Part of

AD

Pengantar buku Kumpulan Cerpen "Tuhan Mati di Biara"

Oleh Paul Budi Kleden, SVD



Aristoteles disebut pernah mengatakan: primum manducare, deinde philosophari. Ungkapan asli Aristoteles tentu saja dalam bahasa Yunani. Pertama-tama cari makan, baru setelah itu boleh berdebat ria. 

Dengan perut kosong orang memang tidak bisa berpikir jernih. Aristoteles tak cuma butuh tinta dan papirus untuk menulis sekian banyak uraian filosofis. Dia pun perlu makanan. 

Tetapi orang Romawi juga punya pengalaman, bahwa perut yang penuh itu laksana kabut yang menghalangi mata melihat dengan jernih, beban berat yang menghambat kelincahan berpikir. 
Ini tertuang dalam ungkapan mereka: plenus venter non studet libenter. Perut yang penuh tidak suka belajar, seringkali membuat orang malas berpikir. 

Kalau memang dengan perut kosong orang tidak dapat berfilsafat, apakah orang bisa berkhayal dan mengarang cerita dari lambung yang lapar dan gelisah?

Ceritera bukan hanya milik orang-orang yang perutnya penuh terisi. Di gubuk-gubuk sederhana di kampung-kampung, dari mulut orang-orang yang hanya bisa mengisi perutnya sekali sehari, dikhayalkan kisah-kisah menarik dan dituturkan ceritera-ceritera mengesankan. 

Kisah-kisah yang bermakna dan membekas tidak hanya milik orang-orang yang piring nasinya selalu penuh, yang punya kemungkinan untuk memilih jenis makanan yang hendak dikonsumsinya. 
Ya, dari lambung yang lapar dan gelisah dapat lahir tema ceritera yang menarik dengan alur yang mengikat perhatian, dilengkapi pilihan tokoh yang cerdas dan analagi-analogi yang mengejutkan.

Lebih jauh malahan dapat dikatakan, dalam makna simbolis tanpa lambung yang lapar dan gelisah orang tidak akan sanggup menghasilkan cerita yang membuat orang tergerak untuk tunduk merenung dan bertanya diri, atau menyingsingkan lengan baju untuk maju berjuang. 

Kisah-kisah dangkal dapat merupakan semburan kekenyangan. Namun, ceritera-ceritera yang menggugat kemapanan dan menggerakkan perubahan hanya lahir dari lambung yang lapar dan gelisah, dari rahim para penutur kisah yang masih sanggup merasakan kekurangan yang menyakitkan dan menimbulkan kegelisahan, dalam hidup pribadinya pun secara sosial. 

Kelaparan dan kegelisahan adalah pemberontakan tanpa senjata terhadap kenyataan yang ada. Ada yang tidak beres. Ada yang harus diubah. Tidak seharusnya seperti demikian. 
Inilah yang ditangkap dalam kelaparan dan kegelisahan seorang penutur kisah. 

Lambung yang lapar dan gelisah adalah ungkapan keterbukaan abadi manusia, pencarian tanpa henti, yang hanya dapat menemukan labuh terakhirnya dalam Tuhan yang abadi, yang tidak tergantikan oleh apapun, juga tidak oleh agama dan simbol-simbolnya. 

Bukan tanpa alasan Sang Nabi dari Nazaret, Yesus, berpuasa empat puluh hari sebelum tampil menuturkan kisah tentang Tuhan yang menjadi sahabat orang-orang kecil dan terpinggirkan. Kisah itu Dia rangkaikan dalam kata dan tindakan-Nya sendiri, demikian menyatu, sehingga kemudian diri-Nya sendiri menjadi sebuah kisah yang mengalirkan inspirasi tanpa henti. 

Demikian pula orang-orang Islam berpuasa selama sebulan sebelum perayaan besar di hari Idul Fitri, untuk kembali menyadarkan orang akan jati dirinya, akan fitrahnya, sebagai sebuah kelaparan dan kegelisahan yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah yang akbar.

Lambung yang lapar dan gelisah adalah rahim kreativitas. Pemilik lambung seperti ini bukan orang yang mudah tunduk di bawah ancaman penguasa, kewibawaan dogma agama, atau taktik menjenuhkan dari sebuah masyarakat konsumeristis. Dia masih membiarkan tirai jendela batinnya terbuka di tengah kesesakan tekanan entah politis, ekonomis, sosial pun religius. 

Ancaman terbesar bagi lambung seperti ini adalah menadahkan mulut untuk disuapi tanpa henti. 
Untuk apa saja orang minta disuapi: untuk kebutuhan rohani orang selalu minta dikotbahi, untuk meluaskan cakrawala pemikiran orang bergantung pada penjelasan mengenai gagasan para pemikir besar, untuk menutup keran air orang menunggu petugas, untuk memenuhi kebutuhan untuk tertawa atau pun untuk bisa merasa sedih orang duduk di depan televisi berjam-jam. 

Orang menjadi omnivora, pemakan segala sesuatu, yang tidak dicarinya sendiri, tetapi yang disodorkan dengan halus atau dipaksakan di bawah ancaman kepadanya. 

Dalam situasi seperti ini, terpenuhilah yang dikatakan oleh Herbert Marcuse dalam bukunya One-Dimensional Man (Manusia Satu Dimensi), manusia yang berfungsi seperti robot yang dimanipulasi oleh kekuatan-kekuatan lain. Manusia satu dimensi adalah manusia tanpa fantasi.

Manusia tanpa fantasi akan menghasilkan masyarakat tanpa cerita, dan masyarakat tanpa ceritera adalah masyarakat yang jalan di tempat, masyarakat hanya sanggup mendaur ulang, seperti dikatakan Nietzsche: die Ewige Wiederkehr des Gleichen

Saat tak ada lagi yang namanya Tuhan, yang jadi nama untuk titik paling luar dari yang tak terbayangkan, maka yang mungkin adalah mengulangi semuanya secara kekal. 

Jika tak ada lagi Tuhan dan hati yang gelisah, maka semuanya terperangkap dalam yang sama, tak ada lagi yang baru dan berbeda. Dan demikian tak ada lagi harapan, sebab harapan terarah kepada perubahan, dan perubahan mengandaikan kemungkinan baru. 

Di tengah tendensi seperti ini orang-orang seperti para pencerita memang diperlukan. 
Marcuse menutup bukunya dengan sebuah kutipan dari Walter Benjamin: “Nur um der Hoffnungslosen willen ist uns die Hoffnung gegeben“ (hanya demi orang-orang yang tanpa harapan kita diberikan harapan).

Namun, untuk tujuan itu, ceritera-ceritera mestinya tidak menjadi bahan konsumsi lain yang hanya meninabobokan dan mengkerdilkan, yang menggantikan impian dan mimpi orang. Mimpi dan bermimpi adalah hak dan kewajiban setiap orang. 

Penceritera yang baik tidak merampasnya dari pembaca atau pendengarnya. Sebaliknya, ceritera mesti bisa membuat orang bermimpi dan berpikir. Kisah-kisah itu sejatinya tidak tuntas, tidak menjawab semua pertanyaan dan tidak memuaskan semua rasa ingin tahu. 

Kisah-kisah yang baik lahir dari rahim yang lapar dan gelisah, dan menimbulkan kegelisan dan kelaparan dalam diri pembaca. Ada pekerjaan rumah yang dititipkan pada akhir kisah.

***

“Lambung yang lapar dan gelisah“ adalah satu frase yang digunakan Hans Hayon dalam cerpennya “Hostia“, cerpen pertama dalam kumpulan buku ini. Isinya adalah solo locui hostia, roti kecil dari gandum yang dalam perayaan ekaristi orang-orang Katolik diyakini diubah menjadi tubuh Kristus. 

Dalam cerpen yang sama penulis juga menggunakan ungkapan: lambung yang letih. Lambung yang lapar adalah hal yang biasa, bagian dari pengalaman sehari-hari. Namun, ketika dihubungkan dengan gelisah atau letih, ungkapan ini mendapat nilai simbolisme yang tinggi. 

Cerpen-cerpen Hans memang amat kaya dengan analogi dan simbolisme. Cerpen “Gunung Selepas Fajar“ dimulai dengan kalimat-kalimat kaya analogi: “Air dalam gelas terasa begitu dingin setelah menyentuh ujung lidahku yang bergetar hebat. Hari telah cukup matang dengan senja yang memerah di puncak gunung, ketika Ibu mengatakan, “Ibu ingin pergi ke utara.” 

Di dalam cerpen yang sama penulis menunjukkan pengamatannya yang tajam atas keseharian manusia dan kefasihannya membuat perbandingan yang cerdas: “Dan aku lebih tak tahu lagi, apakah aku seorang manusia ataukah malah sebentuk kulkas. Sebuah tempat di mana orang-orang berusaha mengawetkan cinta dan rindu.”

Cerpen-cerpen yang dikumpulkan di sini tidak hanya kaya dengan analogi cerdas seperti di atas. Kisah-kisah yang dikumpulkan di sini adalah analogi-analogi yang tidak membiarkan pembaca menyelesaikannya dengan rasa puas. 

Cerita-cerita ini menimbulkan pertanyaan yang memerlukan penjelajahan lebih jauh oleh pembaca sendiri. Cerpen “Rani“ meninggalkan teka-teki yang menggemaskan. Siapakah Nurani yang pernah terdengar dari mulut ibu dan yang makamnya ditemukan pada malam yang menegangkan itu. 
Apakah makam Nurani adalah tanda kematian nurani dari orang-orang dan budaya yang dengan lancang telah mengorbankan Rani, sang ibu? Apakah Nurani itu adalah ibu si tokoh dalam cerpen itu? 

Akhir dari “Tuhan Mati di Biara“, cerpen yang diambil sebagai judul kumpulan cerpen ini, membuat pembaca seperti membuka mulut penuh tanya dan rasa heran, akhir yang membuat orang merasa belum puas. 

Haruskah orang mengiyakan pandangan ayah yang tidak melihat apapun, atau tunduk merendah mengikuti bimbingan anak, tanda kepolosan dan keterbukaan yang merupakan syarat untuk menangkap pengungkapan diri kebenaran? Membiarkan diri dituntun oleh si anak menuju kebenaran menjadi sebuah perjalanan amat sulit, ketika kebenaran itu telah mati di mana-mana, tak terkecuali di biara.

Hemat saya, kekuatan cerpen-cerpen Hans Hayon terletak pada bagian akhirnya. Cerpen “Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur“ selesai ketika minat pembaca untuk mengetahui lebih jauh mulai dibangkitkan. 

“Delapan Ceritera Pendek Tentang Lamaholot“ diakhiri dengan ungkapan tentang gedung DPR dan Mitra Tiara. Ada apa dengan Mitra Tiara yang tidak pernah disinggung sebelumnya? 

Dan dalam cerpen Hostia, apa yang dilakukan hostia di dalam lambung orang itu setelah mendengar ucapan requiscat in pace dan tangisan yang pecah? Bagaimana mestinya menghubungkan ketiga bagian dari cerpen “Hantu Perempuan di Biara”? 

Teknik mengakhiri cerita seperti ini membuat saya bertanya: betapa pendek mestinya sebuah ceritera pendek?

Saya memang merasa ceritera-ceritera Hans terlalu pendek untuk memberi kepuasan paripurna ketika orang membacanya sekali. Sekurang-kurangnya saya merasa perlu membaca dua kali untuk dapat menemukan kunci merangkai makna dari cerpen-cerpen ini. Dan setiap kali membaca, saya selalu diperkaya dalam interpretasi saya, karena menemukan simbol baru yang dapat digunakan untuk memberi makna pada ceritera. 

Membaca cerpen-cerpen ini orang sepertinya sedang mengalami apa yang dikatakan Derrida tentang teks: bahwa teks yang sama selalu dibaca secara baru setiap kali orang menghadapinya. Tidak ada teks yang bisa tuntas dibaca. Cerpen-cerpen Hans memang harus dinikmati sebagai teks. 

Kita beruntung mendapatkanya sebagai teks, bukan ditutur lisan. Saya dapat membayangkan bagaimana orang akan kewalahan kalau hanya mendengar kisah-kisah ini tanpa kemungkinan untuk mengulanginya. Karena cerpen-cerpen ini ditulis, di-koran-kan dan kini diterbitkan dalam bentuk buku, orang dapat selalu membacanya, dan menemukan makna baru di dalamnya.

***

“Lambung yang lapar dan gelisah” adalah bentuk pemberontakan tanpa senjata yang mempertanyakan apa yang selalu diterima begitu saja dan mengkritik mereka yang selalu kebal sanggahan. 

Ini adalah ungkapan keterbukaan tanpa akhir manusia selama ziarahnya dalam sejarah. Santo Agustinus mengatakan dalam sebuah doa: “Hati kami gelisah, ya Tuhan, selama belum berlabuh pada dermaga-Mu.” Ini kelaparan dan kegelisahan yang membuat hidup menjadi bermakna. Seperti hosti yang mencatat perjalanannya dan perlakuan orang terhadapnya secara cermat, penceritera biasanya mencatat situasi zaman dan tempatnya dengan tekun dan teliti, sambil merangkainya dalam simbol yang kuat dan mencari teknik ceritera yang membuat orang merasa tidak tenang, membuat lambung orang merasa lapar dan gelisah.

Ada tiga kelompok yang menjadi alasan kegelisahan pencerita dalam kumpulan cerpen ini. 

Yang pertama adalah agama dan kelompok agamawan. Agama sering dipahami sebagai jalan menuju Surga, dan para pejabat agama adalah orang-orang yang memiliki kuasa menentukan kelayakan seseorang. Namun, agama mestinya bukan hanya jalan mulus menuju Surga. Dia pun perlu menjadi jalan untuk menjadi peka terhadap lambung orang yang kelaparan dan kegelisahan. 

Tidak cukup agama menawarkan jalan menjumpai Tuhan. Agama pun perlu menyadarkan orang akan jalan yang harus dibangun menuju sesama, khususnya yang sering dikucilkan karena dianggap sebagai pembawa petaka bagi masyarakat (cerpen Rani) atau mereka yang hidup di pinggiran perhatian (cerpen Hostia). 

Keangkuhan para pejabat agama digoyang dengan pertanyaan seorang anak pada akhir cerpen Jalan Mulus Menuju Surga: “Ibu, ternyata surga itu terletak dalam tangan seorang imam, dan bukannya di telapak kaki Ibu, ya?”

Kedua, para penguasa politik. Penguasa diberi kewenangan untuk mengurus sesuatu. Tanpa pembatasan tegas oleh sistema dan tanpa pengawasan oleh nurani penguasa itu sendiri, kesewenang-wenangan menjadi tak terelakkan. 

Seorang pejabat tidak hanya merasa mempunyai kewenangan untuk memperhatikan kinerja seorang bawahannya di kantornya, tetapi juga mulai mengembangkan sayapnya untuk mengawasi kehidupan pribadi si bawahan. 

Atas nama kewenangan dia tidak hanya meminta sumbangan gagasan dari pegawainya, tetapi tak jarang juga memeras uang untuk perhelatan keluarganya dan meminta tubuh untuk memuaskan nafsu seksualnya. 

“Ada Kisah di Taman Kantor Gubernur” mengangkat tema ini secara cerdas. Kesewenangan itu pula tampak dalam koalisi penguasa politik dan penguasaha, yang akhirnya hanya menjadi sumber kesengsaraan rakyat. Dengan sebuah ironi penceritera mengungkapkan itu pada bagian akhir dari Delapan Ceritera Pendek tentang Lamaholot.

Ketiga, budaya patriarki. Dalam konteks budaya patriarki, laki-laki adalah pemegang kekuasaan dan rujukan kebenaran. Yang dikehendaki laki-laki dewasa tak boleh dibantah para perempuan dan anak-anak. 

Banyak kasus kekerasan rumah tangga didiamkan karena bayang-bayang keutamaan laki-laki. Cerpen Dalima melukiskan gejolak batin seorang anak perempuan yang ditiduri bapaknya. Penulis membiarkan pembaca sendiri berlayar dengan perahu imajinya sendiri membayangkan apa yang bakal terjadi jika si gadis kemudian bertemu ibunya. 

Dua perempuan yang tak berdaya di depan laki-laki yang menggunakan kuasa dan tega mempermainkan perasaan keperempuanan dua orang, istri dan puterinya.

Penulis tampaknya sadar, potensi kesewengan dan kekuatan memanipulasi akan bertambah, ketika budaya patriarki dikawinkan dengan kewibawaan lembaga keagamaan atau kekuasaan politik. Sebab itu, ketiga konteks ini sangat memerlukan ceritera, kisah-kisah yang lahir dari lambung yang lapar dan gelisah. 

Para pejabat agama, penguasa politik dan para lelaki perlu diingatkan bahwa hanya jika mereka menerima rasa lapar dan gelisah dari lambung mereka sendiri, dan menjadi peka terhadap kelaparan dan kegelisahan yang sedang dialami orang lain, diri dan lembaga mereka dapat menjadi hujan di biara yang membawa berkat. 

Jika tidak, mereka menjadi hantu di biara yang menyeramkan, yang membuat semua orang diliputi rasa takut, juga takut untuk merasakan kelaparan dan kegelisahan di lambungnya. 
Namun, tanpa rasa lapar orang tidak bisa berpikir, juga tak mampu mengarang kisah. 
Akan betapa miskinnya dunia tanpa gagasan, ketiadaan ceritera.


Roma, tengah Desember 2014.


1 Comments

  1. Malam pak Hans, sangat bernas dan inspiratif. Saya ingin memiliki buku - buku cerpen karya pak Hans. Saya bisa dapat di perpustakaan Gramedia? Mohon infonya ama. Salam.

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post