Part of

AD
Apa hubungan antara kebakaran hutan dan pandemi? Bagaimana hendaknya kita merespon kebakaran hutan dalam kaitannya dengan kesadaran kita akan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan?


Artikel di bawah ini coba menjawab pertanyaan di atas dengan mengambil beberapa pokok pikiran dari hasil diskusi bersama teman-teman Eco Blogger Squad. 

Diskusi itu menghadirkan dua pembicara antara lain Direktur Informasi dan Data AURIGA Nusantara, Dedi P. Sukmara dan dr. Alvi Muldani sebagai Direktur Klinik Yayasan Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI).

Pada kesempatan pertama, Sukmara menjelaskan bawa luas lahan yang terbakar pada tahun 2019 lalu sebesar 1,9 juta hektare. Besarnya luas lahan hutan yang terbakar membuat Indonesia disorot oleh beberapa negara tetangga. Karena dianggap menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.


 


Penting untuk dicatat bahwa selain menyebakan rusaknya habitat, kebakaran hutan juga menjadi salah satu pemicu munculnya sejumlah penyakit Zoonosis. Dalam pemaparannya, dr. Alvi Muldani menyebut diantaranya Ebola, HIV, malaria, rabies, dan tentu saja Covid-19 hari ini.

Penyakit-penyakit di atas, lanjut Alvi, umumnya disebabkan oleh hewan-hewan yang dipaksa meninggalkan habitat aslinya lantaran kerusakan ekosistem akibat deforestasi yang semakin meningkat tajam.

Akar Problem


Setelah mengikuti pertemuan di atas, saya coba melakukan penelusuran terhadap beberapa literatur dan menemukan bahwa buruknya tata kelola lingkungan dan kesehatan disebabkan oleh rusaknya relasi antara tubuh, otak, dan lingkungan hidup.

Hal ini pertama-tama disebabkan oleh problem dalam berbagai disiplin ilmu khususnya ilmu sosial humaniora dan sains. Dengan kata lain, wilayah otak dianggap sebagai keahlian para neurologi dan pakar saraf sedangkan pikiran merupakan wilayah riset pakar ilmu sosial humaniora.
Sampai kapanpun, jika gejala ini dibiarkan terus menerus, kita akan kehilangan dimensi paling eksistensial sebagai manusia. Mengenai hal ini, dalam “Minding the Mind”, Emeran Mayer dan Clifford B. Saper menulis kalimat pembuka artikel mereka dengan pernyataan yang cukup mengejutkan.

Selama beberapa abad dalam setiap masyarakat, sebelum obat-obatan dan pusat kesehatan didirikan, proses penyembuhan penyakit dilakukan dengan berdasarkan pada sistem psikologi indigenous yang berpusat pada otak.

Konsep universal tentang praktik penyembuhan tradisional mengikuti kepercayaan terhadap: Pertama, kepercayaan pada kekuatan universal (jiwa, chi, prana, daya tarik bidatang dan alam).  Kedua, kepercayaan pada persatuan antara pikiran, tubuh, dan lingkungan. Ketiga, konsep tentang kesehatan sebagai kondisi harmoni antara pikiran dan tubuh, dan antara organisme dan alam. Konsep tentang penyakit sebagai hilangnya harmoni.

Oleh sebab itu, penyembuh (katakanlah, dukun), dilihat sebagai katalisator yang menggunakan intervensi untuk memengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri, dengan tujuan memperbaiki harmoni yang telah rusak tadi (Mayer and Saper, 2000: 3).

Dari penjabaran di atas, muncul pertanyaan: 

Mengapa dalam sistem penyembuhan modern (katakanlah, rumah sakit), perspektif di atas tidak tampak signifikan. Dengan kata lain, mekanisme kuasa seperti apa yang membuat pola penanganan medis dewasa ini cenderung memisahkan kekuatan pikiran dari cara kerja otak, tubuh, dan lingkungan?


Atau lebih spesifik lagi, mengapa penaganan pandemi lebih menonjolkan mekanisme dari luar alih-alih mempercayakan pada kekuatan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri? Bahkan lebih mengerucut lagi, mengapa hanya satu perusahan farmasi di dunia yang mengembangkan vaksin dengan menggunakan sel dendritik (sel imun yang berfungsi sebagai guru) dalam leukosit yang nantinya memproduksi antibodi?

Tanpa bermasud membahas secara terperinci metode penelitian menghasilkan vaksin covid-19, artikel ini berargumen bahwa pada masa ini, pola penanganan penyakit cenderung mengandalkan sesuatu dari luar tubuh, selah-olah tubuh manusia tidak punya kemampuan untuk melawan penyakit. Persis tidak ada bedanya dengan dikotomi pikiran dan otak dalam keseluruhan desain hidup manusia, terutama dalam kancah pendidikan dan ilmu pengetahuan. 

Dengan kata lain, status ini ditulis dalam rangka mengisi kekosongan diskusi tentang korelasi antara otak, tubuh, pikiran dan lingkungan, dan bagaimana empat komponen itu terjalin atau dibuat terpisah-pisah oleh dikotomi disiplin ilmu pengetahuan di dunia.


Relasi Tubuh dan Lingkungan


Otak, tubuh dan lingkungan itu terintegrasi. Istilah "Pikiran-otak-tubuh" menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang terintegrasi — bahwa pikiran kita (termasuk kemampuan kita untuk berpikir, mengingat, bernalar, merencanakan, dan merasakan) tidak terpisah dari bagian tubuh kita yang lain, atau memang dari lingkungan tempat kita tinggal.

Di satu sisi, otak mengontrol moral dan etika kita, kebahagiaan atau kesedihan kita, ingatan kita, kesehatan kita dan daftarnya terus berlanjut dan di lain sisi kita bukan hanya korban pasif dari otak kita. Ada hubungan timbal balik yang berlangsung terus menerus diantara tiga komponen di atas.

Mari simak salah satu paragraf artikel menarik Monbiot bertajuk “Neoliberalism is creating Loneliness. That’s What Wrencing Society Apart” berikut: 

Jika perpecahan sosial tidak diperlakukan seserius anggota tubuh yang patah, itu karena kita tidak dapat melihatnya. Tapi ahli saraf bisa. Serangkaian makalah menarik menunjukkan bahwa rasa sakit sosial dan rasa sakit fisik diproses oleh sirkuit saraf yang sama. Ini mungkin menjelaskan mengapa, dalam banyak bahasa, sulit untuk menggambarkan dampak dari putusnya ikatan sosial tanpa kata-kata yang kita gunakan untuk menunjukkan rasa sakit dan cedera fisik

Akhirnya, seperti yang dikatakan Annamaria Testa, kita tidak bisa berperang dengan virus corona karena itu bukan musuh. Ia tidak membenci kita dan tidak menginginkan kehancuran kita. Virus itu bahkan tidak menyadarinya, dan tidak tahu apa-apa tentang kita atau dirinya sendiri. Sebaliknya, kita berperang dengan diri kita sendiri dan sistem yang telah kita ciptakan.

Kita benci bahwa virus menelanjangi batasan sistem, politik, ekonomi, sosial, dan kepercayaan kita. Kita benci bahwa sistem kesehatan kita tidak dapat menyelamatkan kita seperti yang kita inginkan dan harapkan. Kita benci bahwa sekali lagi kita harus mempercayai politisi yang tidak dapat dipercaya untuk membantu kita melalui ini. Kita benci bahwa mimpi yang kita bangun di atas dasar sistem kita yang sakit, berubah menjadi fantasi yang menyimpang. Kita benci karena kita harus melepaskan kembali kebebasan kita demi fantasi keamanan. 

Dan akhirnya, kita benci karena dibuat mesti memilih salah satu dari antara dua hal ini: kesehatan ataukah mencegah kebakaran hutan.



Post a Comment

Previous Post Next Post