Part of

AD

(Renungan Tutup Tahun Bersama Komunitas Beringin Onekore, 31 Desember 2015)



Satu tahun lagi akan lewat. Sebenarnya, berlalunya satu tahun lagi dalam hitungan kalender, bisa saja membawa makna yang berbeda bagi setiap kita. Bagi yang optimis, tahun baru berarti hidupnya sudah bertambah setahun lagi. Bagi yang pesimis, tahun baru akan berarti hidupnya sudah berkurang satu tahun lagi. Itulah hidup. Bagi mereka yang sedang menanti, waktu terasa begitu lama berlalu. Waktu juga terlalu cepat bagi mereka yang sedang bersukacita. Terlalu lamban bagi mereka yang berputus aza. Namun bagi mereka yang saling mencinta, waktu itu abadi.

Hidup ini terus berjalan dan mengalir, hari terus berganti, bulan tak hentinya berlalu, dan tahun terus bertambah pada waktunya, tanpa pernah terlambat. Ada saatnya yang tua akan minggir untuk memberi tempat pada yang muda. Begitulah siklus hidup ini berjalan.

Ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjal di setiap langkah kita. Ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri. Masih ada tangis yang mengiringi jalan kita. Masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan seperti ini.

Di keluarga, ketika kita didudukkan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua. Dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan yang terbaik untuk mereka. Lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai kakek dan nenek, kita merasa ditinggalkan dan terabaikan. Kita kesepian.

Di pekerjaan, ketika didudukkan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan. Dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut. Ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai makhluk yang paling malang. Sebagai insan yang paling menderita di dunia. 
Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil? Mengapa kita harus terlahir hanya untuk menanggung derita-derita yang berkepanjangan ini?

Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat. Kita merasa begitu lelah. Kita merasa terabaikan. Tubuh kita seakan mati rasa. Denyut nadi kita berhenti sesaat. Kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya. 

Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita buka mata dan hati kita. Mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini. Seberapa baik kita telah membangun masa depan? Disadari atau tidak, kita dapat membangun masa depan melalui hal-hal sederhana seperti pelukan kita pada Ibu, melalui secangkir kopi yang kita sajikan pada Ayah, melalui kecupan selamat pagi untuk pasangan kita, atau melalui uluran tangan kita ketika menuntun anak-anak untuk belajar berjalan.

Melalui kesempatan ini, ketika kita masih ada waktu, selama kita masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih sayang, mari kita lakukan hal-hal sederhana itu sekali lagi. Mari peluk Ibu yang di samping kita dan nyatakanlah cinta kita. Mari kita kecup kening bocah kecil kita. Mari kita genggam tangan pasangan kita dengan mesra. Mari kita berjabat tangan dengan teman kita dan katakan betapa kita menghargai persahabatan itu. Dan, mari kita maafkan mereka yang pernah menyakiti kita. Bukankah air mata tak membuat kembang yang mekar lenyap?

(Satu persatu maju dan bakar kertas yang bertuliskan kegagalan pada tahun kemarin)
 


Tahun adalah cermin.  Di depannya, setiap sehabis 31 Desember,  akan saya lihat: guratan umur makin mengeras. Keriput  makin banyak. Pori-pori kulit membesar. Rambut rontok. Warna bibir memudar. Dan waktu kembali jadi angka:  jika tahun ini kau rayakan ulang tahun ke-20, atau ke-30, atau lebih, kita tahu jangka waktu hidup yang sama tak akan tercapai lagi. Orang tidak mungkin merayakan HUT ke-17 sebanyak dua kali bukan? Ujung jalan itu sudah tampak. Dalam arti itulah masa depan jadi lebih tertentu: hidup akan berakhir. 

Saya pasti tak akan menyaksikan 7.000.000 batang muda yang ditanam tahun lalu tumbuh jadi pohon-pohon tinggi dan rimbun, seperti deretan pokok asam dan mahoni di tepi jalan di kota saya masa kecil. Saya tak akan lihat tanah air kaya, kembali dengan hutan tropis yang lebat.  Saya pasti tak akan merasakan jalan-jalan tak lagi macet, polusi udara berkurang karena bensin tak lagi dipakai, dan bulan tak kusam ketika malam purnama, dan di Jakarta, di ibu kota, sesuatu yang lebih manusiawi hadir bahkan di rumah sakit umum, di penjara, di kaki lima. Ya, banyak sekali yang pasti tak akan saya alami.

Tapi siapa yang dapat mengatakan, hal-hal indah itulah yang akan terjadi?  Bagaimana bila sebaliknya? Bagaimana jika kelak ribuan dusun dan kota hilang tenggelam oleh laut yang menggelegak karena lapisan es di kutub utara mencair?  Bagaimana jika yang terjadi adalah bentrokan berdarah yang tak henti-hentinya, karena masyarakat jadi amat timpang antara kaya dan miskin, dan sumber-sumber alam kikis,  dan orang mengamuk karena kehilangan rasa keadilan? Bagaimana jika mereka yang lemah terus tertekan oleh kemahakuasaan uang, ketidak-jujuran pejabat negara, dan sifat represif dari lembaga-lembaga adat dan agama?

Saya, seperti anda, tak tahu bagaimana menjawab itu. Orang mampu meyusun statistik, membuat prediksi, memperkirakan probabilitas. Tapi kita tahu hidup tak bisa distatistikkan, karena yang tak lazim selamanya bisa terjadi – atau memang selalu terjadi.



Sekurang-kurangnya, setiap kali pergantian tahun, kita disodorkan tiga hal ini: syukur, bakti, dan harapan.

Pertama, Syukur

Ketika berjalan di pasir, ratusan jejak terhampar di belakangmu. Bagi saya, jejak-jejak itu merupakan alasan untuk mengatakan bahwa engkau sedang melakukan sebuah perjalanan. Tanpa jejak-jejak, orang bisa saja menganggapmu sebagai penipu. Demikian pula ketika berenang. Untuk maju, kedua pasang kakimu perlu ditekuk, selanjutnya mendorong kandungan air di belakangnya. Tanpa berbuat demikian, sudah pasti tubuhmu akan tenggelam. Nah, pernakah kita berpikir untuk berterima kasih dan bersyukur atas hal-hal seperti itu? Hal-hal yang kadang luput dari perhatian kita karena sering dianggap kurang bahkan tidak penting? Sungguh, lebih sering kita bersikap tidak peduli dengan apa yang sedang dialami oleh orang lain. Kita bahkan tak pernah berpikir burung di dahan cemara itu sedang sedih atau bahagia ketika kicauannya membuat kita terlena.

Tahun 2015 bukan sekadar rangkaian hari, lalu bulan, dan menjadi tahun. Ia lebih dari itu. Beberapa menit lagi, 2015 tinggal sebuah kenangan. Tetapi, apa pentingnya sebuah kenangan? Bayangkanlah! Ketika Anda berjalan, tanpa harus dikompromi terlebih dahulu, salah satu kakimu diangkat ke depan dan kaki yang lain dijadikan sebagai tumpuan untuk menahan berat tubuhmu. (praktekkan itu di depan pendengar)

Mengapa demikian? Kaki yang terangkat itu disebut sebagai orientasi, ke tempat mana Anda mau melangkah. Sedangkan, kaki yang digunakan sebagai tumpuan itu merupakan basis, dasar, atau fondasi.
Atas cara tertentu, tahun 2015 merupakan basis, fondasi, atau dasar. Aneka peristiwa yang terjadi dalam lingkaran tahun 2015 merupakan alasan bagi kita untuk tetap bertahan dalam hidup. Itulah yang disebut sebagai kenangan. Bahkan, bertahannya Gereja Katolik selama ribuan tahun juga berdasarkan atas kenangan.

Sadarkah kita bahwa 1 milidetik yang lalu itu pun sebuah kenangan? Karena demikian dekatnya hidup seorang manusia dengan kenangan, tidak mungkin ada hidup tanpa kenangan. Tahun 2015 selalu memiliki rekam jejak. Ketika langit masa kini seolah runtuh karena beratnya persoalan hidup, menengok masa lalu menjadi satu langkah untuk kembali menyulut api harapan. Untuk itulah, mengapa kita semua melakukan ritual seperti ini. Sebab, pergumulan yang jujur dengan masa lalu, kata Pater Budi Kleden, akan menawarkan kita arah ke masa depan. Menemukan arah yang jelas itu dapat membantu kita menguraikan kembali benang-benang kusut yang sering membuat kita putus asa menghadapi tantangan yang ada sekarang.

Kedua, Bakti

Masa lalu adalah warisan dan masa depan adalah kemungkinan. Sedangkan masa kini adalah kenyataan untuk belajar dari masa lalu guna merealisir masa depan yang cerah. Jangan lihat masa lalu dengan penyesalan. Jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tetapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran.

Seorang ateis berkebangsaan Prancis, Yoseph Graudy, berkata: “Saya tidak tahu banyak tentang orang ini (maksudnya adalah Yesus dari Nazareth), tetapi saya tahu persis bahwa seluruh hidupNya menyampaikan pesan ini: Setiap orang dapat memulai masa depan baru setiap saat.”

Kalian tahu, setiap kali pergantian tahun, saya selalu sempatkan diri berdiri di depan kalender dan membayangkan bahwa bulan Januari itu seperti seorang gadis remaja. Kedua belah pipinya mendadak memerah karena rasa malu bercampur bahagia ketika saya katakan, “Sayang, aku ingin mencintaimu seperti tahun kemarin.”

Saat ini, saya tidak mengajak kalian untuk menyusun rencana gemilang atau strategi ampuh dalam menghadapi tahun baru. Saya hanya ingin menegaskan satu hal ini: Kita sering lupa berbahagia. Hidup memberi kita sepuluh alasan untuk menangis, seratus alasan untuk menyesali diri, dan seribu alasan untuk tenggelam dalam keterpurukan. Tetapi ingatlah, cinta dan kasih sayang Allah memberikan kita satu alasan untuk tersenyum. Tuhan menyembunyikan anugerah indah bagi setiap orang dan baru membukanya saat engkau siap untuk mengangguk saja.

Arnoldus Nota menulis bahwa ada paradoks waktu dalam sejarah hidup manusia yakni kita memiliki gedung-gedung yang tinggi namun tabiat dan perilaku kita semakin rendah. Jalan raya kita semakin lebar dan licin, namun kita memiliki sudut pandang yang sempit. Banyak yang kita habiskan tapi hanya sedikit yang kita peroleh. Banyak yang kita beli, tapi hanya sedikit yang kita nikmati. Kita memiliki rumah yang besar namun dengan anggota keluarga yang sedikit. Banyak gelar yang kita miliki, namun kita kurang pengertian. Meski banyak pengetahuan yang kita miliki tapi kita semakin kurang adil. Kita semakin ahli tetapi semakin banyak ada masalah. Makin banyak obat yang ditemukan, tapi makin banyak pula penyakit. Kita minum terlalu banyak, menghabiskan secara serampangan, terlalu sedikit tertawa, mengendarai terlalu ngebut, tidur terlalu larut, malas bangun pagi, terlalu sering nonton TV, sulit move on, mudah galau, terlalu banyak bicara tapi jarang mencintai, terlalu sering mengupdate statu facebook dan BBM tapi sulit menjadi pendengar yang baik.

Sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia. Suatu ketika angin mengguncang dedaunan hingga rontok ke tanah tetapi kemudian hutan yang rimbun melahirkan, dan musim semi hadir. Begitulah generasi manusia, yang datang dan pergi.

Ketiga, Harapan

Ibu mana yang menimang-nimang anaknya sambil berkata, “Cepatlah tua anakku!”?

Menyambut Tahun 2016 kadang diwarnai dengan kata ini: NANTI. Contohnya: NTT: Nanti Tuhan Tolong atau Nanti Tuhan Tegur. Tanpa kita sadari, kata NANTI berarti penundaan atas apa yang seharusnya bisa dibuat saat sekarang. Nanti kalau saya jadi Presiden, saya akan stabilkan perekonomian dengan peningkatan ekspor. Nanti kalau saya jadi dosen, saya akan ubah metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan budaya masyarakat Ende. Nanti kalau saya jadi kepala desa, saya akan gunakan dana dari pusat untuk bangun bak penampung air karena PDAM sekarang kerjanya tidak becus. Nanti kalau saya berusia 30 tahun, saya akan belajar setia pada satu orang saja. Nanti kalau sudah kuliah, saya belajar yang serius dan tamat pada waktunya. Nanti kalau saya sudah berkeluarga, saya lebih memprioritaskan orang lain daripada diri saya sendiri. Dan,,,, ribuan nanti yang lain. Lalu kita jadi lupa tentang apa yang mesti dibuat saat ini. 

Itulah kecemasan bagi saya ketika orang terlalu banyak berharap dan bermimpi sampai lupa bahwa 99% masa depan ditentukan oleh apa yang kau buat hari ini. Penyair Joko Pinurbo menulis sebuah puisi yang bunyinya begini: Jarak antara bibir dan hatimu sangat dekat, tetapi macetnya sungguh kesumat. Itu berarti apa yang kita omong kadang bertolak belakang dengan apa yang kita buat. Isi kepala kita seperti jalanan di Jakarta. Terlalu banyak keinginan yang minta didahulukan.

Sebuah puisi dari Penyair berkebangsaan Spanyol, Giovanni Patri, demikian:
Kenapa gadisku manis, kau berdiri di pintu, dan selalu pandanganmu ke jalan itu tertuju?

"Akh... jika tuan tahu! Ya, lewat jalan itu, Ibuku mereka usung, setelah maut mencabut nyawanya. Mereka katakan daku, tuan, lewat jalan itu baliknya dan sebabnya mengapa aku begitu lama menunggu."

"Akh, kasihan anakku, apa kau begitu dungu sampai tak tahu: orang mati tak kunjung kembali?"

"Kembang-kembangku kembali, bintang-bintang pun kembali. Dan mengapa tak boleh tidak: kembali ibuku."

"Siapa nama Ibumu?"
"Waktu."


(Mulai berhitung, sebelum jarum jam menunjukkan pukul 00.00).

Post a Comment

Previous Post Next Post