Part of

AD


khusus untuk kaum perempuan, di akhir tulisan, saya membahas tentang apa yang harus dilakukan ketika kamu mengalami kekerasan dalam masa pacaran




Sumber foto: Pinterest.com


Seperti judul di atas, jika kamu mencari kiat ampuh untuk sukses move on, sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini.
Saya terpaksa mengatakan demikian karena memang move on itu tidak sesederhana yang kamu bayangkan.

Meskipun demikian, dalam rangka bersolidaritas dengan umat manusia yang sedang berupaya move on, saya coba menawarkan beberapa cara. Tentu saja, kiat-kiat di bawah ini bisa dilakukan secara acak, tidak melulu berdasarkan urutan, atau tergantung situasi batinmu.

Pertama, ubah pemahamanmu tentang move on

Move on bukan berarti melupakan. Sebab, jika tidak amnesia, mustahil semua orang bisa melupakan masa lalu. Itu kodratnya manusia.
Maksudnya, move on sejati bukanlah sebuah proses melupakan, tapi berdamai dengan masa lalu.

Caranya? Bersikaplah realistis. Jika Anda patah hati karena kekasihmu berselingkuh, terima kenyataan itu. Terus menerus mencari kesalahan pasangan (eh, mantan pasangan), hanya akan membuat dirimu semakin menderita.

Sebaliknya, berterima kasihlah kepada mantanmu karena momen patah hati seperti itu mengajarkan kamu hal yang jauh lebih penting: dia bukan jodohmu.

Kedua, berhenti mengasihani diri sendiri

Jujur, saya tidak suka melihat orang yang merasa bersalah lantas mengasihani diri sendiri karena merasa tidak mampu berjuang mempertahankan sebuah hubungan.
Jika hanya kamu sendiri yang berjuang, hentikanlah itu. Di mana-mana, pacaran itu bukan kemerdekaan yang diperjuangkan secara sepihak.

Kamu juga punya hak untuk bahagia; dengan atau tanpa dia. Oleh sebab itu, inilah saatnya kamu belajar mencintai dirimu sendiri. Bukankah tidak ada orang yang lebih mencintaimu selain dirimu sendiri?

Ketiga, move on tidak selamanya berakhir dengan menemukan pengganti yang baru

Jika kamu berpikir bahwa dengan mencari pengganti, kamu bisa move on, hentikanlah. Jenis ini sangat celaka jika ditiru.

Mengapa? Karena jika seperti itu, kamu hanya akan menjadikan seseorang sekadar sebagai pelarian belaka.

Jangan berpacaran karena pelarian. Cinta tidak sebercanda itu

Saya berani bertaruh, di masa depan, salah satu diantara kalian berdua akan menderita.

Keempat, begabunglah dengan komunitas tertentu

Tidak perlu membayangkan komunitas yang terlalu besar. Satu-satunya komunitas kecil dan paling peduli dengamu adalah keluarga. Berbincang dan curhatlah dengan anggota keluarga. Jika tidak memungkinkan, ngobrol saja dengan sahabat atau teman-temanmu.

Kelima, jika ingin menangis, menangislah

Tidak peduli apakah kamu laki-laki, perempuan, atau trangender, menahan tangisan itu menyiksa. Sebab, tubuh manusia menyediakan porsi yang cukup bagi kesedihan dalam diri setiap orang. Jika memungkinkan, menangis dan berteriaklah di tepi pantai. Suara debur ombak akan menyadarkanmu bahwa kamu tidak sedang berteriak sendirian.

Keenam, ubah cara pandangmu tentang pacaran


Anda mesti realistis bahwa pacaran itu dinamis. Sekalipun momen-momen indah yang kamu lewati selama masa pacaran membuatmu merasa yakin dengan komitmen ingin menikah misalnya, jangan bergantung penuh pada fantasi seperti itu.

Banyak orang terluka bukan karena patah hati, tapi karena dilukai oleh fantasi yang ia ciptakan baik itu dalam dirinya sendiri maupun terhadap pasangannya

Ketujuh, berhenti stalking mantan di media sosial

Sesudah putus, mustahil tidak ada keinginan untuk stalking mantan di media sosial. Hasrat seperti itu memang wajar tapi tidak sehat jika kondisi psikismu sedang tidak stabil. Dengan semakin banyak melihat, akan semakin banyak hal yang teringat dan tentu akan menghambat usahamu untuk terus menjalankan hidup secara wajar.

Kedelapan, fokus dengan apa yang sedang dikerjakan

Jika kamu masih sekolah atau kuliah, akan lebih baik jika kamu fokus dengan pelajaran atau materi kuliah serta tugas-tugas dan ujian yang mesti kamu kerjakan. Memang, ini terdengar aneh karena mana mungkin seseorang bisa fokus dalam situasi seperti ini? Tapi, pikirkanlah hal yang jauh lebih penting. Sebut saja, kebahagiaan banyak orang terutama orangtua.

Ada begitu banyak fantasi yang mesti kita layani, bukan hanya fantasi tentang pacaran. Coba cari, temukan, dan jalankan fantasi yang lain itu, misalnya sukses studi, menemukan pekerjaan yang bagus, mendapat nilai A, menulis buku, mendaki gunung, dan seterusnya.



Sumber foto: google.com


Kesembilan, jika kamu perempuan, lakukan hal ini

Kamu adalah makhluk yang sangat istimewa. Jika kamu patah hati di usia yang dianggap sulit untuk menemukan kembali jodoh baru, tidak usah khawatir. Prinsip utama yang mesti kamu camkan yaitu: setiap orang berhak bahagia. Jika ada orang yang bahagia dengan pacaran, itu cuma bonus.

Jangan terlalu percaya pada pandangan masyarakat bahwa perempuan yang tidak pacaran atau tidak menikah itu tidak laku

Itu disebabkan oleh karena tidak sedikit anggota masyarakat kita yang masih bodoh.

Hal lain yang perlu kamu ketahui dan pelajari adalah alasan mengapa kamu putus. Apakah kamu putus karena tidak tahan diperlakukan secara kasar atau mengalami kekerasan selama masa pacaran?

Jika benar demikian, laporkan mantanmu itu ke pihak berwajib. Saya katakan begitu karena pada tahun 2010 misalnya, WHO mencatat bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan baik fisik maupun seksual.
Sementara di Indonesia, dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2019 Komnas Perempuan, kekerasan terhadap anak perempuan meningkat dibandingkan tahun 2018 dengan kategori kekerasan dalam masa pacaran sebanyak 1.815 kasus.

Memang, banyak perempuan memilih diam ketika diperlakukan secara kasar oleh pasangannya yang adalah orang terdekatnya. Mengenail hal ini, Simfoni PPA Tahun 2016 mencatat bahwa dari 10.847 pelaku kekerasan, sebanyak 2.090 pelaku kekerasan adalah pacar dan teman.
Itu berarti, tidak sedikit orang membajak cinta untuk membungkam tindakan kekerasan. Beberapa perempuan bahkan diancam oleh pasangannya dengan berbagai hal diantaranya menyebarkan video atau foto ke media sosial.

Tidak usah takut, teman-teman. Percayalah, itu cuma ancaman. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena foto atau video.
Anda bisa melaporkan ke lembaga terkait diantaranya Komnas Perempuan (melalui nomor 021-3903963 atau melalui link ini), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melalui nomor 082125751234 atau melalui link ini).

Selamat move on, berpacaranlah secara sehat, laporkan jika ada tindakan kekerasan, dan jangan lupa bahagia

Post a Comment

Previous Post Next Post