Part of

AD

Sebuah Tinjauan Pemikiran Filosofis Friedrich Nietzsche



Catatan Awal

 
“Agama tidak mati-mati. Tapi juga sekularisme. Jangan-jangan karena keduanya sebenarnya tidak bertentangan,” tulis budayawan dan kritikus sastra Indonesia, Goenawan Mohamad.[1] Kegelisahan Goenawan cukup beralasan ketika menyaksikan aneka gerak perubahan paradigma berpikir dan cara bertindak manusia yang dilandasi oleh ambiguitas. Pada level terakhir, di mana hampir seluruh aktivitas manusia didominasi oleh otonomi teknologi dan ilmu pengetahuan empiris, agama menjadi kian problematis.

Berbagai refleksi kritis baik pada tataran teoretis maupun praktis menempatkan agama dalam sebuah wacana utopis. Sekularisme menyodorkan tesis dasar bahwa manusia memiliki otonomi (auto dan nomos) mutlak atas jati dirinya sendiri. Sifat menggantungkan diri sepennuhnya pada aspek transendental lain di luar diri adalah berbahaya. Dengan kata lain, tanpa Tuhan manusia sepenuhnya menjadi makhluk yang bebas karena tidak dideterminasi olehNya.

Konsekuensinya, secara perlahan manusia mulai meninggalkan agama. Doktrin-doktrin teologis dan wahyu menjadi tak lagi relevan-bahkan dinilai beraroma konservatif. Ritus-ritus keagamaan dinilai ketinggalan zaman dan tak jarang pula mengandung inkonsistensi dalam dirinya sendiri.

Berhadapan dengan kenyataan demikian, manusia berusaha mencari alternatif lain guna memuaskan dahaga religiositas yang menggebu dalam dirinya. Hal ini tampak jelas dalam berbagai jenis aliran kebatinan serta model penghayatan iman yang semakin bervariasi dan rumit. Postmodernisme sebagai sebuah paham yang menjadi ajang kritik terhadap zaman modern menyediakan kemungkinan bagi terwujudnya keinginan manusia tersebut.

Adalah Nietzsche, salah seorang filsuf ateis yang akan dibahas secara mendetail dalam karya tulis ini, hadir sebagai pendobrak kemapanan berpikir manusia tentang universalitas. Objek kritikannya lebih berorientasi pada lingkup kehidupan umat Kristen zaman itu, yang hematnya, perlu dibebaskan menuju kemerdekaan. Dengan demikian, manusia merealisasikan otonomi dirinya tanpa harus bergantung penuh pada ‘daya-daya ilutif’ di luar dirinya. Manusia yang pada hakekatnya akan berani menentukan sendiri apa yang bernilai baginya dan dengan demikian menjadi tuan atas segala sesuatu di dunia.

Situasi hidup tanpa Allah, karena telah dibunuh tidak jarang menempatkan manusia pada wilayah ‘tersesat’. Manusia kehilangan dasar, orientasi, dan pegangan hidup. Manusia kehilangan horizon. Bumi dan matahari tidak berputar dengan arah sebagaimana biasa, seolah-olah mengaduk manusia ke atas ke bawah, ke depan ke samping. Tidak ada lagi arah yang persis karena semuanya tersesat dalam ketiadaan berhingga. Semuanya gelap pekat.

Lalu dalam situasi demikian, terpaksa manusia harus bangkit menata dunia, suatu ajaran hidup dan citra manusia tanpa Allah lama. Segala sesuatu harus direkonstruksi mulai dari filsafat, moral, kesenian, ilmu pengetahuan, dan politik. Singkatnya, harus diusahakan suatu Umwertung aller Werte yaitu transvaluasi semua nilai. Hanya dengan demikianlah, manusia luput dari kehancuran akibat nihilisme.

Dengan cara ini, manusia sanggup merombak seluruh tatanan moral dan iman Katolik, yang hemat Nietzsche, tersembunyi dalam oportunisme terparah. Tatanan moral Katolik dinilai sedang sakit dan sedang tertidur dalam kemunafikan. Penghayatan iman tidak lagi otentik karena agama sering menjadi suatu cara hidup yang rumit dengan aturan-aturan tabu bahkan kadang-kadang disamakan dengan khayalan-khayalan suci yang tidak menyentuh realitas.

Berhadapan dengan konteks kehidupan manusia dewasa ini, di mana kepercayaan terhadap Allah tidak selalu diikuti dengan praksis hidup yang sepadan, refleksi filosofis Nietzsche patut dibaca oleh siapa saja yang menamakan dirinya ‘beriman’. Namun demikian, patut dibangun sikap kritis dalam diri setiap pembaca Nietzsche terutama berkaitan dengan ‘serangannya terhadap moralitas kristen’.

Untuk itu, dalam tulisan ini, saya ingin menelusuri beberapa hal yakni: Pertama, apakah yang dimaksudkan dengan term kematian Allah? Kedua, Apa saja konsekuensi lanjut dari kenyataan ‘kematian Allah’ bagi manusia? Ketiga, sejauh mana urgensitas predikat kematian Allah itu menghantui iman manusia beragama dewasa ini dan tindakan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh manusia ketika berhadapan dengan situasi demikian?

Konteks Kehidupan Masyarakat Eropa Kalau bagi Ludwig Feuerbach[2] adanya agama pertama-tama sebuah masalah filosofis---filsafat harus mencerahkan manusia tentang hakekat agama yang sebenarnya,---dan Marx berpendapat bahwa masalah agama akan pergi dengan sendirinya apabila ketidakadilan di dunia ini dihapus maka bagi Nietzsche, Allah, tepatnya kematiannya, merupakan “peristiwa baru paling besar”. Dalam suratnya kepada Franz Overbeck, rekannya, Nietzsche mengatakan bahwa satu hal yang paling berbeda dari Zarathustra adalah pandangannya tentang kekristenan; sejak Voltaire belum pernah ada lagi kritik yang sedemikian tajam terhadap kekristenan.[3]

Francois-Marie de Voltaire, tokoh yang dikenal sebagai pencetus zaman pencerahan ini dengan tegas mengatakan bahwa gereja-gereja hanya perlu menyalahkan diri sendiri atas penyimpangan selama ini, karena selama berabad-abad mereka telah membanjiri kaum beriman dengan berlimpah doktrin. Yang ia tolak sesungguhnya bukanlah gagasan tentang Tuhan, melainkan konsepsi Tuhan kaum ortodoks yang kejam, yang mengancam manusia dengan api neraka. Ia menulis bahwa agama itu hendaknya sesederhana mungkin:

Bukankah itu agama yang banyak mengajarkan moralitas dan sangat sedikit dogma? Yang condong untuk membuat manusia menjadi adil dan tidak membuat mereka bodoh? Yang tidak memerintahkan orang untuk meyakini sesuatu yang mustahil, bertentangan, merusak nilai-nilai ketuhanan, dan berbahaya bagi umat manusia, dan yang tidak mengancam dengan hukuman neraka kepada siapa saja yang memiliki akal sehat? Bukankah itu agama yang tidak menegakkan ajarannya melalui pemaksaan, dan tidak menggenangi bumi dengan darah sofisme yang tidak terjangkau akal?...yang hanya mengajarkan pengabdian kepada satu ilah, kepada keadilan, toleransi, dan kemanusiaan?[4]

Sehubungan dengan hal itu, masyarakat Eropa yang menghidupi sebuah ideal oleh karena besarnya pengaruh kekristenan pada masa itu, membuat model pemikiran dan struktur kehidupan mereka terletak pada dominasi penafsiran tunggal. Hal ini tercermin dengan jelas melalui adanya standar moralitas. Agama, khususnya kristen mempunyai kuasa mutlak untuk menentukan aneka standar berkaitan dengan pantas tidaknya suatu tindakan manusia.

Batasan-batasan, dalam hal ini keyakinan-keyakinan spiritual, pada akhirnya menjadi alat untuk membenarkan diri. Pernah ada sebuah zaman ketika agama, zina, uang, nepotisme, jual-beli jabatan, perang, pembunuhan, dan moralitas campur-baur. Itulah abad ke-16 di Italia, ketika Paus Alexander VI naik Takhta Suci.[5] Wajah buram demikianlah yang hemat Penulis, dikritik oleh Nietzsche.

Paul Ricoeur menyebut Nietzsche sebagai jembatan yang menghubungkan agama dengan iman yang baru.[6] Itu berarti pemikiran Nietzsche hendaknya menjadi penggerak bagi manusia beragama terhadap proses penghayatan imannya.

Bersikap kritis terhadap iman berarti juga bersikap kritis terhadap setiap tantangan yang menguji kualitas iman itu. Apalagi kenyataan gereja sekular oleh karena perkembangan kebudayaan global dan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, semakin lama semakin menjerumuskan manusia pada sekularisme buta.

Nietzsche sebenarnya mengajak manusia-melalui agama dan segala elemennya yang telah dimurnikan oleh sekularisasi-untuk mengalami kehadiran Allah secara benar tanpa harus kehilangan hakikat diri, orientasi, dan dasar hidupnya sendiri.

Pemberontakan terhadap dominasi kekristenan dalam budaya Eropa bukanlah hal baru pada masa kehidupan Nietzsche. Tiga abad sebelum kelahiran Nietzsche, muncul sebuah gerakan yang dimulai di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa, yang disebut Renaissance (kelahiran kembali). Renaissance lebih tepat disebut sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali wawasan hidup Yunani-Romawi yang jangkauannya jauh lebih luas daripada ‘seni’[7].

Nietzsche mengatakan bahwa pemahaman tentang seni bukan hanya bersifat yang diam dan selaras melainkan lebih pada sebuah usaha untuk menghayati kehidupan.

Untuk dapat memahami secara tepat pemikiran Nietzsche, mustahil jika tanpa disertai dengan konteks di mana ia mulai menulis yakni budaya Eropa, yang waktu itu sedang mengalami kegelisahan akibat pergolakan dan pergeseran nilai.

Selain itu, uraian di atas dapat mengajak pembaca untuk bangun dari mimpinya dan memandang hidup secara lebih berarti khususnya di tengah zaman yang dewasa ini selalu ditandai oleh anomintas (orang-orang tidak saling mengenal) dan mobilitas (orang-orang sibuk bergerak) sosial.




Lima Model Ateisme 


Sejak Descartes mengagas tentang kemerdekaan berpikir lewat “metode kesangsian”, lahirlah skeptisisme tentang ke-Allah-an dalam diri banyak pemikir lain. Karena pemikiran mereka ditulis untuk mengargumentasikan rasionalitas iman akan Allah, pastinya bahwa argumentasi mereka perlu dipahami bahkan ditanggapi oleh umat beriman dewasa ini.

Inilah abad ketika Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Albert Camus, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisahkan tempat buat Tuhan. Bahkan pada akhir abad itu, sejumlah besar orang mulai merasakan bahwa sekiranya Tuhan belum mati, maka tugas manusia yang rasional dan teremansipasi untuk membunuhnya.

a. Ateisme Albert Camus (1913-1960)

Bagi Camus, karakter dasar dalam diri manusia adalah absurditasnya: dunia dan hidup manusia di dalamnya sama sekali tidak masuk akal. Simetris dengan apologianya Epikurus[8] pada abad pertengahan yang menolak eksistensi Allah, Camus menegaskan bahwa situasi peperangan, penderitaan, dan kejahatan di dunia (fakta absurd) sebagai tanda tidak adanya Allah. Berhadapan dengan kenyataan demikian, percaya pada Yang Mahakuasa hanyalah akan menjadi pelarian.

Ateisme Camus merupakan implikasi masalah adanya penderitaan dan kejahatan dalam dunia. Dengan kata lain, tidak mungkin dunia ini diciptakan oleh Allah, dan kita manusia justru berada di tangan Allah.[9] Dari pokok ini, saya berpikir menjadi penting apabila kita membaca dalam terang filsafat teodise.[10]

b. Ateisme Friedrich Nietzsche (1844-1900)

“Allah telah mati, kitalah yang membunuhnya”.[11] Pernyataan ini lahir dari pemikiran Nietzsche, seorang filsuf eksistensialis. Berhadapan dengan keruntuhan budaya Eropa yang runtuh dan sulit untuk direnovasi kembali, apalagi standar positif dalam kehidupan manusia didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, Nietzsche melihat kenyataan baru yakni secara radikal manusia meninggalkan agama.

Pada saat itulah, Nietzsche memaklumkan kematian Allah. Pengertian ini sama sekali tidak menggugat eksistensi Allah melainkan lebih dari sebuah kritikannya pada fenomena kultural umat manusia yang mendewakan diri sambil meniadakan peran Allah dalam dunia.

Keseluruhan bangunan filsafat Nietzsche memang sangat sulit dipahami karena tulisannya sangat tidak sistematis, karena memang dia membenci sistematisasi. Menurutnya, sistem justru memperlemah bahkan menghilangkan fungsi kreatif yang secara kodrati melekat dalam diri manusia.

Selain itu, agama kristen, menurut Nietzsche, ialah bukti dari sebuah sistem yang buruk seperti cara hidup yang rumit, aturan-aturan yang tabu, dan khayalan-khayalan suci yang sama sekali tidak menyentuh realitas. Singkatnya, untuk menjadi pribadi yang lebih manusiawi, manusia perlu hidup di luar agama. Hal ini tercermin dalam pemikirannya tentang moralitas tuan dan moralitas budak. 

Bertolak dari gagasan ini, ia lalu menganjurkan adanya manusia super. Itu tidak berarti Nietzsce ingin menciptakan Allah lain tetapi ia ingin mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi dalam dirinya sendiri. Sebagai misal, ketika mengalami kesulitan dalam hidup manusia selalu berpegang pada konsep ‘penyelenggaraan Allah’ dan bukan sebaliknya berusaha untuk keluar dari kemelut tersebut.

Bagi Nietzsche, memercayai sesuatu yang berasal dari luar diri (baca: Allah) sangat bersifat irasional apalagi dengannya manusia mengalami alinienasi diri (manusia tidak sadar akan alienasi ini), padahal sesuatu itu berasal dari dalam diri manusia sendiri. Dengan demikian, agama di mata Nietzsche tidak lain dari pada sebuah proses dehumanisasi.

c. Ateisme Sigmund Freud (1856-1939)

Sigmund Freud, “bapak psikoanalisa”, dan salah seorang ilmuwan paling berpengaruh di dunia adalah seorang ateis. Teorinya yang paling terkenal berkaitan dengan penolakannya atas agama sebagai sarana menuju Allah, yakni neurosis.[12] Agama, menurut Freud, merupakan akibat dari suatu kenyataan neurosis kolektif di mana manusia berusaha mempercayai ‘sesuatu’ sebagai jalan membebaskan diri dari ancaman yang datang dari luar dirinya (alam, penderitaan, kejahatan, dan lain-lain).

Sikap menggantungkan diri terhadap suatu kekuatan aneh di luar dirinya itulah yang membuat manusia buta akan otonomi diri guna mengembangkan hidupnya secara lebih manusiawi. Bahkan lebih ‘ekstrem’, Freud menulis bahwa Perjamuan Ekaristi kristiani dimengerti sebagai lanjutan santapan totemistis yang mengenangkan peristiwa pembunuhan itu.[13]

Dengan demikian konflik antara keinginan-keinginan spontan dan tuntutan realitas tidak lagi dikelola secara terbuka dan rasional, melainkan secara irasional. Yang khas bagi neurosis ditemukan juga dalam agama: Perasaan-perasaan berlebihan bila “hukum Allah: dilanggar.

Lebih lanjut, bagi Freud, agama merupakan konsekuensi logis dari Konflik Oedipus pertama.[14] Tuhan dalam agama tidak lebih dari figur ayah yang dihormati: kebutuhan akan tuhan samacam itu muncul dari kerinduan masa kanak-kanak akan ayah yang kuat dan melindungi, akan keadilan dan kejujuran, kehidupan yang akan berlangsung selamanya. Sesungguhnya, tuhan hanyalah proyeksi dari keinginan-keinginan seperti ini, ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya di dalam diri sendiri.

d. Ateisme Jean-Paul Sartre (1905-1980)

Sebelum memasuki inti pembahasan tentang ateisme Jean-Paul Sartre, perlulah kita pahami dulu garis besar keseluruhan bangunan filosofis pemikiran Sartre tentang manusia. Manusia, oleh Sartre adalah makhluk bebas yang memiliki otonomi dalam dirinya sendiri. Jika kita manusia, maka kita adalah bebas; dan kalau kita tidak bebas, kita bukannya manusia. Dengan kata lain, ada sebagai manusia selalu berarti ada sebagai makhluk bebas.[15]

Masalah baru yang muncul adalah ketika manusia mengakui akan adanya Allah. Pengakuan akan Allah sebagai yang Mahakuasa pada akhirnya menyebabkan kebebasan manusia terpasung sebaliknya hal ini tidak terjadi jika Allah dipikirkan sebagai baik “berada-pada dirinya-sendiri” (ȇtre en soi) maupun sebagai “berada-bagi dirinya-sendiri” (ȇtre pour soi).

Jelaslah, manusia akan gagal menemukan dirinya apabila ada Allah. Sartre membalikkan adagium Dostoyevski menjadi “Kalau tidak ada Allah, semuanya boleh”. Dari sinilah eksistensialisme bertolak.

(bersambung ke Bagian Dua)


Catatan Kaki:

[1]Goenawan Mohamad, “Pencerahan” dalam TEMPO, 12 Desember 2010, p. 62.
[2]Ludwig Feuerbach (1804-1872), seorang filsuf (pernah bercita-cita menjadi seorang pendeta) yang menggagas Homo Homini Deus (Manusia adalah Allah bagi sesamanya) sebagai reaksi lanjutan dari akarannya tentang agama sebagai proyeksi batin manusia. Tahun 1841 ia menulis Das Wessen des Christentums (Hakikat Agama Kristen) sebagai kritik tajam atas agama Kristen. Ia yang seorang teolog berubah menjadi antiteolog. Bahkan ateis.
[3]James Garvey, 20 Karya Filsafat Terbesar (Yogyakarta: Kanisius, 2010), p. 244.
[4]Francois-Marie de Voltaire, Philosphical Dictionary, terj. Theodore Besterman (London, 1972), p. 375 dan dikutip juga oleh Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, (Bandung: Mizan Media Utama, 1993), p. 461.
[5]Goenawan Mohamad, “Caesare” dalam Catatan Pinggir, TEMPO, 29 November 2009, p. 138.
[6]A. Sudiarja, “Pergulatan Manusia dengan Allah dalam Antropologi Nietzsche”, dalam M. Sastrapratedja (ed), Manusia Multi Dimensional, (Jakarta: Gramedia, 1986), pp. 13-14.
[7]Renaissance sering dikaitakan dengan sebuah pendobrakan untuk menghidupkan kembali kesusastraan Yunani-Romawi kuno seperti yang digagas oleh Raphel, Michelangelo, dan Leonardo da Vinci.
[8]Apologia Epikurus berbunyi demikian: Jika Allah mampu tetapi Dia tidak mau, maka Dia bukan mahabaik. Sebaliknya jika Allah mau tetapi Dia tidak mampu, maka Dia tidak mahakuasa. Dan jika Allah tidak mampu dan sekaligus tidak mau, Dia bukan Allah.
[9]Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p. 100
[10]Teodise (nama lain dari Filsafat keTuhanan) berasal dari kata Theos yang berarti Allah dan dike yang berarti keadilan, atau pembenaran, atau pembelaan dalam sebuah proses pengadilan. Bdk. Paul Budi Kleden, Membongkar Derita (Teodise: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi), (Maumere: Ledalero, 2007), p. 15.
[11]Nietzsche, “Die Fröhliche Wissenschaft, No. 125” dalam Walter Kaufmann, Nietzsche, Philosopher, Psychologist, Antichrist, (New Jersey: Princenton University Press, 1974), p. 97.
[12]Neurosis merupakan inti dari teori psikoanalisa Freud. Neurosis merupakan kelakuan-kelakuan dan perasaan-perasaan aneh dalam arti tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Neurosis terjadi ketika orang bereaksi tidak benar atas suatu pengalaman yang amat emosional dan memalukan. Pengalaman tersebut pada akhirnya menyebabkan ia tidak dapat mengembangkan diri secara dewasa
[13]Uraian lebih luas tentang Totem dan tabu dapat dibaca dalam artikel “Sigmund Freud dan Kritiknya Atas Agama” dalam, Orientasi. Pustaka Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1973), pp. 5-23.
[14]Franz Magnis-Suseno, Op.Cit., p.89.
[15]Konrad Kebung, “Jean-Paul Sartre: Martabat Kebebasan” dalam Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide (Esai Tentang Manusia), (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2008), pp. 100-104.



Post a Comment

Previous Post Next Post