-->

Menjernihkan Konsep Pariwisata Religius: Catatan untuk Upacara Semana Santa di Larantuka

 
@indonesia.travel


Agama tidak mati-mati. Demikian juga sekularisme. 
Jangan-jangan keduanya sama sekali tidak bertentangan, 
tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir (Tempo, 12 Desember 2010).

Kegelisahan GM tersebut berjalan sejajar dengan kegelisahan saya sendiri yang secara tekstual tersurat dalam kegamangan saya terhadap penggunaan frasa “pariwisata religius”.

Pada kata “pariwisata”, pemahaman orang diantar pada sebuah konsep ekonomi dan bisnis untuk mengampanyekan potensi wisata sebuah daerah.

Sementara itu, pada kata “religius” (memiliki kedekatan semantis dengan ‘religiositas’) berkaitan dengan cita rasa dan penghayatan batiniah atau rohaniah pada Wujud Tertinggi.

Nah, dengan adanya distans atau jarak semantis tersebut, mencampuradukan antara pariwisata dan religius merupakan sebuah bentuk kerancuan teoretis yang sangat bermasalah.


Aspek Prosedural dan Substansial

Terdapat dua kecenderungan umum dalam membaca sebuah sistem entah itu demokrasi, politik, agama, kebudayaan atau pun pendidikan, yakni aspek prosedural dan substansial.

Penekanan utama dalam aspek prosedural yakni bagaimana menciptakan sebuah prosedur yang matang untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.

Sementara itu, aspek substansial merupakan cita-cita abstrak yang dijadikan pegangan atau pedoman dalam merumuskan prosedur. Oleh sebab itu, mesti dibuat pemisahan yang tegas antara dua hal di atas.

Tidak bisa dengan seenaknya orang lalu menggabungkan dua konsep yang secara esensial berbeda yakni pariwisata dan religiositas ke dalam suatu bentuk frasa lain “pariwisata religius”.


Meningkatkan kualitas pariwisata tentu saja mesti melalui prosedur yang matang dan komprehensif. Sebaliknya, religiositas seseorang tidak otomatis meningkat hanya karena dia mengikuti prosedur tertentu semisal rajin ke gereja atau masjid dan mengikuti upacara semana santa.

Berhubungan dengan argumentasi di atas, saya menilai bahwa saat ini, terjadi kemunduran pola pikir masyarakat. Atas nama formalitas, prosedur, sistem dan seremoni, orang dengan begitu gampang merayakan sebuah iven tanpa ada sikap kritis.

Beberapa pertanyaan penting yang mesti dipikirkan saat ini yakni: jika kegiatan keagamaan merupakan bentuk ekspresi iman seseorang terhadap Wujud Tertinggi, mengapa hanya sedikit orang yang merasa ada yang salah apabila ritus keagamaan itu dipentaskan pada panggung yang berbeda?

Demikian juga ritus budaya. Mengapa tidak ada kelompok masyarakat dari kebudayaan tertentu yang merasa risih dan tersinggung misalnya, ketika ritus kebudayaan tertentu dilombakan, dipentaskan di panggung atas nama bisnis, pariwisata, perlombaan, dan seterusnya?

Baik agama maupun kebudayaan seolah-olah kehilangan nilai sakral dan menjadi ahistoris.


Membongkar Klaim “Semana Santa sebagai Pariwisata Religius”

 
Sebelum menjernihkan konsep di atas, pertama-tama orang harus memikirkan ulang bagaimana prosesnya sampai muncul istilah “parwisata religius” di dalam kebudayaan.

Terdapat beberapa asumsi antara lain:

Pertama, pengaruh politik ekonomi. Kapitalisme telah merasuki semua sendi kehidupan dengan mengedepankan persaingan bebas berwajah baru yang dinamakan neoliberalisme.

Dalam konteks ini, logika yang digunakan yakni demi mencapai profit sebesar-besarnya dengan memanfaatkan sumber daya seminimal mungkin.

Jika pada liberalisme, masing-masing orang diberikan kebebasan untuk mengembangkan aktivitas ekonomi berdasarkan potensi yang dimiliki maka pada neoliberalisme tidak ada pemisahan yang tegas antara negara dan pasar terutama dalam regulasi politik pemerintah yang memberikan legitimasi atas kegiatan ekonomi.

Coba lihat saja bagaimana pemerintah mengintervensi aktivitas ekonomi masyarakat melalui peraturan tertentu. Kecenderungan itulah yang membuat segala aktivitas kebudayaan rentan terkena bias ekonomi termasuk ritus keagamaan dan kebudayaan.

Dua wilayah yang pada awalnya dianggap suci dan luhur nilainya itu dimanfaatkan oleh para pengusaha yang bekerja sama dengan pemerintah untuk menciptakan kebijakan politik pro-ekonomi.

Terjadi perkawinan antara agama dan politik secara terselubung dan halus dalam taraf ideologi. Maksudnya, secara tidak sadar orang diajarkan bahwa praktik kebudayaan dan agama dalam balutan politik pariwisata memang tidak salah dan wajar.

Mengapa terjadi demikian? 

Jawabannya sederhana: 
kekuasaan bergerak dalam ranah pendistribusian ideologi. 

Semakin sering orang diajarkan bahwa sejauh tidak mengganggu kenyamanan sosial, apa pun diperbolehkan.

Sejauh upacara semana santa digelar tanpa secara prosedural masuk dalam Perda misalnya, tidak masalah. Sejauh ritus kebudayaan dilombakan dalam ajang kompetisi tanpa embel-embel pasar, bukanlah masalah besar. Nah, cara berpikir seperti ini sangatlah kacau.

Kedua, instrumentalisasi agama. Tanpa disadari oleh hampir semua pihak, secara esensial, semana santa sebagai sebuah ritus keagamaan sebenarnya sudah diinstrumentalisasi.

Apa kriteria yang dipakai untuk menjelaskan bahwa ritus tersebut semakin memperdalam iman seseorang? Jika pertanyaannya dibalik, apa kriteria yang digunakan untuk menjelaskan bahwa ritus tersebut memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Jawaban atas pertanyaan terakhir sudah sangat jelas: retribusi pariwisatanya meningkat.

Ketiga, dominasi iven seremonial. Entah bagaimana menjelaskan fenomena tersebut tetapi dapat dilihat secara kasat mata bagaimana masyarakat di Indonesia cenderung mudah tertarik dengan berbagai seremoni dan ritual tidak peduli mengenai seperti apa makna dan nilai yang tersirat di balik kegiatan semacam itu.

Pertanyaan mengenai wacana kekuasaan apa yang berperan dalam mendistribusikan pengetahuan seperti itu sama sekali tidak dipedulikan. Orang dengan begitu mudah menganggap semua seremoni sebagai mitos yang bersifat natural atau alamiah.

Keempat, kurangnya peran institusi nonformal dalam mentransformasi gagasan dan ide kultural dan keagamaan terhadap generasi selanjutnya.

Hal ini menjadi catatan paling penting karena pergeseran makna dari ritus semana santa turut dipengaruhi oleh kurang berperannya institusi formal dalam memberikan sosialisasi dan edukasi bagi segenap generasi muda mengenai apa posisi semana santa dalam gerak kebudayaan masyarakat Flores Timur.

Hanya dengan mengetahui seperti apa posisi dan gerak zaman masyarakat kita bisa membuat hipotesis; selanjutnya kesimpulan mengenai sejauh mana institusi formal berperan dalam mengelaborasi gagasan kultural dalam masyarakat.


Cacat Epistemologis

Semana Santa yang selama ini dijalankan dan dianggap sebagai bagian dari bentuk pariwisata religius merupakan bentuk dari kecacatan epistemologis yang serius.

Dikatakan cacat karena bahkan sejak dalam pikiran orang sulit memberikan pembedaan yang serius mengenai mana yang termasuk dalam aktivitas keagamaan dan mana yang termasuk dalam kategori aktivitas bisnis.

Hibriditas pemahaman mengenai semana santa seperti itu menyulitkan orang Flores Timur dan penganut agama Katolik menemukan formulasi yang tepat untuk membahasakan aktivitas kebudayaan sekaligus agama yang telah berlangsung selama lima abad itu.

Terdapat beberapa tawaran solutif yang mesti dipikirkan bersama dalam menyelesaikan persoalan ini antara lain:

Pertama
, pemerintah daerah dan lembaga yang berwenang menyelenggarakan ritus perlu 'duduk bersama' dan merumuskan pembedaan antara semana santa sebagai sebuah aksi pariwisata dan sebagai aktivitas religius.

Pembedaan seperti ini sangat penting terutama dalam rangka menghindarkan masyarakat dari kesimpangsiuran makna dan ketidakjelasan landasan religius dan kultural.

Kedua, dibutuhkan peran dari tokoh gereja dan institusi adat untuk memikirkan kembali bagaimana merumuskan formulasi yang tepat mengenai semana santa.

Hal ini penting karena bukan tidak mungkin, beberapa tahun kemudian, iven ini akan membawa dampak besar entah baik atau buruk bagi kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, masyarakat hendaknya diberikan informasi yang cukup mengenai iven tersebut berkiatan dengan sejarah, proses pelaksanaan, dan alasan utama mengapa dipertahankan hingga saat ini.

Ketiga, jika semana santa dianggap sebagai hal yang unik dan berharga, mengapa itu tidak diajarkan sebagai salah satu bagian dalam mata pelajaran agama Katolik atau muatan lokal, minimal di level pendidikan dasar?

Dikatakan demikian karena tanpa ada pemahaman yang baik, mustahil seseorang mengikuti iven tersebut sebagai sebuah kegiatan keagamaan.

Dibahasakan secara lain, bagaimana mungkin seseorang menghormati patung disebut sebagai pemujaan jika ia sendiri tidak pernah mengerti bahwa berdoa di depan patung tidak sama dengan menyembah berhala?

Artinya, pemahaman dan konsep jauh lebih penting daripada ekspresi yang muncul sesudahnya. Bahaya yang muncul karena ketiadaan pemahaman seperti itu akan menggiring orang pada kerancuan bentuk penyembahan lain.

Pada akhirnya orang sulit membedakan antara memanfaatkan teknologi ataukah menjadi budaknya, menjalankan bisnis ataukah dikendalikan oleh bisnis, memenuhi hasrat ataukah dikejar hasrat, menyembah Tuhan ataukah menyembah apa-apa yang terlanjur ia anggap sebagai tuhan, dan seterusnya.