Part of

AD


Genesis estetika sebagai bagian integral dalam filsafat telah dicetuskan sejak terjadinya tumpang tindih konsep antara filsafat, seni dan metafisika.


Plato (427-347 SM) yang begitu menggandrungi simplifikasi tentang ide malah dianggap memandang remeh dunia indrawi dan semua karya praktis seni[1] padahal menganggap remeh bukan berarti menghapus. 

Justru Plato sendiri malah mengakui eksistensi dan peran dunia indrawi yang turut membangun teorinya tentang forma (idea) dan berpeluang pada konstruksi stratifikasi pengetahuan intelektual.[2] 

Kehadiran estetika merupakan konsekuensi kesadaran akan perlu adanya distans antara filsafat dan seni (estetika) di tengah membanjirnya varian domain dan status estetika dalam ranah filsafat. 

Bipolaritas perspektif tersebut menghadirkan Aristoteles sebagai mediator serentak mengembalikan fungsi karya seni dalam kehidupan manusia lewat bukunya Poetica. Menurutnya, karya seni atau estetika justru bermakna katarsis bahkan memiliki misi yang jauh lebih tinggi karena membentuk dunianya sendiri dan mengatasi kenyataan. 

Dewasa ini, estetika telah menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri dengan problem keindahan dalam kaitannya dengan disiplin ilmu lain. Penulis mencoba membatasi ruang pembahasan estetika ilmiah termaksud pada kancah sastra yang menitikberatkan pergumulannya pada bentuk-bentuk representatif atas universalitas serentak secara metafisis yang membentuk dunia secara keseluruhan, atau sebaliknya. 

Dari Filsafat Rasionalisme, Empirisme Hingga Metode Transendental


Dalam kancah filsafat terdapat dua aliran yang saling bertentangan yaitu rasionalisme dan empirisme[3] yang kemudian mencapai puncaknya pada Kant dalam Metode Transendental atau yang dikenal dengan term sekaligus menjadi judul bukunya, ‘Kritik atas Akal Budi Murni’.


Kaum Rasionalis percaya bahwa pengetahuan diperoleh berdasarkan akal budi dengan menggunakan metode deduksi yang rasional sedangkan empirisme meletakkan observasi pancaindera (sense) sebagai dasar memperoleh pengetahuan. 

Metode Transendental Kant merupakan kiat untuk menemukan kondisi-kondisi apriori dalam akal budi manusia yang menyebabkan adanya dualisme (terdapat distans antara pengetahuan dan kenyataan) penghancur dasar metafisika realisme Aristoteles dan Thomas.[4] 

Kant lebih menekankan kondisi pra-pengetahuan sebagai sifat dasar teorinya dalam arti bukan alasan yang mendahului kegiatan mempertanyakan segala sesuatu melainkan lebih sebagai kegiatan bertanya termaksud secara apriori

Di sini, Kant berusaha menjembatani kedua kondisi di atas dengan mengusahakan adanya metafisika yang mensyaratkan kebenaran analitik (apriori) di satu pihak dan kebenaran sintetik (aposteriori) di lain pihak yang kemudian disebut sebagai sintetik apriori (di mana membuat metafisika menjadi mungkin). 

Untuk itu, dibutuhkan kategori-kategori (kesatuan, pluralitas, totalitas, kenyataan, negasi, sebab akibat, kesalingan, kemungkinan, aktualitas, dan kebutuhan) guna mengalami universalitas objektif sebagai sebuah keniscayaan. 


Dengan adanya kategori, Kant menegaskan pentingnya pikiran manusia yang bersifat aktif dan kekuatan apriori darinya berperan dalam membentuk sifat dunia. Dari situlah oleh Arthur Schopenhauer (1788-1860) disebut sebagai identitas. Baik Kant, maupun Schopenhauer lalu melihat dunia sebagai yang menampakan diri serentak bersifat representasional. Penting untuk diingat bahwa dunia menjadi bermakna ketika ia menampakan diri (phenomena) dan menunjukkan suatu realitas di balik penampakan itu (neumena).



Sastra dan Dunia

  • Kehendak Membentuk Dunia

Sastra medasarkan kompleksitas 'hidupnya' bukan saja pada realitas melainkan juga pada kehendak manusia yang membentuknya. Kant dan Schopenhauer sepakat bahwa terdapat realitas yang terlampaui dari dunia sesungguhnya, mengisyaratkan adanya kehendak pembentuk yang melaluinya sesuatu itu ada. 

Karena itu dibutuhkan keterbukaan terhadap objek-objek nyata yang tampak di mana selanjutnya kehendak justru akan terobjektifikasi dalam dunia itu sendiri. 

Memahami sastra sebagai melulu kehendak juga tidak bermaksud mereduksi sastra sebagai kegiatan subjektif semata tetapi lebih sebagai dengannya kita membentuk dunia sesuai dengan nilai dan norma yang terkandung di dalamnya. 

Sastra sebagai aktus seni menghantar manusia dengan cara mengkomunikasikan pengetahuan yang ada tentang objek seni ke dalam karya-karya konkret. Hasilnya, manusia bukan lagi sekadar sebagai subyek. 

Sastrawan membebaskan dirinya dari kehendak dan berhenti menjadi pribadi serta menjadi subjek pengetahuan yang tidak berkehendak lagi. 
Contohnya, kita akan mengatakan, “Anda perlu keluar dari diri sendiri,” ketika kita sedang mendengarkan musik Beethoven atau membaca Hamlet-nya Shakespeare.


  • Keindahan Sastra Mengandaikan Subyek dan Obyek

Penampakan (phenomena) dan neuma oleh Immanuel Kant merupakan hal yang terpisah dari pengalaman.[5] Untuk itu, aspek keindahan sastra secara esensial berdeda dengan keindahan alam yang bersifat ontis (sebagaimana adanya). 

Keindahan alam lebih menjurus pada kenyataan yang menampakan diri di hadapan kecemerlangan subjek. Keindahan tersebut menitik beratkan aspek partisipasi menuju kepenuhan di mana penghayatannya purna dalam diri subjek. Oleh sebab itu, dituntut adanya sikap respek[6] karena sifatnya sangat terbatas pada dunia inderawi.

Keindahan sebuah karya sastra berbeda dengan keindahan alam di atas karena ia diciptakan oleh seorang sastrawan. Berbeda dengan keindahan alam di mana Allah sebagai penciptanya, keindahan sebuah karya sastra dikatakan indah bukan karena dihayati indah, melainkan telah menjadi suatu keindahan yang indah. 

Di sini terdapat integritas peranan subjek dan objektifikasi keindahan yang mana manusia mengkategorikan adanya karya sastra ‘klasik’ dan ‘sementara’. Pemahaman ini dilatari oleh opini bahwa keindahan bukan lagi terletak pada subyek melainkan pada realitas, baik secara ontologi maupun kenyataan sebagai ciptaan dari seorang sastrawan itu sendiri.


  • Sastra sebagai Bentuk Representatif dari Realitas Ontologis

Karya-karya sastra tidak lahir begitu saja tanpa melalui titik acuan dari kenyataan konkret. Selain sebagai yang membentuk dunia, karya sastra pun lahir dari dunia baik itu dunia dalam kenyataan maupun yang melampauinya (metafisis). 

Pada bagian ini, akan dibahas tentang dunia fisik ontologis yang membentuk karya sastra di mana oleh Chairil Anwar dalam sajaknya menulis, “....Jangan mengerdip, tatap dan penamu asah. Tulis karena kertas gersang dan tenggorokan sedikit mau basah”.[7] 

Chairil secara gamblang menitikberatkan problem pasca-perang (atau kekerasan) sebagai kerangka acuan dan prioritas yang melaluinya sajak itu dilahirkan. Kekelaman dan kecemerlangan hidup menuntun seorang sastrawan menuju sebuah permenungan tak berkesudahan tentang kelangsungan aktivitas-aktivitas manusia yang kemudian dibahasakan dalam beragam karya sastra. 

Memahami realitas sebagaimana adanya serentak yang melampaui ‘hal itu’, dituntut adanya sikap peka dari seorang sastrawan dalam menghayati kompleksitas kenyataan. Kepekaan seseorang berkaitan erat dengan roh sebagai identitasnya yang oleh G. W. Hegel disebut sebagai ‘kesadaran-kesadaran’. 

Kesadaran tidak terbatas hanya pada kesadaran akan adanya sesuatu tetapi juga menyangkut kesadaran akan diri sendiri. Menyadari ke-aku-an diri menghantar seorang sastrawan menuju pada sebuah kesadaran akan dunia di luar dirinya. Dan hal ini memerlukan suatu gaya hidup serta latihan-latihan kontemplatif.


  • Sastra Transendental: Bentuk Representatif dari Realitas Metafisis

Wajar jika kehidupan dunia sastra kita masih berkutat pada aroma sensibilitas dengan aspek pemahaman indrawi sebagai pembentuknya. Hal ini dikarenakan oleh adanya sifat dangkal (sense of banality) para sastrawan dalam memandang dunia melalui kaca mata indrawi. 

Pernyataan di atas bukan juga bermaksud meremehkan indra dan mengagung-angungkan rasio karena pada dasarnya sebuah sastra transendental justru mengakui tetapi (sekaligus) melampaui keduanya baik dunia indrawi maupun dunia rasio. 

Untuk sebuah karya sastra transendental, yang penting ialah makna-bukan bentuk, abstrak-bukan konkret, spiritual-bukan empiris, dan yang-di-dalam yang-bukan di-permukaan.[8] 

Sastra transendental adalah kesadaran untuk membebaskan diri dari aktualitas dan peralatan idrawi menuju suatu bentuk komunikasi antarmakna. Makna bukan sekadar yang tersirat dalam sebuah bahasa tetapi ia berdiri sendiri dalam dunianya dan sifatnya abadi, tidak tergantung pada kata. 

Karena itu, seorang sastrawan yang menggumuli sastra transendental hendaknya mengutamakan roh sebagai evidensi tertinggi (maximus gradus manifestationis), mengangkat yang konkret, partikular, dan empiris menuju domain (wilayah) universal, utuh, tunggal dan menyucikannya.[9] 

Kepastian akan hal ini menempatkan karya-karya sastra pada status sastra katarsis. Untuk membuat dunia semakin bermakna, sastra transendental mutlak perlu mengingat telah sekian banyak peradaban selalu menyisahkan coretan kecil tanpa makna dan manusia melulu memberinya sebuah harga. 



Sastra dan Manusia

  • Sastra Tabu

“Seks sama berharganya dengan ajal”, begitulah Michel Foucault menempatkan perkara seks dalam sejarah umat manusia. 

Mempertanyakan dan mempertimbangkan status seks dipandang sebagai pendiskriminasian tradisi yang super organic. Hasil dari pembudayaan pemikiran seperti ini terlihat jelas dalam budaya tertentu yang menganggap seks sebagai hal yang tabu. 

Sastra sebagai hasil bentukan sekaligus yang membentuk manusia pun kena imbasnya. Banyak karya sastra yang dilarang terbit dan beredear karena dianggap terlalu berbau porno[10], meletakan persoalan seks hanya pada tataran nafsu dan naluri yang rendah, tentatif. 

Diskursus seputar sastra dan persoalan seks (dipandang amoral) menghantar kita pada kesadaran akan perlunya sastra transendental yang melampaui semua hal fisik di atas. Sebagai misal, kumpulan puisinya Joko Pinurbo[11] yang mengulas tentang persoalan kompleksitas badan dan bagian-bagian tubuh manusia tanpa membawa kita pada suatu detotalitas yang berefek pornografis. 

Singkatnya, bagi Joko Pinurbo, badan bukan hanya sebagai tanda (signifier) melainkan juga sebagai apa yang hendak ditandai (the signified).[12] 

Pendeskripsian seputar hal fisik dan metafisis dalam karya Pinurbo, menekankan pentingnya sastra yang melampaui pakaian dan tubuh agar tidak terjebak dalam mekanisme jual-beli hasrat bermuatan nilai ekonomis. 

Bagaimana mungkin sastra memanusiakan manusia jika yang ditawarkan oleh sastra hanyalah aspek perdagangan manusia secara terselubung? Menjawab pertanyaan di atas berarti menjawab kegelisahan manusia zaman ini.


  • Karya Sastra yang Bermutu

Cukup sulit menemukan sebuah kriteria yang tepat untuk menentukan bermutu tidaknya sebuah karya sastra. Hal ini dikarenakan terdapat begitu banyaknya lembaga asosiasi yang bergerak baik sebagai penghimpun aneka karya sastra maupun sebagai ‘pemberi nilai’ apresiasi atas karya-karya sastra tersebut. 

Berkaitan dengan kualitas sastra transendental, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi yakni: pertama, karya sastra itu dapat ditafsir secara harafiah oleh mereka yang awam. Maksudnya maknanya tersurat pada apa yang terbaca. 

Kedua, dapat dipahami oleh orang terpelajar. Memahami yang tersembunyi di balik susunan kata-kata. Ketiga, dapat dihayati oleh orang yang bijak. Menemukan hakekat terdalam atau yang melampaui pengarang maupun karya sastra itu sendiri. 

Keempat, sastra tidak dimaksudkan untuk merumuskan sebuah ideologi tertentu. Dalam hal ini, hadirnya lembaga-lembaga tertentu justru sebagai pelaku tindakan pemiskinan nilai transendental sebuah karya sastra yang sebenarnya terdapat baik dalam diri pembaca, pengarang, maupun karya sastra itu sendiri.


  • Nilai-nilai Sastra Transendental

Sastra transendental memiliki beberapa nilai sebagai berikut: 

Pertama, nilai religiositas. Menurut Romo Y.B. Mangunwijaya, religiositas itu bersifat universal, berbeda dari agama yang lebih menekankan pembakuan institutif.[13] 

Religiositas melampaui agama karena menyangkut unsur hakiki dan universal yakni kemanusiaan. Itu berarti, aktus memaknai karya sastra mengandaikan adanya sikap menghayati kemanusiaan kita. 
Hemat Penulis, dengan demikian satra transendental tidak sekedar dianggap sebagai sebuah usaha pada awang-awang. 

Kedua, memaknai subjek dan objek. McFarland, seorang kritikus sastra Inggris menjelaskan tiga unsur bangunan karya sastra yakni substansia, ens, dan essentia sebagaimana yang pernah ditekankan oleh Immanuel Kant dalam metode Transendentalnya. 

Substansi adalah bentuk formal karya sastra yang meliputi bahasa, metode, wawasan pengarang, dan konteks sosio-kultural. Sementara itu, ens berarti adanya partisipasi personal sastrawan dalam karyanya, dan terakhir, essentia yakni elemen metafisis yang menggerakkan manusia untuk bertindak. 
Hal ini tercermin misalnya dalam sajak-sajaknya W. S. Rendra.[14] 

Ketiga, Mediator antara filsafat dan teologi. Konsili Vatikan II menyebut sastra sebagai bentuk kebudayaan yang ‘berperan menerangi situasi umat manusia dalam sejarah dan dunia, melukiskan penderitaan dan kegembiraan, kekurangan dan kekuatannya serta membei bayangan mengenai sebuah situasi manusia yang lebih baik’ (Gaudium et Spes 62).[15] 


Matthew Arnold, seorang penyair dan kritikus sastra Inggris abad 19 mungkin terdengar berlebihan jika mengatakan bahwa bilamana agama-agama formal surut pengaruhnya maka orang akan mencari penjelasan dalam puisi-puisi. 

Namun di lain pihak pernyataan itu cukup beralasan ketika kita menyaksikan begitu banyak sastrawan melalui karyanya justru mencela fatwa dan dogma teologis yang dianggap terlalu eksklusif dan rigid.[16] Sastra hadir untuk menjernihkan manusia akan konsep-konsep problematis di atas. 


***

Hampir semua sastrawan zaman ini kurang menyadari pentingnya sebuah karya sastra transendental yang bertitik tolak dari kondisi apriori sebagaimana yang ditawarkan oleh Immanuel Kant dalam konsep Metode Transendental. 

Sastra transendental bersifat melihat hal ‘yang ada’ dalam diri sendiri dan melihat pada tiap hal yang identik dengan dirinya sendiri dan terpisah dari segala hal yang lain. Cara melihat ini mengisyaratkan ‘yang ada’ dalam relasinya dengan akal budi dan melihat pada tiap hal yang ada terbuka bagi budi, dapat dikenal, masuk akal dan dapat dipahami (intelligibile). 

Inilah yang disebut dengan penghayatan estetis dari sebuah karya sastra. Karena sastra transendental lebih mengarah pada aktus “mengada” maka seorang sastrawan perlu taktis dan jeli sebelum menghasilkan sebuah karya yang selalu mengada dalam realitas. 

Dengan demikian, sebuah karya sastra transendental semakin bernilai sejauh berapa besar dan luas perannya dalam kegiatan mengada.

Untuk menghasilkan sebuah karya sastra transendental, seseorang dituntut untuk memiliki wawasan sastra yang tidak hanya melintasi batas-batas geografis melainkan juga menjangkau batas kultural, psiko-emosional, dan psiko-spiritual pembaca. 

Wawasan sastra yang luas mengandaikan adanya stok pengetahuan yang luas pula. Untuk itu, seorang sastrawan perlu mempelajari berbagai hal khususnya pengetahuan dasar seputar bahasa dan sistem perlambangan, sejarah, budaya, pengalaman kebangsaan, dan teori-teori sastra (yang meliputi struktur, bentuk, isi, dan estetik sastra). 

Jauh di atas semuanya itu, dibutuhkan sikap peka dan sensitif serta latihan yang intens. Karena itu, tidaklah mengherankan jika sastrawan Swis, Friederich Durrenmatt sebagaimana yang dikutip oleh Paul Budi Kleden, SVD pernah mengatakan, “Seluruh karya seniku adalah sebuah upaya tanpa akhir untuk mengungkapkan visi-visi yang kuperoleh.”[17] 

Latihan yang dimaksud bukan sekedar latihan dalam kaitannya dengan teknik mengarang tetapi lebih khusus pada mengasah ketajaman akal budi dan emosi. Sastra transendental sesungguhnya mengajak kita untuk sejenak bergulat dengan pesoalan metafisika: melihat sesuatu yang dengannya, sesuatu itu ada dan selalu tanpa akhir.


Catatan Kaki:



[1]Ratna Nyoman K. Estetika Sastra dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), p. 26.



[2]Kondrad Kebung, Rasionalisasi Ide-Ide (Maumere: Ledalero, 2008), p. 203.



[3]Rasionalisme khas untuk filsafat Descartes (1596-1650) yang kemudian dilanjutkan oleh Spinoza. Filsafat empirisme mencapai puncaknya pada David Hume (1711-1776) yang oleh bangsa Perancis disebut sebagai Le Bon David atau The Terrible David oleh para pencemooh Teistiknya. Bdk. Adelbert Snijders, Seluas Segala Kenyataan, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), p. 46. Atau James Garvey, 20 Karya Fislafat Terbesar, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), p. 125.



[4]Adelbert Snidjers, op. cit., 48.



[5]James Garvey, op. cit., 193.



[6]Sikap respek lebih dimaknai dalam artian kontemplatif (Lat. Respectare: melihat berulang-ulang, memandang). Subjek dikondisikan untuk tidak hanya sebagai actor melainkan contemplator.



[7]Goenawan Mohammad, “Catatan Pinggir”, dalam Tempo 31 Januari 2010, p. 154.



[8]Dewan Kesenian Jakarta, Dua Puluh Sastrawan Bicara, (Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1984), p. 154.



[9]Ibid, 157.



[10]Sastra pernah mengalami masa-masa kekangan dan berada di bawah kendali agama maupun masyarakat, seperti masa Flaubert yang karyanya Madame Bovary dihujat sebagai amoral, dalam zaman DH Lawrance yang karyanya Lady Chatterly’s Lover dianggap mesum, dan James Joyce dengan karyanya Ulysses yang terpaksa harus dierbitkan di Perancis, karena dianggap porno. Di Indonesia pada tahun 1980-an, Matahari-matahari karya Arifin C Noer harus tertahan lama di BSF (Badan Sensor Film) karena dianggap berbau komunisme. Selain itu, Kerikil-kerikil Tajamnya Mamad dan Yang Muda Yang Bercintanya Umar Kayam pun harus tertahan lama di BSF dan akhirnya bisa beredar setelah ‘dihaluskan’ cuter sensor. Bdk. Indra Tranggono, ”Kekerasan Budaya: Kisah Sedih “Lastri” Eros Djarot” dalam http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/23/11023589/kisah.sedih, diakses pada hari Jumat, 05 Oktober 2012, pukul 21. 30.



[11]Joko Pinurbo, Di Bawah Kibaran Sarung, (Magelang: Yayasan INDONESIATERA, 2001).



[12]Ibid., xi-xxvi.



[13]Martin Bisu, “Puisi dan Religiositas” dalam VOX SERI 36/4/1991, p. 7



[14]Lihat sajak “Nyanyian Angsa” dan “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota jakarta” yang mengandung pesan-pesan kemanusiaan yang begitu kental.



[15]Paul Budi Kleden, “Menyelisik Makna Doa Sosial dalam Puisi-puisi John Dami Mukese” dalam Menukik Lebih Dalam, ( Maumere: Ledalero, 2009), p. 435.



[16]Friederich Nietzsche, Albert Camus, dan Garreth Lisi merupakan contoh konkretnya. Garreth Lisi dengan makalahnya A Very Simple Theory of Everything, dianggap fisikawan yang menemukan solusi taktis dalam mensintesiskan teori relativitas dan teori partikel yang menggangu para ilmuwan sejak zaman Einstein. Albert Camus merupakan seorang pemikir yang menggagas konsep dan kritikannya terhadap kesenjangan hidup manusia selalu dalam karya sastra. Nietzsche, seorang filsuf (sahabat karib Richard Wagner, componis terkenal) yang membuahkan dua karya pemikiran filsafat yang sangat terkenal yakni Human, All-too-Human dan Ecce Homo. Dua karya yang mengecam habis-habisan kemerosotan kebudayaan dan kebobrokan moralitas kelas borjuis termasuk secara mutlak mengagung-agungkan salah seorang seniman.



[17]Meine Werke sind der endlose Versuch, mit Visionen fertig zu warden,die zu mir kommen. Opini, Pos Kupang [Kupang], 5 Desember 2009, p. 4, kol. 1.


Post a Comment

Previous Post Next Post