hidup untuk meningkatkan pemulihan.
Sementara itu, rehabilitasi mental terdiri atas:
    • Dukungan erat dari pasangan, keluarga, teman & kelompok pendukung
    • Seorang wanita mungkin merasa yakin dengan mengetahui peluangnya untuk bertahan hidup
    • Menghadiri ulasan dokter secara teratur.

KetigaRadioterapi
Radioterapi dilakukan dengan menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menargetkan dan membunuh sel kanker yang mungkin tertinggal di dalam atau sekitar payudara. Teknik ini sangat penting setelah operasi pembesaran payudara seperti lumpektomi, karena sebagian besar jaringan payudara tertinggal utuh sekaligus menurunkan kemungkinan kanker kembali di payudara.

    • Kemoterapi
    • Terapi Hormonal
    • Trastuzumab

Kelima, Perbaikan Nutrisi. Meskipun ada penyebab yang tidak dapat dihindari, sebagian besar faktor penyebab kanker payudara dapat dihindari. Dibahasakan secara berbeda, untuk mencegah kanker, status nutrisi dan pola makan berperan penting. Itu berarti, edukasi yang tepat sejak terdiagnosis kanker, termasuk dalam hal nutrisi, dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. 

Pasien perlu menjaga asupan nutrisi padat kalori, modifikasi makanan enteral standar dan modifikasi dengan nutrisi spesifik yaitu omega 3 dan asam amino spesifik. Terapi nutrisi pada pasien kanker semacam ini bertujuan mempertahankan status nutrisi untuk menekan risiko timbulnya komorbid.

Keenam, Dukungan sosial. Selain perbaikan pola makan dan nutrisi, faktor-faktor yang memengaruhi secara signifikan terhadap optimisme kesembuhan responden adalah dukungan sosial dan stress. Penelitian yang dilakukan oleh Wardiyah, Afiyanti, dan Budiati (2014) menunjukkan bahwa ketika individu memiliki optimisme untuk sembuh maka individu akan memiliki kesehatan psikologis, sehingga tetap berusaha untuk melakukan hal-hal untuk mencapai kesembuhan, tidak putus asa, serta memiliki kepastian untuk memandang masa depan.

Adapun faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi optimisme pada subjek yaitu faktor kemampuan koping untuk mengatasi persoalan yang terjadi sepanjang pengobatan mereka, faktor dukungan sosial, faktor status sosial, faktor status kesehatan, faktor spiritualitas, dan motivasi dalam diri (Sherly & Yunita, 2021). Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu fokus pada intervensi keperawatan yang digunakan untuk meningkatkan dukungan sosial pada pasien kanker payudara.

Ketujuh, berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi dapat dilakukan baik pada tahap deteksi dini maupun dalam tahap pengobatan.

Oleh sebab itu, penting bagi negara untuk menyediakan kelengkapan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah termasuk petugas kesehatan yang terlatih dan kompeten (seperti bidan desa), puskesmas dan puskesmas pembantu, dokter, bidan praktek mandiri, rumah sakit, dan rumah sakit bersalin


*Artikel ini merupakan salah satu dari lima tulisan terpilih juri kompetisi. Selengkapnya bisa dibaca di sini.