Part of

AD



Kritik Atas Nietzsche


Kematian Filsafat Barat dan Metafisika

Cukup mencengangkan ketika dikatakan bahwa “kehadiran Nietzshe” justru menjadi alasan mendasar berdentangnya gong kematian filsafat Barat sekaligus metafisika di samping ada pernyataan lain yakni Whitehead yang mengatakan bahwa Nietzsche bukanlah “catatan kaki” bagi filsafat Plato. Mungkin pernyataan Whitehead bahwa seluruh filsafat Barat adalah sekadar catatan kaki bagi Plato tidak dimaksudkan mencakup Nietzsche karena Nietzsche tidak dapat dianggap sebagai “filsuf”.[1] 

Adalah benar jika Nietzsche mengkritik habis-habisan metafisika barat yang berusaha menemukan prinsip dasar kebenaran dan filsafat dengan pengagungan mutlak atas rationalitas manusia. Namun hemat saya, Nietzsche sendiri membangun teorinya tentang supermen dan kehendak untuk berkuasa dengan begitu amat metafisis walaupun ia sendiri menulis tidak mengikuti metode penulisan yang sistematis dan tidak jarang “membingungkan” para pembaca. Sebaliknya Nietzsche benar, jika kritikannya terhadap filsafat dilandasi oleh kenyataan adanya orang yang berpikir dan berfilsafat tanpa ada usaha untuk mengejawantahkan jati dirinya dalam hasil pikirannya, melainkan sekedar menerapkan metode-metode statistik pada fenomena.[2]

Kritik Atas Moralitas Melalui Immoralitas dan Kehendak Berkuasa

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Nietzsche menganjurkan immoralitas sebagai solusi untuk mengatasi nihilisme oleh karena tumbangnya moralitas tuan. Immoralitas memungkinkan manusia untuk bertindak secara ‘merdeka’ tanpa dituntun oleh otonomi mutlak “Allah”, dan berusaha mengaktualisasikan dirinya menuju kesempurnaan, Supermen.  Usaha menggantikan tempat “Allah” dengan “Supermen” ciptaan manusia merupakan hal yang ambigu. Bagaimana mungkin manusia berusaha mempercayai supermen yang utopis sambil melepaskan diri dari “Allah” dan menguhungkannya dengan kekuatan anonim ini? Kemanusiaan yang termiskinkan oleh nilai-nilai melemahkan kelas budak, menurut Nietzsche, sudah saatnya dibongkar. Langkah pertama pembongkaran nilai-nilai budak adalah pembunuhan “Allah” sebagai idealisasi rasa benci, dendam ketidakberdayaan kelas budak menghadapi kelas aristokrat. Allah adalah pelipur lara kelas budak yang menjamin dendam mereka akan terlampiaskan dengan menghukum yang jahat di akhirat. “Allah” adalah jaminan bagi kelas budak utnuk berdamai dengan kegagalan, kelemahan dan ketakberdayaan, karena semua itu akan tekompenisasi oleh hadiah surgawi. Bahaya yang muncul dari konsep ini adalah kalau memang moralitas adalah sesuatu yang relatif maka semua orang berhak untuk membuat penafsiran sendiri-sendiri tentang moralitas. Bukankah akibatnya masyarakat akan kacau balau?

Pembunuhan “Allah” sudah tak terelakkan lagi guna mentransvaluasi nilai-nilai dan memunculkan adimanusia (ubermensch) yang afirmatif terhadap hidup dan mengakomodasi kehendak berkuasa sebagai nilai tertinggi. Supermen, menurut Nietzsche, akan menggantikan posisi “Allah”, karena ia sendiri menentukan yang baik bagi dirinya (suatu peralihan dari ‘kamu harus’ ke ‘saya ingin’). Supermen inilah yang nantinya akan menganut amor fati (cinta kasih) dan percaya akan kembalinya secara sama segala sesuatu (eternal recurrene of the same). Amor fati adalah kecintaan akan hidup ini dan ketidaksudian untuk melarikan diri ke dunai akhirat sebagai kompensasi penderitaan di dunia ini. 

Konsekuansi dari amor fati adalah tiadanya akhirat sebagai keabadian sejati yang mendegradasikan hidup duniawi sebagai kesementaraan tanpa makna, akhirat dimana tuhan akan mengeksekusi yang jahat dan menghadiahi yang baik (versi budak tentu saja). Ketiadaan “Allah” dan akhirat disampaikan Nietzsche lewat gagasnnya tentang kembalinya segala sesuatu secara sama. Bahwasanya dunia menjadi bernilai ketika “Allah” sudah lenyap; apa pun yang pergi akan kembali lagi, apa pun yang kering akan merekah lagi. Dunia yang kita hidupi sekarang dapat dikatakan sebagai abadi dan divine; sifat-sifat yang tadinya hanya dilekatkan pada “Allah” transenden.

Singkatnya “Allah” adalah absurd karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia telah mendorong orang untuk takut terhadap hasrat, tubuh, seksualitas mereka sendiri dan mempromosikan moralitas belas kasih yang membuat kita lemah. “Allah” telah lama digunakan untuk mengasingkan manusia dari kemanusiaan melalui tindakan menolak dunia (asketisme). Nietzsche terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa manusia beriman kepada “Allah” (entah dengan “A” hufuf kapital, ataukah “a” huruf kecil) karena hingga saat ini terdapat begitu banyak orang yang dalam situasi penderitaan memilih secara bebas dan bertanggungjawab untuk beriman kepada Allah. Nietzsche dengan begitu gampang menuding agama Kristen dalam konteks kritikannya terhadap iman. Atau menurut Paul Ricoeur, Nietzsche masih terlalu pagi untuk zaman ini. Ia lebih berperan sebagai nabi daripada seorang filsuf.[3]


Kritik Atas Gagasan Antropologis

Membaca Nietzsche sebenarnya berarti membaca diri kita sendiri. Untuk itu, menjadi penting adalah ketika muncul pertanyaan, apa yang akan dikatakan oleh filosof yang tetap mau percaya kepada Allah ketika berhadapan dengan Nietzsche? Mungkin di satu sisi, ia akan mahfum jika kritikan Nietzsche terhadap agama berkaitan dengan moralitas sungguh relevan. Namun di lain sisi, ia akan menyangkal bahwa agama sepanjang sejarah selalu muncul sebagai tameng  pelbagai nafsu manusia yang rendah: ketakutan manusia, kecenderungan untuk lari dari tanggung jawabnya, kemalasannya dalam enak berprasangka, agama sebagai topeng penutup ketidaksediaan manusia untuk belajar, untuk berkembang, untuk membuka diri, dogmatis, picik, tidak toleran, dan sebagai wahana sentimen. Itulah yang perlu disangkal.

Apakah mempercayai Allah senantiasa dengan alasan yang selalu sama yakni pelarian dan kebohongan? Nietzsche melupakan hal mendasar bahwa sesungguhnya manusia percaya kepada Allah justru karena dengan demikian ia semakin menyadari eksistensi dirinya dalam dunia. Bahkan kepercayaan tersebut memungkinkan manusia untuk mengurbankan dirinya sendiri, sekalipun itu perlu mati dalam kebahagiaan. Apakah manusia beragama ini berhati budak? Memang, Nietzsche sungguh mewakili sebuah budaya kritis yang sangat fundamental. Namun bagaimanapun kita perlu mempertanyakannya. Apakah solusi yang diberikan oleh Nietzsche ini merupakan yang terbaik? Apakah nilai-nilai yang ia utarakan merupakan nilai yang paling benar? Ketika “Allah telah mati” dan Nietzsche menganjurkan Superman (ubermensch) sebagai tanggapannya maka nilai kemanusiaan yang dianggap bernilai dalam pandangan Nietzsche sebenarnya apa yang biasa dipandang sebagai ketidakbernilaian. Bukankah setelah kita jatuh dalam nihilisme, kita kembali disuguhi oleh konsep Nietzsche yang lebih menakutkan? Ada yang mengatakan bahwa pandangan Nietzshe tentang usaha menciptakan nilai sendiri setelah melewati era nihilisme, merupakan sebab munculnya pandangan Nasionalis Sosialis Hitler.

Relevansi

Nietzsche, tidak berlebihan jika dikatakan sangat berpengaruh dalam berbagai bidang pengetahuan, seperti: sastra, teologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Di dalam filsafat Barat abad ini, pengaruhnya sangat kental dalam pemikiran Heidegger, Richard Rorty, Jacques Derrida. Dalam diskusi seputar tema “filsafat postmodernisme”, pemikiran Nietzsche memegang peranan penting. Ia menggiring filsafat modern sampai ke batas-batasnya, dan memungkinkan para filsuf lainnya tidak hanya berbicara tentang “kematian Allah”, tetapi juga “kematian manusia’, dan “the end of philosophy”.

Metode Menulis Nietzsche

Nietzsche menulis beberapa karyanya dalam situasi sakit dan seolah-olah ia sebenarnya mengibaratkan kegiatan menulis itu seperti proses melahirkan: “kita harus melahirkan pikiran-pikiran kita dari rasa sakit, dan seperti seorang ibu, kita harus memberikan darah, hati, api, kesenangan, gejolak penderitaan, perasaan, nurani, takdir, dan bencana kepadanya”.[4] Tidak sedikit juga dalam bagian-bagian tulisannya, ia marah-marah, seperti dalam uraiannya tentang sejarah dan moralitas. Demikian pula ketika ia meracau seperti dalam tulisannya tentang manusia agung. Dengan kata lain, ia menulis dalam konteks dirinya sendiri semata-mata, seperti orang menulis puisi dan bukan seperti orang menulis karya ilmiah. Maka saya kira, Nietzsche tidak pernah “menjelaskan” atau “menguraikan”, melainkan selalu berkata kepada pembacanya: “pahamilah aku!”.

Mempertanyakan Inti Iman

Kita tahu bahwa “Nietzsche si Pembunuh Tuhan” sebagai promotor humanisme atheis sombong yang mengira bisa membunuh Tuhan, tetapi akhirnya jatuh dalam krisis tragis. Jika Tuhan mengerdilkan manusia, Ia pun harus dibunuh .Tuhan yang dibunuh terutama adalah Tuhan Kristen yang membuat manusia teralienasi dari dirinya sendiri, yang menjerumuskan manusia ke lumpur, yang menginjak-injak dan mematahkan manusa. Kalau ada sisi positif dari gagasan antropolgis semacam ini adalah ia membantu kita untuk memurnikan pemahaman kita tentang Tuhan (dan agama). Tuhan jangan lagi dipandang sebagai yang menghalangi manusia. Karena jika dipandang demikian, Tuhan seperti itu pasti mati. Dari tafsir semacam ini Nietzsche dilihat menjadi “pembebas” dari Tuhan yang seperti itu. Jadi, kalau Tuhan kita lain dari yang dimaksud oleh Nietzsche, kita masih boleh bertenteram diri dalam kepercayaan kita.

Salah satu tantangan terberat untuk umat Kristen dewasa ini adalah merasuknya gejala sekular dalam dalam perkembangan kebudayaan global umat manusia. Menjamurnya sekularisme membuat manusia lebih mendewakan teknologi dan mesin-mesin canggih. Manusia mulai memisahkan diri dari ikatan iman yang dianggapnya buta dan mulai mengembangkan segala potensi dalam dirinya secara bebas. Bahaya yang muncul sesudahnya adalah ketika aneka pertanyaan eksistensial tentang penyakit, penderitaan, bencana, dan polemik hidup yang tidak tuntas dijawab oleh agama akhirnya dijawab secara rasional melalui teknologi. Kondisi demikian, tidak jarang menyebabkan manusia mulai meninggalkan agama yang dimatanya sebagai institusi penghambat perkembangan dirinya. Oleh karena itu, menjadi penting pemikirian Nietzsche jika ditempatkan dalam sebuah upaya pemurnian iman Kristen sendiri. Di sini, Allah bukan lagi dibicarakan dalam terang metafisis tetapi harus ditafsir dalam terang kodrati dan manusiawi.



Menumbuhkan Gagasan Kemanusiaan

Menurut Nietzsche, idealisme dan rasionalisme justru mengasingkan manusia dari dunia konkret hidup mereka. Nietzsche mengatakan bahwa penekanan berlebihan atas rasio, akal, dan kesadaran akan menghantar manusia pada tuntutan akan kesamaan dan uniformitas dalam segala hal.[5] Imbasnya adalah tidak ada konflik dan pertentangan yang membahayakan kesatuan pola pikir yang sama. Padahal, penerimaan dan pengolahan konflik secara wajar sungguh akan lebih mendewasakan manusia.[6] Di dalam wacana tersebut terdapat peluang  bagi terciptanya penghargaan atas kebebasan berpikir menuju perkembangan kemanusiaan yang lebih wajar. Hal ini tercermin dalam pandangannya tentang kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht) sebagai unsur kodrati dalam diri manusia. Hanya dengan mengaktifkan kembali kehendak tersebut, manusia mampu keluar dari situasi membanjirnya nihilisme.

Baca juga tulisan saya: Allah yang Rentan dan Dimensi Etis Demokrasi

Ketika menghadapi kerancuan hidup di mana segala sesuatu berjalan secara tidak seimbang, dan manusia kehilangan horizon, pemikiran Nietzsche tentang kelahiran tragedi dalam The Birth of Tragedy patut dimakanai secara arif. Bertolak dari seni Tragedi sebagai gabungan Donysian dan Apollonian-sebuah kondisi kekacauan, hilangnya individualitas manusia ketika dia melebur dalam kemanunggalan dengan “kemanunggalan yang asali”---Nietzsche memberikan “seni kehidupan yang membuat bangsa Yunani menjadi tegar dan mampu menghadapi penderitaan”. Artinya, “seni” itu sejatinya adalah sebuah “pesimisme” koor Dionysian yang berbicara tentang kesengsaraan hidup sehingga lebih baik manusia tidak usah mengertinya kalau mengerti ia justru bisa kehilangan semangat untuk hidup. Dan kehebatan Nietzsche justru terletak pada penemuannya akan “pesimisme” sebagai alasan bagi lahirnya sikap afirmatif  bahwa “hidup memang penuh kesengsaraan” dan karena itu manusia tidak hanya sekadar menerimanya dengan pasrah melainkan menghadapinya secara bijak.

Penutup

Tidak dapat disangkal betapa pentingnya peranan Nietzsche dalam tesis pemikiran para filsuf beberapa dasawarsa terkahir. Saya kira ada baiknya saya mengutip pendapat Michel Foucault mengenai perlu tidaknya kita menafsir Nietzsche secara sungguh-sungguh.

“Kehadiran Nietzsche saat ini makin lama makin penting saja. Tetapi, saya capek dengan orang-orang yang mempelajari Nietzsche hanya untuk menghasilkan komentar-komentar yang mirip dengan apa yang dibuat untuk Hegel dan Mallarme. Bagi saya sendiri, saya mengunakan para penulis yang saya sukai. Satu-satunya sumbangan yang valid untuk pemikiran sekaliber Nietzsche adalah menggunakannya, mendeformasinya, membuatnya mengeram dan protes. Dan jika para komentator kemudian mengatakan saya sebagai setia atau tidak setia pada Nietzsche, that is of absolutely no interest.”[7]

Beberapa gagasan dasar Nietzsche tentang moralitas, kehendak untuk berkuasa, nihilisme, dan kembalinya yang abadi merupakan kunci bagi manusia dalam memandang kehidupan secara lebih manusiawi dan bertanggungjawab.  Nietzsche yang menganggap moralitas Kristen sebagai “vampir” yang mengisap individualitas manusia lalu menawarkan pendobarakan semua sistem nilai. Moralitas itu tampak dalam keberadaan Allah yang mendeterminasi segala gerak perubahan manusia dalam agama-agama modern. Allah jenis ini membuat manusia takluk dan pasrah menerima aneka kenyataan hidup tanpa bisa berbuat banyak. Oleh karena itu, untuk membebaskan manusia dari situasi “terpenjara” ini, Allah harus dibunuh. Akibat dari aktus pembunuhan, ini adalah muncullah sebuah zaman ketiadaan nilai-nilai, nihilisme yang membuat manusia gamang dan gugup dalam menjalani hidup. Namun demikian, nihilisme tidak membuat manusia hanya bersikap pasif tetapi berusaha menemukan jalan keluar dengan mengaktifkan kembali kehendak untu berkuasa di dalam dirinya. Kehendak tersebut merupakan syarat utama bagi kelahiran Supermen, Ubermensch, yang mengambil alih posisi Allah yang telah dibunuh sebelumnya.

Sebagiamana telah saya jelaskan dalam karya tulis ini bahwa membaca Nietzsche berarti membaca diri sendiri, terdapat beberapa poin penting yang menjadi bahan pertimbangan bagi pembaca untuk memahami gagasan Nietzsche antara lain:
Pertama, Sikap terhadap nihilisme. Nihilisme, oleh Goenawan Mohamad, selalu menawan, “memang bisa asyik. Ia memperdaya”, [8] merupakan sengatan serius bagi kita untuk tetap waspada terhadap perkembangan teknologi dan media massa yang tidak jarang merelatifkan semua nilai dan norma dalam masyarakat. Tidak ada lagi unsur penting, pegangan hidup selain proses pengambangan massa (floating the mass) yang “ikut ramai” karena ketiadaan prinsip hidup dan mudah digiring oleh kelompok kepentingan tertentu. Kedua, Mensejatikan Iman. Hal mendasar yang mendorong saya menulis tentang Nietzsche adalah status saya sebagai mantan seorang calon imam SVD di mana hal ini sangat penting dalam tugas pastoral kelak di tengah umat. Diskursus soal iman memang bukanlah perkara mudah dan biasa karena selalu melibatkan banyak faktor ekstenal dan internal dalam diri seorang pribadi. Karena itu, Nietzsche dengan gagasannya tentang “kematian Allah” dalam tulisan ini hendaknya menjadi titik acuan bagi penafsiran saya dalam membaca konteks umat yang tidak jarang mengidolakan gaya hidup sekularistis. Apakah agama tidak lagi dibutuhkan oleh manusia? Saya pikir ini pertanyaan yang serius di tengah kenyataan bahwa banyak orang mulai meninggalkan agama dan beralih kepercayaan pada aliran-aliran kebatinan (masyarakat postmodernis). Namun satu hal yang pasti adalah samapai saat ini, agama masih sangat relevan. Dan karena alasan itulah, saya menulis tema ini.


DAFTAR PUSTAKA 

Buku-buku:

Amstrong,  Karen. Sejarah Tuhan. Bandung: Mizan Media Utama, 1993.
Budi Hardiman, F. Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia, 2007.
Garvey, James. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Kaufmann, Walter. Nietzsche, Philosopher, Psychologist, Antichrist. New Jersey: Princenton University Press, 1974.
Kebung, Konrad. Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide (Esai Tentang Manusia). Jakarta: Prestasi Pustaka, 2008.
Kleden, Paul Budi. Membongkar Derita (Teodise: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi. Maumere: Ledalero, 2007.
Magnis-Suseno, Franz. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.
Marie de Voltaire, Francois. Philosphical Dictionary, terj. Theodore Besterman. London, 1972.
Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra: A Book for All and None, (terj.) Thomas Common. The Pennsyvania State University, 1961. 
Noor, Agus. Matinya Toekang Kritik, Yogyakarta: Lamalera, 2006.
Santosa, Akhmad. Nietzsche Sudah Mati. Yogyakarta: Kanisius, 2009.
Sastrapratedja, M. (ed), Manusia Multi Dimensional. Jakarta: Gramedia, 1986.
Wibowo, A. Setyo. (ed.) Para Pembunuh Tuan. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Majalah:

TEMPO, 12 Desember 2010.
TEMPO, 25 Agustus 2008.
TEMPO, 29 November 2009.





[1]Akhmad Santosa, Op. Cit., 180.
[2]Sekali lagi, Nietzsche hidup pada zaman di mana pemberian prioritas lebih bagi dominasi akal budi. Tidak heran jika, Jerman sangat kental dengan tendensi menguasai seluruh dunia oleh karena rasionalitas yang dimilikinya. Slogan Deutschland uber alles yang menjadi kalimat pembuka dalam lagu kebangsaan Jerman namun dihilangkan sesudahnya, merupakan salah satu contohnya. Tentang hal ini, terdapat kritikan pedas dari berbagai penyair Jerman waktu itu. Untuk menyebutkan salah satunya, seperti Schiller, dalam salah satu sajaknya yang kemudian digunakan oleh Beethoven dalam simpfoni ke-9 Song of Joy.
[3]A. Sudiarja, “Pergulatan Manusia dengan Allah dalam Antropologi Nietzsche”, dalam M. Sastrapratedja (ed.), Manusia Multi Dimensional, (Jakarta: Gramedia, 1986), p. 14
[4]Akhmad Santosa, Op. Cit., pp. 185-186.
[5]Konrad Kebung, Op. Cit., 82.
[6]Ibid.
[7]Kutipan wawancara ini bisa ditemukan dalam “Prison Talk” [interviewer: J. J. Brocher] dalam buku Michel Foucault, Power/Knowledegengane: Selected Interviews and Other Writings 1972-1977, Edited by Colin Gordon, New York: Pantheon Books, 1980, p. 53. Bdk, A Setyo Wibowo, “Nietzsche Manusia Ressentimen: Asal Usul Kesalahan Tafsir Akhmad Santosa dalam Nietzsche Sudah Mati” dalam Akhmad Santosa, Op. Cit., 277.
[8]Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, TEMPO, 25 Agustus 2008, p. 54.

Post a Comment

Previous Post Next Post