-->

Kebijakan Politik Adalah Kunci Utama Perbaikan Degradasi Lingkungan Hidup

(Catatan atas acara I Love Indonesia Gathering)*


Pentingnya kebijakan politik dalam rangka memperbaiki lingkungan hidup merupakan argumen kunci yang disampaikan oleh Koordinator Golongan Hutan Edo Rakhman, dalam iven gathering bertajuk “I Love Indonesia” yang dilakukan secara daring pada tanggal 8 Januari 2021. 

Gathering yang dipandu oleh MC keren dan seru Mbak Fransiska Soraya ini, diikuti oleh 30 blogger yang telah mengikuti kompetisi menulis tentang isu lingkungan hidup, perubahan iklim, masyarakat adat, ketahanan pangan, dan pendidikan per 1-30 November 2020 yang lalu. 

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini antara lain Edo Rakhman dari Golongan Hutan, aktris dan influencer Anindya Kusuma Putri, dan Syaharani dari Komunitas Jeda untuk Iklim.

Kegiatan ini dilakukan berkat kerja sama golongan hutan dan blogger perempuan. Golongan hutan merupakan gerakan masyarakat sipil yang dilakukan melalui kerja sama pelbagai pihak antara lain Yayasan Madani Berkelanjutan, Yayasan Econusa, Yayasan Auriga, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Greenpeace Indonesia, Mongbay.co.id, Jaringan Pantau Gambut, Change.org, Yayasan Koaksi, dan Development Dialogue Asia (DDA).

Sementara itu, blogger perempuan merupakan jaringan aktivisme media yang terdiri atas para blogger perempuan yang tersebar di seluruh Indoenesia. Platform ini menjadi wahana bagi kaum perempuan untuk saling berbagai, saling belajar, dan menginspirasi satu dengan yang lain. Saat ini, terdapat lebih dari 5000 blogger yang tergabung dalam platform tersebut. (Jika ada teman-teman perempuan yang berminat bergabung, bisa melalui tautan ini).

Berpikir Adil dan Posisi Kaum Muda


Lebih lanjut, Rakhman menegaskan bahwa keberlanjutan hutan saat ini menuntut adanya paradigma keadilan sejak dalam pikiran. Maksudnya, sistem pengelolaan hutan saat ini mesti mempertimbangkan kemungkinan bagi eksistensi hidup generasi yang akan datang. 

Sayangnya, paradigma berpikir tersebut cenderung absen karena dominannya kejahatan korporasi. Riset yang dilakukanoleh WALHI pada Agustus-September 2020 tentang persepsi publik terhadap kejahatan korporasi dan ekosida menyimpulkan bahwa perlu ada penegakan hukum yang tegas terhadap kejahatan lingkungan hidup yang melibatkan korporasi besar (Hasil risetnya dapat diunduh di sini). 

Menariknya, responden yang tersebar di 7 Provinsi menekankan bahwa hak atas lingkungan hidup adalah hak asasi manusia dan mereka menilai bahwa kejahatan lingkungan hidup merupakan pelanggaran berat HAM (ekosida).

Pada bagian lain pemaparan materinya, Rakhman juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mendesiminasikan gagasan ekologi dan pelestarian hutan kepada publik. Kaum muda dianggap penting karena mayoritas penduduk Indonesia yang berada pada rentang usia produktif (17-30) tahun adalah kaum muda. Dengan kata lain, bonus demografi tersebut mesti diamanfaatkan untuk penyebarluasan gagasan dan kampanye tentang pentingnya menjaga hutan Indonesia dalam rangka menuntut hak mereka akan masa depan yang lebih baik.


Persepsi Kaum Muda tentang Pentingnya Pengelolaan Hutan (dokumen Golongan Hutan)

Ketika ditanya oleh Mbak Soraya tentang hubungan antara hutan dan generasi muda dan ketahanan pangan, Rakhman mengatakan bahwa pangan mesti mesti melalui kajian jika memanfaatkan hutan. Peran petani mesti diberdayakan, bukan privat sector. Juga masyarakat adat sebagai garda terdepan untuk menjaga hutan. 

Dari Antroposentrisme Ke Ekosentrisme dan Pentingnya 3B


Peralihan dari paradigma antroposentrisme (gagasan tentang manusia sebagai pusat segala sesuatu) kepada paradigma ekosentrisme (alam sebagai pusat), merupakan tendensi utama yang disampaikan oleh aktris dan influencer, Anindya Kusuma Putri.

Dalam kesempatan ini, perempuan yang menyukai hutan sejak duduk di bangku SMA itu menceritakan berbagai petualangannya menjelajah hutan Indonesia. Pasca kompetisi Putri Indonesia tahun 2015, Putri lebih fokus menikmati keindahan alam Indonesia. Ia bahkan pernah menaklukkan Gunung Rinjani dan ketika berada di tengah alam, ia merasa begitu kecil di alam yang begitu luas.

Persis di situ, ia mengungkapkan bahwa manusia perlu rendah hati dan bersikap bijak dalam menjaga keberlanjutan hutan dan alam Indonesia demi generasi masa depan.

Pentingnya keberlanjutan ini juga ditekankan oleh pembicara terakhir, Syaharani dari Komunitas Jeda untuk Iklim. Dibuka dengan penjelasan tentang perubahan iklim, mahasiswi Universitas Indonesia itu menegaskan tentang tiga faktor utama penyebab perubahan iklim yakni penggunaan bahan bakar fosil, kebakaran hutan, dan limbah pabrik.

Mengatasi hal ini, ia menekankan pentingnya sikap 3 B: belajar, bergerak, dan bawel. Dengan kata lain, didahului dengan mempelajari berbagai hal tentang perubahan iklim, generasi muda perlu merapatkan barisan untuk mengambil tindakan taktis. Salah satunya adalah dengan bawel, berisik, dan melontarkan kritikan terhadap pelbagai jenis kebijakan sosial-politik yang keliru.

Catatan Reflektif


Setelah mengikuti gathering di atas, terdapat beberapa catatan dari saya antara lain:

Pertama, reformasi sipil. Mengenai hal ini, saya teringat kembali akan pernyataan Karlina Supeli, dosen Filsafat dan ahli astronomi dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. 

Dalam salah satu ceramahnya, Supeli mengatakan bahwa selama ini reformasi terlampau fokus pada kelembagaan dan absen melakukan reformasi sipil. Ia menganalogikan itu dengan seseorang yang berupaya membereskan kamar yang berantakan. Setelah pelbagai perabot dibersihkan dan ditempatkan pada posisi yang apik, barulah ia sadar bahwa yang berantakan justru adalah dirinya sendiri. Itu berarti, selama ini, upaya perbaikan hutan dan lingkungan hidup tidak dibarengi dengan perbaikan mental sipil, terutama oknum-oknum yang terdapat dalam korporasi bersakal besar di Indonesia.

Kedua, komposisi gender. Entah mengapa, sependek pengamatan saya, sangat sedikit sekali kaum laki-laki yang fokus pada isu lingkungan hidup. Di NTT misalnya, kaum lelaki mulai gencar berbicara tentang ekologi persis ketika pemimpin tertinggi gereja katolik, Paus Fransiskus mengeluarkan ensikliknya Laudato Si, yang menjadi ensiklik apostolik pertama yang berbicara tentang ibu bumi sebagai rumah bersama.

Rendahnya antusiasme kaum lelaki di atas umumnya dilatarbelakangi oleh dominannya sistem patriarki sejak dalam mental. Coba cek, siapa yang paling kesulitan dan sibuk ketika air macet, rumah kotor, sampah berserakan, musim kemarau berkepanjangan, dan seterusnya? Tentu saja, kaum perempuan! 

Ketiga, konsolidasi sipil. Ini tentu agak ideal namun hemat saya perlu dilakukan yakni mempersiapkan orang dalam tubuh gerakan untuk menjadi pemimpin. Dibahasakan secara berbeda, berbagai komunitas sipil yang bergerak di bidang lingkungan hidup mesti "duduk bersama" guna menetapkan perwakilannya di tubuh kekuasaan. Perwakilan di sini bukan semata-mata representasi politik melainkan sebagai agensi (bandingkan gerakan Rosa Luxemburg yang digunakan oleh Laclau-Mouffe dalam buku mereka, Hegemony and Socialist Strategy).

*Tulisan ini merupakan hasil pendalaman terhadap blogger gathering yang dilakukan berkat kerja sama antara Golongan Hutan dan Blogger Perempuan. Dari 200-an peserta, saya termasuk 30 peserta terpilih yang mengikuti iven tersebut dan tulisan saya terpilih sebagai juara II. Artikelnya bisa dibaca di sini: 5 Strategi Kesejahteraan Pangan Ketika Saya Menjadi Pemimpin di Indoensia.