-->

Bumi Makin Panas, Kita Butuh Komunikator Iklim


Pemanasan global atau global warming sebagai isu yang serius bukan merupakan topik tunggal melainkan berkaitan dengan sejumlah isu lingkungan. Sebagai isu berskala global, pemanasan global sudah menjadi satu wacana topikal di seluruh dunia. Ini adalah perhatian utama para ahli biologi dan lingkungan saat ini, karena dampak yang ditimbulkan umat manusia di planet ini ternyata sangat serius dan tidak dapat diubah. Tantangan para pemerhati lingkungan dan aktivis lingkungan saat ini bukan hanya untuk menemukan cara dan teknologi yang dapat mengurangi proses dan konsekuensi dari pemanasan global, tetapi juga melibatkan sebanyak mungkin orang dalam mengupayakan perubahan gaya hidup ramah lingkungan.

Di level internasional, sejak awal pandemi virus corona, para politisi berkumpul untuk kebaikan bersama melindungi umat manusia; ini menunjukkan bahwa terdapat inisiatif baik dari para pemimpin global untuk menempatkan umat manusia di atas ekonomi (BBC, 5 Mei 2020), terlepas dari pengawalan gerakan kritis dari berbagai negara terhadap agenda perubahan semacam itu. Sementara itu, salah satu iven terbesar berkaitan dengan perubahan iklim adalah United Nation Framework Convention on Climate Change. Negara-negara yang meratifikasi Konvensi ini, Protokol Kyoto dan Perjanjian Paris berkumpul setiap tahun untuk melakukan negosiasi.

Belakangan ini, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan dunia tentang kemungkinan peningkatan suhu rata-rata di seluruh dunia sebesar 1,5°C atau 2°C, yang akan menyebabkan konsekuensi dramatis. PCC adalah lembaga paling dihormati di dunia yang mempelajari perubahan iklim. Didirikan pada tahun 1988 oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

Meskipun laporan tersebut membahas skenario kenaikan suhu sebesar 1,5°C atau 2°C, kecenderungan emisi gas rumah kaca saat ini akan membawa planet ini ke pemanasan global sebesar 3 hingga 3,5°C dengan efek yang jauh lebih drastis daripada yang dijelaskan dalam Laporan Khusus IPCC. Laporan ini menunjukkan perbedaan konsekuensi hingga setengah derajat, sementara peningkatan suhu global dapat mencapai beberapa derajat. Namun, bahkan peningkatan lebih dari 1,5°C akan memiliki konsekuensi serius.

Jika pemanasan global melebihi 1,5°C, maka akan menyebabkan perubahan yang tidak dapat diubah lagi pada biosfer, hidrosfer, dan bahkan kehidupan sosial umat manusia. Suhu rata-rata tahunan di sebagian besar wilayah dunia dan suhu puncak di wilayah terpadat di dunia akan meningkat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Akibatnya, pada tahun 2100, permukaan laut global akan naik 10 sentimeter dan lapisan es Kutub Utara akan hilang sepenuhnya pada periode musim panas sekali dalam satu dekade, dibandingkan hanya sekali dalam satu abad, dengan skenario tidak lebih dari 1,5°C. Adapun dampaknya terhadap flora dan fauna, area tempat tinggal dan reproduksi akan dibagi dua untuk 18% serangga, 8% vertebrata, dan 16% tumbuhan.

Generasi Muda dan Perubahan Iklim


Tepat di situ, Eco Blogger Squad, didukung oleh Blogger Perempuan Network dan berbagai LSM terkait mengadakan online gathering setiap bulan pada tahun 2021. Pertemuan kali ini diadakan pada tanggal 15 Oktober 2021 dengan tema “Bumi Semakin Panas, Kode Merah untuk Kemanusiaan”. Hadir sebagai narsumber mbak Anggalia Putri Permatasari atau biasa disapa mbak Anggi dari Yayasan Madani Berkelanjutan.

Pertemuan itu diawali dengan ajakan untuk mengisi kuisoner singkat tentang apa yang peserta rasakan dalam asa pandemic. Seperti yang bisa ditebak, ada beragam respon. 
Respon yang sama juga ditemukan ketika Nature.com mengadakan survei terhadap anak-anak dan orang muda (16-25 tahun) berhadapan dengan perubahan iklim. Respon dominan yakni perubahan iklim menyebabkan mereka takut, marah, dan emosi negatif lainnya. 
Fenomena kerentanan generasi muda terhadap perubahan iklim juga ditunjukkan oleh NexGen Climate Survey yang melaporkan bawha lebih dari 80% generasi Z terlibat dengan isu kesehatan planet.


Ini tantangan sekaligus peluang yang mesti digarap secara serius di Indonesia. Namun, mempertimbangkan betapa variatifnya karakteristik masyarakat kita, bagaimana pun juga bangsa ini membutuhkan komunikator iklim yang cerdas dan negosiatif dalam menginformasikan dan mengubah cara berpikir dan bertindak masyarakat agar lebih ramah lingkungan. Mengenai hal ini saya bahas di tulisan saya tentang peran seorang penulis lingkungan, berjudul “Sumpah Pemuda: Menjadi Penulis Lingkungan”.

Apa Saja Peran Komunikator Lingkungan?


Jika komukator lingkungan berperan penting dalam mengubah cara berpikir dan perilaku manusia, lalu apa saja yang mesti dilakukan?
 

Pertama, sudah banyak disebutkan bahwa untuk mengurangi pemanasan global dapat kita lakukan dengan mengurangi kontribusi gas rumah kaca ke atmosfer. Oleh karena itu, komunikator iklim mesti giat dalam mengampanyekan bahwa solusi yang dapat kita lakukan untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan mengurangi bensin, listrik dan aktivitas kita yang menyebabkan pemanasan global.

Dalam rangka mendukung ideal di atas, komunikator iklim perlu mendesak pemerintah untuk memproduksi mobil hybrid yang hemat bensin di satu sisi dan bernegosiasi dengan pemerintah agar mengeluarkan kebijakan transportasi umum. Disebut demikian karena cara lain untuk mengurangi bensin adalah naik angkutan umum ke tempat kerja. Ini dapat membantu mengurangi karbon dioksida dan menghemat biaya.

Sementara itu, kepada publik, komunitaor iklim perlu mengampanyekan agar masyarakat banyak bijak dalam memilih sarana transportasi. Pilih untuk berjalan atau bersepeda kapan pun pilihan muncul. Jika berjalan kaki atau bersepeda bukan merupakan pilihan, gunakan kendaraan listrik atau hibrida yang mengeluarkan lebih sedikit gas berbahaya.

Kedua, cara lain untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan mendaur ulang. Daur ulang dapat mengurangi sampah dengan menggunakan kembali kantong plastik, botol, kertas atau kaca. Misalnya, saat kita membeli makanan, kita bisa menggunakan wadah sendiri sebagai pengganti kantong plastik. Contoh lainnya adalah setelah selesai meminum air dari botol; kita dapat menggunakannya kembali atau menggunakan botol kita sendiri. Jika semua ini digunakan kembali, manusia dapat mengurangi deforestasi dan membantu menyelamatkan lingkungan. Selain itu, matikan listrik jika tidak digunakan. Dapat menghemat ribuan karbon dioksida dan membeli produk yang hemat energi karena menghemat biaya dan menyelamatkan lingkungan.

Ketiga, intervensi kebijakan politik yang selama ini justru membawa dampak buruk antara lain kebakaran hutan dan rusaknya lahan gambut.

Keempat, utamakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan iklim yakni masyarakat kelas bawah. Mengapa? Ya karena mereka merupkan kelompok masyarakat paling pertama yang merasakan dampak buruk dari pemanasan global tersebut.

Kelima, buat suara Anda didengar. Masa depan planet kita tetap di tangan kita, jadi sebaiknya kita menggunakan suara kita untuk masa depan kita semua. Media sosial berfungsi sebagai platform yang bagus untuk ini. Selain itu, menggunakan media sosial untuk berbagi petunjuk bermanfaat untuk memerangi perubahan iklim dalam komunitas Anda atau untuk mempromosikan protes yang akan datang terbukti bermanfaat dalam jangka panjang. Jika kita bersama-sama menggunakan suara kita dengan baik, bersama-sama kita dapat mengadvokasi perubahan.

Keenam
, ubah komunikasi dan pendekatan kampanye isu lingkungan sesuai dengan bahasa dan cara masyarakat memahami isu tersebut. Sebagai seorang penulis dari NTT misalnya, saya mestinya mempelajarinya dan memahami dampak perubahan iklim dan memikirkan bagaimana caranya agar urgensitas tersebut mudah dipahami oleh masyarakat di mana saya berada. 

Artinya, saya perlu melibatkan banyak pihak diantaranya institusi agama dan adat. Agama berperan penting dalam rangka mengubah kesadaran dan perilaku umat melalui intervensi teologi hijau. Sementara itu, institusi adat berperan penting dalam rangka menghidupkan kembali kearifan lokal yang mengedepankan cara hidup ramah lingkungan.