Part of

AD
Bekerja dari rumah adalah pengalaman yang sama sekali berbeda jika Anda memiliki anak. Kapasitas untuk memiliki ruang refleksi sangat terbatas. Kemungkinan melakukan pekerjaan intelektual yang berkelanjutan dihapus. Riset atau penulisan menjadi begitu sulit dilakukan. Bahkan perjalanan seminar keluar negeri, selain untuk riset tetapi juga sekadar liburan, kini diganti dengan webinar

— Nicola Palmer, dosen senior di Fakultas Hukum King’s College London.


sumber foto: Pinterest


Apa itu bekerja dari rumah? Mengapa pekerjaan harus dilakukan dari rumah? Apa perbedaan bekerja di tempat kerja dan bekerja di rumah? Bagaimana dinamika sosial politik yang muncul dari model peleburan antara tempat kerja (kantor misalnya) dan rumah tempat Anda tinggal?

Tanpa berpretensi menjawab semua pertanyaan di atas, saya coba membuka percakapan alternatif tentang makna pekerjaan dan bagaimana kita menjadi manusia melalui apa yang kita kerjakan. Topik ini penting dibicarakan, sekurang-kurangnya bagi saya, terutama ketika mekanisme kepengaturan global sedang menjadikan kita sebagai—mengutip Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man—manusia satu dimensi. Manusia jenis ini adalah manusia yang hidup seperti robot dan sama sekali tidak punya imajinasi.

Semua itu dilakukan dengan mencetuskan kebijakan yang paling fundamental: bekerja dari (di) rumah.

Lalu apa saja implikasinya etis, filosofis, dan politis dari kebijakan yang berlaku secara global tersebut?

Pertama, hak dan kebebasan sebagai manusia. 

Dalam sebuah feature bertajuk, Human Rights and New Ways of Working, Susie Alegre coba membaca situasi kita saat ini dengan menghadirkan tokoh utama Winston Smith dalam novel 1984 karya George Orwell. 

Menurut Alegre, Smith disarankan untuk “merekayasa ekspresinya agar kelihatan optimis dan tenang ketika menghadapi teleskrin” persis ketika dalam dunia kita saat ini, kebiasaan berpikir empiris tidak dapat bertahan dalam masyarakat yang diatur secara ketat.

Artinya, dalam konteks kerja, perkembangan teknologi membuat klaim yang semakin ambisius bahwa mereka dapat meningkatkan produktivitas dan mendeteksi wawasan tentang kepribadian, emosi, dan pikiran kita dari pengenalan wajah, wawancara virtual, dan analisis ucapan dan teks. 

Tentu saja, ada godaan untuk menggunakan alat ini untuk manajemen dan proses rekrutmen para pekerja. Namun menggunakan ketergantungan kita pada teknologi di tempat kerja baru untuk memantau, menyaring, dan memotivasi tenaga kerja berisiko merusak, bukan hanya privasi dan kebebasan berekspresi, tetapi juga kebebasan berpikir itu sendiri. 

Dikatakan demikian karena kebebasan berpikir itu penting untuk kreativitas dan pengembangan. Jika kita ingin berhasil di lingkungan kerja yang baru, kita harus memastikan bahwa hal itu dipupuk dan tidak dibatasi oleh teknologi.

Kedua, dalam masyarakat sederhana (dan dalam beberapa konteks) di pedesaan, rumah dan pekerjaan merupakan dua dunia yang tidak bisa begitu saja digabungkan, baik dari segi konsep ruang (space) maupun tempat (place). Seorang petani misalnya, mempunyai sawah atau ladang sebagai tempat ia bekerja, yang dibedakan secara prosedural dan substantif dengan tempat ia tinggal (rumah). Hal yang sama juga berlaku dengan orang yang menggantungkan hidupnya dengan melaut. 

Itu berarti,

Anda tidak bisa sesuka hati memindahkan laut dan kebun ke dalam rumah

Pembedaan di atas secara jelas ingin menegaskan bahwa bekerja dari rumah merupakan problem orang kota, atau dalam kosa kata revolusi industri, merupakan adaptasi yang mesti dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menjadikan teknologi digital sebagai salah satu cara mereka hidup. 

Sebaliknya, kelompok masyarakat di pedesaan yang, secara politik belum tersentuh teknologi, mestinya tidak dibajak dalam perspektif yang sama. Dengan kata lain, pedesaan secara historis merupakan tempat kerja pertanian yang melelahkan dan (yang terpenting) mewakili kebebasan dan waktu luang. 

Itulah mengapa Ben Wilson menulis bahwa pada awal abad ke-20, “kota tradisional adalah tempat pesimisme bukan harapan”.

Ketiga, hakekat kerja. 

Marx dan Engels melihat pekerjaan sebagai pusat keberadaan manusia. Tema ini dikembangkan oleh Engels dalam esainya yang tidak selesai, berjudul The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man

Dalam esai itu, ia menulis bahwa kerja adalah kondisi dasar paling utama bagi keberadaan semua manusia, dan ini sedemikian rupa sehingga dalam arti tertentu, kita harus mengatakan bahwa kerja menciptakan manusia itu sendiri. 

Persis seperti argumen pokok antropolog James Suzman dalam buku terbarunya, Work: A History of How We Spend Our Time. Suzman menulis, selama abad ke-19 dan ke-20, pekerjaan yang kita lakukan membentuk fondasi identitas kita. Kita, seolah-olah, adalah apa yang kita lakukan.

Kembali ke Engels, evolusi otak manusia dimulai melalui bekerja. Berjalan menggunakan kedua kakinya, tulis Engels, manusia membebaskan penggunaan tangan dan memungkinkannya melakukan berbagai jenis pekerjaan kompleks. Spesialisasi tangan inilah yang kemudian menghasilkan kerja, penguasaan atas alam, dan pembagian spesies manusia.

Singkatnya, bekerja menyatukan orang-orang dalam sebuah kondisi “di mana mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan satu sama lain”. 

Jadi, dengan kerja, muncul ucapan dan rangsangan di bawah pengaruh otak kera yang secara bertahap berubah menjadi otak manusia

Keempat, permasalahan tentang privasi. 

Kerja dari rumah memang membuka peluang bagus untuk fleksibilitas dalam bekerja, mendorong keragaman dan kesetraaan kesempatan, tetapi juga membuka jendela bagi masuknya masyarakat ke dalam kehidupan pribadi seseorang. Beberapa orang mungkin berbahagia jika rekan kerja mereka bertemu anak-anak mereka saat mereka sedang melakukan pertemuan virtual atau membagikan file ruang kerja dapur yang baru didekorasi. Tetapi bagi orang lain, lingkungan rumah mereka mungkin menjadi sesuatu yang ingin mereka pertahankan untuk diri mereka sendiri. 

Tanpa adanya panduan yang jelas tentang bagaimana menerapkan kebijakan bekerja dari rumah, beberapa guru kelihatan kebingungan dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar persis ketika ia harus mengajar sekaligus melakukan urusan rumah tangga.


Ilustrasi dari Pinterest.

Kelima, hakekat dan masa depan manusia. 

Dalam kolom New York Times beberapa bulan lalu, So You Think New York Is ‘Dead’, komedian Jerry Seinfeld mempermasalahkan gagasan bekerja jarak jauh: 

“Semua orang tidak suka melakukan ini. Semua orang. Benci. Anda tahu mengapa? Tidak ada negeri. Energi, sikap, dan kepribadian tidak dapat dihubungkan bahkan melalui jalur serat optik terbaik.”

Seinfeld benar tentang energi itu. Itu adalah sumer kehidupan dari kutipan-kutipan hebat yang ada di dunia ini.

Itulah kenapa kerja dari rumah membuat orang stress karena orang-orang tidak akan melihat guru atau pemimpin kantornya tersenyum pada mereka di lift, atau bertukar tegur di kantin kampus ketika membeli kopi. 

Bahkan, pada tahun 2013, CEO Yahoo, Marissa Mayer melarang bekerja dari jauh di raksasa internet itu. 

Agar “menjadi tempat terbaik untuk bekerja,” kata Mayer melanjutkan, “komunikasi dan kolaborasi itu penting, jadi kita perlu bekerja berdampingan. Itulah mengapa sangat penting bahwa kita semua hadir di kantor kita.”

Persis di situ, bekerja jarak jauh mengubah, bukan hanya pemahaman kita tentang komunitas kerja dan etos pekerjaan, tetapi juga konsep realitas fisik kita sebagai makhluk yang bekerja. 

Namun, sebagaimana para ahli telah meramalkan pandemi virus selama bertahun-tahun, demikian pula para ahli lain telah meramalkan transfer ke pekerja jarak jauh.

Pada tahun 1973, seorang mantan insinyur NASA beranama Jack Nilles menulis sebuah buku berjudul, The Telecommunications-Transportation Tradeoff yang memperdebatkan pekerjaan jarak jauh sebagai cara untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Itu bukan buku terlaris. Tapi melalui buku itu, dimulailah projek pembubaran staf pada masa itu meskipun teknologi yang digunakan masih sederhana. 

Dua tahun berselang, barulah istilah “komputer pribadi” diciptakan dan persis dua dekade kemudian, komputer rumah dengan harga terjangkau, beredar massif di pasaran.

Persis di situ, muncul pertanyaan:

Masa depan seperti apa dan model makna kerja seperti apa yang akan dihayati oleh anak-anak kita dari generasi masa depan nanti?



Post a Comment

Previous Post Next Post