Part of

AD

Nietzsche: Allah Telah Mati

Nietzsche menjadi seorang ateis sejak masih muda, ketika ia menjadi murid profesor Ritschl di Leipzig. Kritikannya terhadap teisme merupakan nafas dalam hampir semua karyanya, dan memuncak dalam Antichrist.[1] Dalam bukunya Die fröhliche Wissenschaft (Pengetahun Ceria), Nietzsche bercerita mengenai orang gila yang membawa sebuah lantera bernyala ke tengah-tengah pasar dan berseru: “Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!”

Dalam perumpamaan itu, Nietzsche melukiskan dirinya sebagai orang gila tersebut, dan dia bukan hanya mengumumkan ateisme, melainkan juga meramalkan datangnya zaman ateistis. Kegilaan sebagai konsekuensi dari kematian Allah itu tidak disadari orang, sampai datang zaman kegilaan universal, yaitu penemuan kesadaraan bahwa Allah benar-benar telah hilang. Ketika Allah benar-benar mati maka terbukalah horizon bagi kemerdekaan berpikir dan bertumbuhnya kreativitas dalam diri manusia. Tak ada lagi larangan dan perintah seiring dengan raibnya dunia transendental. Dalam pengertian ini, hidup manusia tidak lagi diarahkan oleh sebuah dunia transenden. Dia tidak lagi berlindung di bawah naungan Allah karena sikap pengecut dan penolakannya terhadap dunia ini.

Mengenal Friedrich Nietzsche

Friedrich Nietzsche lahir pada tanggal 15 Oktober 1844 di Röcken di wilayah Sachen, Prusia dari sebuah keluarga Protestan Lutheran yang sangat saleh. Pada tahun 1854, ia masuk Gymnasium di kota Naumburg namun empat tahun kemudian ibunya memintanya belajar di sebuah sekolah asrama Lutheran di kota Pforta. Pada tahun 1865, dia belajar filologi di kota Leipzig, di bawah bimbingan profesor Ritschl. Dalam masa sekolah inilah, ia banyak berkenalan dengan orang-orang besar yang kelak memberikan pengaruh terhadap pemikirannya, seperti Johan Goethe, Richard Wagner, Arthur Schopenhauer dan Fredrich Ritschl.

Pada usia 46 tahun, tanggal 25 Agustus 1990 rajawali kaum filsuf ini menghembuskan nafas yang terakhir di Weimar. Ia meninggalkan nama dan karya-karyanya yang sampai hari ini tidak usang untuk dinikmati berulang-ulang. Ia adalah filsuf, filolog, kritikus seni musik dan sastra, dan psikolog. Dalam semua tema yang disajikannya, ia mampu mengemukakan dengan gaya bahasa yang menarik dan pandangan-pandangan yang orisinil. Filsafat Nietzsche seperti samudera yang menampung air dari berbagai aliran sungai. Ada warna realisme, vitalisme, dan pragmatisme. Dari berbagai warna aliran tersebut di tangan Nietzsche melebur menjadi filsafat nihilisme, di mana warna berbagai aliran tersebut sulit untuk dilihat wujudnya secara terpisah.

Beberapa Karya Penting

Ada pun pemikiran Nietzsche yang terbilang rumit untuk dipahami terutama dalam beberapa karya yang dihasilkannya. Ketika ia berkenalan dengan musik Richard Wagner, persahabatan itu akhirnya memengaruhi tulisannya pada periode pertama riwayat inteletualnya, Die Geburt der Tragödie aus dem Geiste der Musik (Asal-usul Tragedi dari Semangat Musik, 1872). Antara tahun 1873-1876, dia menerbitkan empat buah esai dengan satu judul umum Unzeitgemässe Betrachtungen (Kontemplasi-kontemplasi Tak Aktual). Pada tahun 1876, dia menerbitkan esai keempat yang berjudul Richard Wagner in Bayreuth, dan pada saat yang sama hubungannya dengan Wagner retak. 
Ketertarikannya pada Sokrates membuat Nietzsche pada periode kedua ini menerbitkan sebuah karya Menzchliches, Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu Manusiawi) (1878-1879). Periode ketiga di mana Nietzsche telah menemukan kemandiriannya dalam berfilsafat terutama lewat karya-karya pokok seperti, Morgenrate (1881), Die Frohliche Wissenschaft (1882), Also Sprach Zarathustra (Demikianlah Sabda Zarathustra, 1883-1885), Jenseits von Gut und Böse (1886),  Zur Genealogie der Moral (1887) Der Antichrist (Sang Antikristus, 1888), Ecce Homo (Inilah Manusia, 1888), dan lain-lain.

Tesis Dasar Nietzsche tentang Kematian Allah

Istilah ‘kematian Allah’ ini pertama kali dipakai oleh Nietzsche dalam bukunya Die Fröhliche Wissenschaft. Pengertian kematian Allah sama sekali tidak menggugat eksistensi Allah karena yang dipersoalkan Nietzsche adalah fenomena kultural umat manusia yang sungguh mendewakan diri menjadi manusia super, seolah-olah meniadakan peran Allah dalam realitas. Allah dalam penghayatan iman orang Katolik kadang-kadang hanya tinggal dalam rumusan dogma, sedangkan kesaksian hidup orang beriman kadang-kadang mencerminkan tidak adanya Allah. Inilah yang dinamakan fenomena kultural yang kemudian mendorong Nietzsche untuk memaklumkan kematian Allah.[2]

Dalam Die Fröhliche Wissenschaft, dia bercerita mengenai orang gila yang membawa sebuah lantera menyala ke tengah-tengah pasar dan berseru terus-menerus: “Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!” Orang-orang di pasar itu menertawakannya. Tetapi si gila itu malah melompat ke tengah-tengah mereka dan menatap mereka sambil berteriak: “Ke manakah Allah? Aku memberitahu kalian. Kita sudah membunuhnya-kalian dan aku. Kita semua pembunuh. Tetapi bagaimana kita melakukan ini? Bagaimana kita meneguk habis lautan? Siapa yang memberi kita spon untuk menghapus seluruh cakrawala? Apakah yang kita lakukan bila kita melepaskan bumi ini dari matahari? Tidakkah kita tenggelam terus-menerus? Mundur, ke samping, maju, ke segala arah? Masih adakah naik atau turun? Tidakkah kita tersesat ke ketiadaan tak terhingga? Tidakkah kita menghirup ruang kosong?..... Allah sudah mati... Dan kita telah membunuhnya....” Sesudah itu si gila diam, menatap para pendengarnya. Mereka pun membisu. Si gila melemparkan dan meremukkan lenteranya, lalu pergi, sambil berkata: “Saya datang terlalu dini. Waktuku belum sampai. Peristiwa luar biasa ini masih sedang menjelang....”[3]

Secara sepintas, perumpamaan ini menegaskan sebuah ramalan datangnya sebuah zaman ateistis. Kegialaan merupakan sebuah situasi hidup di mana manusia sedang mengalami peristiwa kehilangan Allah, dan tidak adanya kesadaran tentang kehilangan itu sampai datang era kegilaan universal. Menariknya adalah bahwa Nietzsche menyambut datangnya zaman itu sebagai sebuah zaman kebangkitan kreativitas dan kemerdekaan, sebab dengan “kematian Allah” terbukalah horizon seluas-luasnya bagi segala energi kreatif untuk berkembang penuh. Tak ada lagi larangan atau perintah, dan manusia tidak lagi menoleh ke dunia transenden.[4] Gagasan tentang Allah dalam dunia kristen tidak lain adalah sebuah proses pemiskinan kehendak manusia untuk bersikap kreatif dalam mengaktualisasikan diri secara lebih manusiawi.

Mengapa Allah harus mati? Sebenarnya Allah itu diciptakan oleh manusia dan membunuh Allah berarti mematikan bahwa Allah memang benar-benar merupakan hasil ciptaan manusia. Tindakan tersebut memang sudah sepantasnya: membunuh Allah, mengingat Allah jenis ini telah menguasai manusia, mengasingkannya dari dirinya sendiri dan dari dunianya. Allah ini akhirnya membuat manusia menjadi kerdil, mendeterminasi moralitasnya. Allah itu dipasang sebagai kebenaran dan dengan demikian membuat manusia tenggelam dalam kebohongan. Sekarang, “Allah kuno telah mati”; Allah yang selama ribuan tahun lamanya membelenggu hati dan pikiran manusia. Kematian Allah itu pada akhirnya mengantar manusia pada gerbang nihilisme. 

Artinya, nilai-nilai yang dianut oleh manusia beragama sebenarnya tidak lain adalah kekosongan, dan karena itu bohong. Dalam situasi kehampaan itulah, manusia membangun kepercayaan bukan lagi pada Allah, melainkan pada “kepercayaan bahwa sama sekali tidak ada kebenaran” sebagai kepercayaan kaum nihilis. Di sini, orang tidak lagi mencari atau meneguhkan nilai-nilai lama, melainkan melahirkan nilai-nilai baru yang diciptakannya sendiri. Dengan demikian, manusia luput dari bencana hidup dalam kekosongan dan kehampaan berkelanjutan.

Nietzsche lalu sendiri akhirnya menjadi gila. Dan memang karena ia secara sadar ingin gila. Dalam sebuah puisi yang disampaikan “setelah gemetar, menggigil hebat”, dia membuat Zarathustra memohon kepada Allah untuk kembali:

Nay! Come thou back!
With all of thy great tortures!
To me the last of lonesome ones!
All my hot tears in streamlets trickle Their course to thee!
And all my final hearty fervour—
Up-glow’th to thee!
Oh, come thou back
Mine unfamiliar God! my pain! My final
bliss![5]

Nietzsche dan Kritik Atas Moralitas

Sebelum kita membahas tentang kritik Nietzsche terhadap moralitas, terlebih dahulu perlu dipahami alasan lain mengapa sampai lahir gagasan tentang kematian Allah dihubungkan dengan konsep keagamaan umat kristen. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, ide kematian Allah merupakan reaksi lanjut terhadap situasi kehidupan umat kristen di Eropa waktu itu yang hidup di bawah tuntunan moral kristiani yang bersifat transenden dan meredam segala kritik. Imbas dari kenyataan demikian itu akhirnya menempatkan agama kristen selaras dengan ide Plato tentang dunia. 

Dapat dipastikan bahwa kritikan Nietzsche terhadap metafisika barat sebagaimana yang dirintis oleh Plato menemukan klimaksnya. Karena Plato tidak berani menghadapi dunia nyata, dunia ‘yang dinamis’, menderita, penuh pertentangan, dunia insting-insting, ia berusaha memikirkan dunia yang abadi, di alam baka, dunia idea, di belakang dunia nyata. Plato gugup menghadapi kenyataan maka ia melarikan diri ke dalam idea sambil menegaskan bahwa dunia nyata sebenarnya semu dan menamakan dunia idea sebagai ‘kebenaran’. Kata ‘kebenaran’ tersebut menjadi ciri metafisika Plato, selanjutnya merupakan pola agama. Untuk itu, Nietzsche menolak dengan tegas eksistensi metafisika dan berusaha membongkar keberadaan ‘dunia yang benar’; atau istilah ‘kebenaran’ tersebut dipersoalkan.

Plato, sebagaimana agama katolik, meremehkan hidup di dunia nyata, meremehkan akal budi, mengagungkan kemiskinan dalam roh, dan mengimpikan kebahagiaan di dunia idea. Tidak mengherankan jika orang yang percaya kepada Allah, percaya juga terhadap penyelenggaraan Ilahi, tidak peduli akan sukses dan gagalnya usaha yang mereka lakukan. Bagi mereka, sukses dan gagalnya setiap usaha manusia sangat tergantung pada penyelenggaraan Ilahi. Tuhan menentukan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Hal ini dikritik oleh Nietzsche  dalam karyanya Jenseits vom Guten und Bösen, tentang dua jenis moralitas manusia yakni moralitas tuan dan moralitas budak.[6] 

Diceritakan bahwa suatu ketika, ada dua jenis manusia yaitu kasta aristokrat atau para tuan dan rakyat kecil atau kasta para budak. Dari dua jenis kasta ini, menurutnya, lahirlah dua macam moralitas: moralitas tuan (Herrenmoral) dan moralitas kaum budak atau kawanan (Herdenmoral). Bagi para tuan itu, moralitas adalah ungkapan hormat dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri. Mereka sungguh yakin, bahwa segala tindakannya adalah baik. Meski demikian, mereka tidak mengklaim, bahwa moralitasnya universal. Moralitas tuan itu tidak menunjukkan bagaimana seharusnya orang bertindak, melainkan bagaimana tuan itu nyatanya bertindak. Jadi, dari tindakan-tindakannya sendiri lahir nilai-nilai autentik. 

Berbeda dengan manusia tuan, para budak tidak pernah bertindak dari diri sendiri, sebab mereka bergantung pada perintah tuannya. Bertindak sendiri justru akan menyangkal kodratnya. Yang dianggap baik bukanlah kedaulatan diri, kekuasaan dan keningratan, melainkan simpati, kelemahlembutan, kerendahan hati dalam hubungannya dengan kasta rendah mereka. Karena itu, kaum budak memandang individu yang independen, unggul, kuat, dan jenius, sebagai orang yang berbahaya dan jahat untuk kelompoknya. Di sini sebenarnya, apa saja yang dinilai baik oleh tuannya dinilai buruk oleh budak. Moralitas budak ini bersifat relatif, yakni: bersumber dari ketakutan pada tuannya, lalu mencoba menguasai tuannya, tidak dalam kenyataan, melainkan dalam dunia fiktif nilai-nilai dengan menilainya sebagai ‘jahat’ (böse). Untuk itulah, Nietzsche memperkenalkan istilah “Ressentiment”, yaitu sentimen kebencian terpendam yang dipelihara oleh kaum budak. Suatu ketika, demikian Nietzsche, Ressentiment menjadi kekuatan yang luar biasa untuk meledakkan pemberontakan-pemberontakan di kalangan kaum budak terhadap kasta para tuan. Ressentimen menjungkirbalikan penilaian baik dan buruk dari moralitas tuan.

Dalam agama Kristen, menurut Nietzsche, moralitas budak menguasai kebudayaan barat. Penjungkirbalikan nilai-nilai yang dilakukan dalam agama Kristen itu adalah sebuah balas dendam imajiner, sebab sesudah peristiwa itu, segala yang rendah, lemah, celaka, jelek, dan menderita malah disebut “baik”, sedangkan yang luhur, agung, berdaulat, bagus, malah disebut “jahat”. Jadi, kalau sebelumnya tuan mengarahkan kekuasaannya ke luar, kepada budaknya, sekarang, orang Kristen menemukan apa yang disebut “suara hati” atau subjektivitas moral. Suara hati, menurut Nietzsche, tak kurang daripada suatu kegagalan melampiaskan ressentimen kepada kasta aristokrasi, dan sekarang berbalik ke dalam menjadi bisikan hati yang selalu menegur. Karena peranan suara hati yang mengakibatkan adanya “penangguhan” terhadap aneka keinginan maka manusia menjadi makluk setengah hewan yang menyiksa dirinya sendiri. Dengan mengutamakan nilai-nilai luhur seperti: kerendahan hati, agama Kristen sesungguhnya menyediakan sebuah fiksi.

Ubermensch dan Kehendak untuk Berkuasa

Dalam diri manusia selalu terkandung sebuah kehendak untuk berkuasa sebagai daya asalinya yang kodrati. Apa yang disebut “Kehendak untuk Berkuasa” (der Wille zur Macht) akhirnya dikekang oleh karena besarnya pengaruh agama Kristen yang memprioritaskan rasionalitas moral atau roh. Pertama-tama perlu kita pahami makna dari Ubermensch sebagaimana yang dimaksudkan oleh Nietzshe yaitu suatu kondisi untuk mengatasi ‘kemanusiaan lama’, manusia yang dahulu dibelenggu oleh perbudakan. Cara untuk mengatasinya adalah dengan memiliki sifat-sifat manusia agung, atau yang disebut sebagai “manusia yang lebih tinggi” (höher mensch), atau “orang besar” (grosse Mann), atau “adimanusia” (Ubermensch).

Zarathustra mengatakan, “Manusia adalah seutas tali, terlilit dalam ketegangan antara dua sisi, menjadi sisi buruk pribadu manusia dan Superman-sebuah tali yang terbentang di atas jurang tanpa dasar...Anehnya, manusia bukanlah tujuan, melainkan hanya jembatan...”.[7] Dalam kondisi mengalami ketiadaan pijakan nilai dalam hidup, manusia berusaha membebaskan dirinya, yang oleh Nietzsche dengan berusaha menjadi lebih baik, atau dengan kata lain menjadi lebih sempurna. 

Mengikuti serentak mengeritik Schopenhauer tentang kehendak, Nietzsche mengklaim bahwa untuk menjadi sempurna tidak pernah terlepas dari kehendak untuk berkuasa. Kehendak berkuasa tersebut secara kodrati telah ada dalam diri manusia namun karena kehidupan sosial dengan sistematisasi pada berbagai aspek khusunya rasio akhirnya mengikis eksistensi kehendak dan menenggelamkannya.
Kehendak untuk berkuasa mewarnai banyak tulisan Nietzsche, mulanya sebagai kekuatan yang mendukung pilihan-pilihan manusia, tetapi kadang juga tampil sebagai sesuatu yang menjadi dasar dari atau menggerakkan segala-galanya.[8] Dengan demikian, manusia memiliki kemungkinan menjadi supermen; yang melihat berbagai nilai secara objektif dan dalam kepentingannya dan dengan menjalankan itu menguasai apa yang paling penting. Singkatnya, supermen adalah pribadi yang mengaktualisasikan kehendaknya (baca: kehendak untuk berkuasa) tanpa menyerah.
  

Nietzsche dan Keindahan Hidup dalam Karya Sastra

Menjamurnya Konsep Nihilisme dalam Kehidupan

“Allah telah mati” sebagai perlawanan Nietzsche terhadap metafisika, idealisme, dan rasionalisme menghantar manusia pada kekosongan. Tidak ada lagi nilai yang menjadi dasar dan orientasi bagi hidup manusia oleh karena kehilangan rasa percaya pada nilai-nilai lama. Dalam hal inilah, nihilisme menguasai hidup manusia. Sekurang-kurangnya terdapat dua jenis nihilisme. Nihilisme pasif, adalah persetujuan yang bersifat pesimistis bahwa nilai-nilai itu tidak ada dan hidup ini tanpa tujuan. Mereka yang menganutnya sebenarnya merindukan makna dan moralitas, tapi tidak sanggup menemukannya. 

Sedangkan nihilisme aktif adalah sikap setuju akan hilangnya nilai-nilai dan moralitas dialami sebagai kemenangan dan pembebasan, maka sikap yang tepat untuk itu bukanlah sikap pesimis, melainkan sikap sukacita. Di sini, manusia tidak lagi mencari atau meneguhkan nilai-nilai lama, melainkan berusaha menemukan nilai-nilai baru yang diciptakannya sendiri. Pada Nietzsche, menurut Heidegger, nihilisme merupakan keputusan historis untuk menilhilkan segala bentuk kemapanan, atau ide-ide Platonis yang oleh Nietzsche disebut: “kebenaran dalam bentuk kekeliruan”.[9]Nihilisme bukanlah kata terakhir, karena akan muncul manusia yang menuliskan “nilai-nilai baru di atas papan-papan baru”. Nilai itu adalah sikap ‘iya’ kepada dunia apa adanya, tanpa dipotong, kekecualian, dan pilih-pilih. Karena itu Nietzsche mengajarkan ‘tidak’ terhadap apa saja yang membuat kuat, yang menyimpan tenaga, yang membenarkan perasaan kekuatan.[10]

Fyodor Dostoyevsky yang novelnya The Brothers Karamazos (1880) dengan lantang mengisahkan konflik antara keimanan dan kepercayaan oleh sebab kematian Allah dengan mengatakan sebuah ungkapan yang terkenal: “Jika Tuhan tidak ada, semuanya diperbolehkan”. Bahkan “Andai Tuhan tak ada,” tulis Voltaire di tahun 1770, “ia harus diciptakan.”[11] Hemat saya, Immanuel Kant dan Nietzsche kurang lebih berpikiran sama. Ambivalensi dan ketidakpedulian yang samar terus mewarnai sastra abad kedua puluh, dengan gambarannya tentang tanah gersang dan manusia menanti Godot yang tak pernah datang (era nihilisme mutlak). Para sastrawan zaman ini mengingatkan saya akan Ayub yang merasa tidak puas dengan jawaban yang lazim diberikan terhadap masalah kejahatan dan penderitaan di tengah kemelut yang sedang berlangsung. Contoh konkret adalah horor Auschwistz (konsekuensi lanjut dari zaman nihilismenya Nietzsche) yang merupakan tantangan berat bagi banyak gagasan konvensional tentang Allah. Allah yang, mengikuti Elie Wiesel, telah mati di Auschwistz. Berangkat dari kemelut demikianlah sastrawan mulai berbicara dan mempersoalkan berbagai hal.

Agama Populer Nietzshe: Merayakan Kehidupan

Penolakan terhadap rasionalitas, idealisme, dan metafisika, mengantar Nietzshe pada kekagumannya pada ‘hal-hal irasional’. Afirmasinya terhadap hidup terungkap dalam tragedi dan perayaan-perayaan Dynosian yang diwarnai oleh pesta pora dan kenikmatan hidup. Hidup dilihat sebagai suatu sumber kegembiraaan yang tampak dalam karya seni, estetika, ilusi, dan literatur. Baginya, hidup bukan hanya bersumber pada hal-hal rasional dan sadar tetapi lebih dari itu pada ketaksadaran dan hal-hal irasional.[12] Insting merupakan daya penggerak yang kreatif dan menjadi dasar kebudayaan manusia, tempat hidup semakin dipromosikan.

“Kematian Allah” merupakan titik pijak awal bagi manusia untuk semakin kreatif dalam menghadapi kehidupan sesulit apa pun itu. “Allah” ini tidak lagi dibicarakan dalam terang iman-metafisis tetapi harus ditafsir dalam terang kodrati manusiawi disertai pada penegasan rumusan pernyataan poetik. “Allah” yang membuat manusia menjadi gamang dan gagu ketika menghadapi penderitaan dalam hidup harus diganti dengan kondisi baru yaitu kehendak untuk mengatasi diri sendiri dan aneka penderitaan yang menghadang. Singkatnya, tidak ada hidup tanpa kehendak untuk mengatasi kehendak dan kekuasaan atas hidup itu sendiri. Demikianlah agama populer ini, lebih menganjurkan penderitaan daripada kebahagiaan. Dalam situasi demikianlah, hidup menemukan prinsip-prinsip tertingginya. Dan hanya dengan manusia menjadi “Allah” bagi dirinya sendiri, cara pandang terhadap hidup sebagai kompleksitas nilai-nilai senantiasa direvaluasi.

Nietzsche dan Sastra

Bagaimanapun tidak mungkin berbicara tentang kesusasteraan Jerman tanpa menyimak besarnya andil Nietzsche di dalamnya khususnya berkaitan dengan kritikannya terhadap sistematisasi dalam karya sastra waktu itu. Karena alasan inilah, betapa sulitnya kita memahami gagasan Nietzsche yang umumnya ditulis dengan gaya aforisme. Tidak sulit membaca aforisme-aforisme itu, sebab berupa kalimat-kalimat pendek yang mudah dibaca secara harafiah. Yang sulit adalah bagaimana caranya untuk mengerti arti atau maksud dari kalimat-kalimat itu. Saya berpikir, jika penyair Presiden Licentia Poetica, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) di Indonesia mengikuti gaya penulisan mirip Nietzsche ketika hampir semua puisinya terdiri atas gugusan kata-kata tanpa mengikuti ejaan, rima, struktur bahasa, dan sistem fonetik yang berlaku umum (Ejaan Yang Disempurnakan).[13]

Bagi Nietzsche, mustahil jika kebenaran dapat dikemas dalam satu sistem, karena dengan demikian ia memperbodoh dirinya sendiri.[14] Kebenaran yang tersistematisasi justru mengerdilkan kreativitas manusia untuk mencipta, megusahakan suatu bentuk hidup yang lebih human. Menyitir Seno Gumira Ajidarma, “Harmonis itu ternyata tidak terlalu baik, karena untuk menjadi harmonis mustahil tiada kelompok yang ideologinya tidak tertindas”.[15] Dengan alasan demikian, bukan berarti seorang sastrawan menggiring pembaca pada kebuntuan atas sebuah jawaban final tentang persoalan tertentu. Sebaliknya, pembaca diberi kemungkinan untuk mencari, mengoyak asumsi-asumsi tersembunyi, dan merumuskan jawabannya sendiri berdasarkan ketajaman analisis, dan pembacaan yang tepat terhadap konteks di mana ia berada. Untuk itulah, sangat menarik ketika Nietzsche menganjurkan konsep Ubermensch sebagai “seniman-filsuf” sebagai lawan dari keinginan Plato untuk mewujudkan “raja-filsuf” dalam dialog Republik.[16]

Era Fragmentaris Akibat Kematian Allah

Di era serba fragmentaris ini, yang digambarkan oleh Nietzsche sebagai abad ”Allah yang telah mati”, sangatlah sulit bagi seorang seniman, ilmuwan atau pun pemikir besar untuk mendominasi wacana publik. Suara orang-orang istimewa ini sudah kehilangan geregetnya. Walaupun internet memungkinkan kita menyebarluaskan sebuah wacana ke seluruh dunia dalam sekejap, ia juga berhasil memecahbelahkan pusat perhatian dunia sehingga dampak sebuah wacana menjadi serpihan-serpihan tak berarti. 

Di dunia cerai-berai seperti sekarang ini, komik, seni rupa, seni performa, apa saja yang mudah dicerna dan tidak membuat jidat mengerut menjadi penguasa di bidangnya. Alasannya sangat sederhana, mereka mempunyai daya tarik massal yang tinggi. Semakin berpengaruh massa itu, semakin sederhana tuntutan manusia pada sebuah karya seni. Manusia modern tidak lagi memiliki waktu untuk menafsir sebuah karya seni secara saksama. Semuanya harus supra cepat dan tidak bertele-tele. Maka kapasitas berpikir dan daya ingat pun menjadi semakin dangkal dan manusia pun kehilangan toleransi dan kesabaran. Dalam list bestseller New York Times sekarang nama-nama seperti John Grisham dan Daniel Steele mendominasi. Di zaman sekarang, asal kasar, melawan konvensi dan tebal muka, karya-karya tersebut akan diserap langsung oleh masyarakat.

Dalam keadaan seperti ini, tidak heran dan perlu kita syukuri keagresifan negara-negara berkembang dalam mempromosikan kebudayaan dan pencipta seni ataupun pemikirnya. Mereka dianggap sebagai aset-aset nasional yang perlu didukung karena mereka menonjolkan kebudayaan dan memperkenalkan keunikan peradaban masing-masing negara, yang pada ujungnya merupakan sebuah tindakan yang bersifat politis dan pragmatis karena ia meningkatkan turisme dan pemasukan devisa. Apa yang ditakutkan oleh Nietzsche, dua abad kemudian menjadi sebuah hal yang perlu kita dukung secara mutlak. Di negara-negara yang lebih maju, di mana bergelimang kekayaan pribadi, banyak filantropis yang bermunculan. Kepedulian mereka tidak hanya di tingkat kepantasan seorang individu mengembalikan ke negaranya apa yang telah mereka keruk darinya. Alasan mereka kini jauh lebih pribadi dan mendalam: bagi sebagian filantropis urusannya bukan lagi altruisme, tetapi sebuah kecintaan mendalam pada bidang-bidang kesenian yang mereka dukung. Beberapa nama belakangan bermunculan menjadi pahlawan filantropis: Bill Gates, Oprah Winfrey, dan Maurice Saatchi.

Agresivitas Budaya Postmodernitas

Tidak heran bila kemudian kita menyaksikan pertumbuhan yang begitu dahsyat di berbagai bidang kesenian dan kebudayaan di negara-negara yang begitu agresif membelanya. Mengikuti jejak negara tetangganya, Jepang, Korea secara agresif mempromosikan kebudayaannya di negara kita. Negara-negara Eropa sudah bertahun-tahun mempromosikan kebudayaan dan keseniannya di negara kita. Negara-negara Amerika Latin seperti Cile dan Brasil juga tidak mau kalah dalam mempromosikan keunikan kebudayaan mereka. Melalui prakarsa yayasan Pablo Neruda, misalnya, Cile pernah memberikan Pramoedya Ananta Toer sebuah penghargaan. Brasil saat ini sedang mempromosikan Capoera dan kulinernya kepada masyarakat kita. Di negeri ini, sebuah aksi agresif yang mendayagunakan produk budaya sebagai senjata utama penegakan karakter dan integritas sebuah bangsa tidak tampak dalam setiap kebijakan publik maupun jargon para calon pemimpin yang sibuk
untuk dipilih belakangan ini. Tak ada semacam strategi kebudayaan yang kuat, visioner, dan progresif. Kesenian sebagai produk budaya terpenting menjadi komoditas alientif dalam retorika politik-ekonomi kita yang riuh. Terlebih kesusastraan, sebagai satu puncak kesenian, mendapatkan apresiasi yang hampir nol di kalangan elite kita.

Belum lagi posisinya yang tak hanya terpojok karena desakan teknologi digital seperti video games dan perangkat informasi-komunikasi, sastra pun menjadi bidang yang dianggap kurang menjanjikan oleh orang muda saat ini. Penulis-penulis sastra serius harus berjuang mati-matian untuk bisa mencukupi keperluan sehari-hari hanya untuk sekadar bertahan hidup dan setia pada profesi. Dan terlalu minim kebijakan publik yang mau menyentuh hal itu. Kemiskinan sastra terjadi sudah secara struktural; tertolong karena kegigihan para aktivis/pelakunya saja. Alasan Nietzsche memutuskan hubungannya dengan Richard Wagner mendapat pembenaran dalam hal ini ketika Nietzsche merasa diperalat oleh Wagner untuk menyebarluaskan Wagnerisme. Ia kecewa dan salah menilai bahwa musik Wagner merupakan kelahiran kembali seni Yunani Kuno. Berkaitan dengan hal ini hendaknya diupayakan selain penyelenggaraan berbagai olimpiade sains, betapa bermartabatnya bila juga diikuti oleh sebuah ide bagi penyelenggaraan sebuah olimpiade sastra yang melibatkan segala lapisan masyarakat luas, yang tak hanya menggalakkan apresiasi dan penciptaan sastra, tetapi juga kian meneguhkan karakter kebudayaan kita yang dihargai dunia sejak beberapa milenia lalu. Dalam gelapnya, sastra memerlukan bintang-bintang yang menyelamatkan pelayarannya.


(bersambung ke Bagian Tiga)



[1]Antѐchrist (Sebelum Kristus, kemudian secara sengaja diterjemahkan oleh orang Prancis sehingga menjadi sangat kontras atas terjemahan umum Antichrist).
[2]Walter Kaufmann, Nietzsche, Philosopher, Psychologist, Antichrist, Loc. Cit., 97-99.
[3]F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche, (Jakarta: Gramedia, 2007), p.  279.
[4]Ibid.
[5] (Tidak! Kembalilah! Dengan semua kesengsaraanmu! Oh, kembalilah. Kepada penyendiri yang terakhir! Semua linangan air mataku. Mengalir demi dirimu! Dan bara terakhir dari hatiku-Menyala untukmu! Oh, kembalilah.  Tuhanku yang asing! Deritaku! Kebahagiaanku-yang ter-akhir), dalam Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra: A Book for All and None, (terj.) Thomas Common, (USA: The Pennsyvania State University, 1961), p. 229.
[6]Ibid, 268.
[7]James Garvey, 20 Karya Filsafat Terbesar, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), p. 247.
[8]Ibid, 249.
[9]Fitzgerald K. Sitorus, “Nietzsche, Heidegger, dan Kritik atas Metafisika Barat” dalam A. Setyo Wibowo (ed.) Para Pembunuh Tuan (Yogyakarta: Kanisius, 2009), p.48.
[10]Franz Magnis-Suseno, Op.Cit., p.81
[11] Goenawan Mohamad, Op. Cit; 62.
[12]Sebagian besar tindakan manusia didorong oleh aspek ketidaksadaran (Freud).
[13]Bandingkan Credo Puisinya SCB yang berusaha membebaskan kata dari makna dan mengembalikan fungsi asali kata sebagai mantera.
[14]F. Budi Hardiman, Op. Cit., 262.
[15]Agus Noor, Matinya Toekang Kritik, (Yogyakarta: Lamalera, 2006), p. 252.
[16]Akhmad Santosa, Nietzsche Sudah Mati, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), p. 158.

Post a Comment

Previous Post Next Post