Part of

AD

(Bisa download  di sini)

Bahasa memainkan peranan penting dalam teori relasi sosial. Dalam hal ini, bahasa adalah kancah paling canggih yang memberikan manusia kemampuan untuk mengkomunikasikan makna-makna yang dimilikinya kepada orang lain demi terwujudnya keteraturan sosial dan keharmonisan struktur masyarakat. 

Karena bahasa mencerminkan realitas struktur yang hidup di dalam masyarakat maka bahasa senantiasa bersifat plural dalam penuturannya. Dalam hal ini, masing-masing aspek yang hidup berada pada status setara. Maksudnya, tidak ada kemungkinan untuk mendominasi dan didominasi oleh aspek lain. 
Jean- François Lyotard menyebut sistem bahasa yang plural itu sebagai permainan bahasa (language game).[1] 

Patut dicatat bahwa aktus komunikasi sebagai konsekuensi lanjut dari permainan bahasa tersebut bukan demi tercapainya konsensus tertetu sebagaimana yang dicetuskan oleh Habermas. Sebaliknya Lyotard menolak konsensus tersebut dan menganjurkan dissensus. Dissensus adalah kemungkinan terbaik yang harus diterapkan dalam pluralitas dan keberadaan. Dissensus merupakan wahana di mana tidak terdapat dominasi atas atau oleh suatu struktur tertentu.

Dari deskripsi di atas, menjadi jelas bahwa filsafat postmodernisme Jean- François Lyotard berarti penolakannya terhadap metanarasi. Sebagai reaksi atas modernisme yang menerima metanarasi sebagai sesuatu yang absolut, Lyotard mengambil sikap “menghargai” adanya pluralitas mininarasi. 

Sejarah mencatat bahwa hakikat metanarasi yang mengandalkan kebebasan subjek rasional menjadi diktum universal yang berlaku umum. Fakta ini menghadirkan cara pandang (point of view) yang tunggal atas realitas dan pembudayaan kultur menegasikan pluralitas “cara baca”.

Dalam paper ini, saya ingin menjelaskan bagaimana hubungan antara filsafat modernisme Jean- François Lyotard dalam kaitannya dengan tesisnya tentang permainan bahasa.

Wacana Postmodernisme

Cukup sulit untuk mendefinisikan istilah postmodernisme karena terdapat banyak pendapat tentangnya dari berbagai perspektif: sosiologi, strukturalisme, psikologi, dan ilmu-ilmu lain. 
Namun secara garis besar, pembahasan tentang postmodernisme selalu dikaitkan dengan usaha untuk menolak semua bentuk pemutlakkan terhadap suatu konsep tentang realitas dan menjadikan pengalaman pluralitas sebagai sebuah usaha rasional. 

Dalam teroi kebudayaan, postmodernisme disebut sebagai dediferensiasi.[2] Jika dalam era pramodern disebut zaman homogenisasi absolut (universalitas berada di bawah wadah tunggal), dan era modern yang ditandai oleh diferensiasi maka zaman postmodern ditandai oleh dediferensiasi. 
Di situ, perbedaan yang ketat dengan sekat yang tegas, mulai mengalir. Dengan demikian, yang ada hanyalah keserentakan pluralitas yang berbeda pada masyarakat dalam satu periode.

Dalam konteks agama, kini orang berbicara lagi tentang munculnya kembali politeisme atau sinkretisme, menggantikan monoteisme yang tegas dan dogmatisme agama. 
Dalam dunia pekerjaan ada tendensi ke arah penataan ruang kerja seperti tempat tinggal, dan tempat tinggal menyerupai ruang kerja. Relasi majikan-pekerja hendak dibangun seperti relasi kekeluargaan. Batas antara ruang kerja dan ruang hidup menjadi mengalir. 

Dalam bidang olahraga unsur estetis menjadi hal yang semakin mendapat perhatian. Tim-tim yang hanya berpedoman pada efektivitas, tidak lagi mendapat dukungan yang luas seperti tim-tim yang juga memperhatikan keindahan permainan.[3] Dengan demikian, terdapat kultur baru yang variatif di mana masing-masing subjek memiliki kemungkinan untuk membaca realitas secara berbeda.

Filsafat Bahasa Jean- François Lyotard

Sebagaimana yang telah saya uraikan di atas, filsafat bahasa Lyotard senantiasa berkaitan erat dengan tesisnya tentang postmodernisme (penolakan atas metanasi dan pengakuan atas mininarasi). 
Untuk itulah Lyotard lebih memilih permainan bahasa sebagai pendekatan metodologis universal.

I should now be clear from which perspective I chose language gamesas my general methodological approach. I am not claiming that the entirely of social relations is of this nature-tahat will remain an open question.[4]

Dengan demikian, terbukalah ruang penafsiran dan pertanyaan yang baru atas realitas oleh karena permainan bahasa (baca: ragam bahasa). Selanjutnya, saya akan memaparkan secara terperinci filsafat bahasa Lyotard dalam konfrontasinya dengan tindakan komunikatif Jürgen Habermas.

Mengenal Jean- François Lyotard[5]

Jean - François Lyotard merupakan salah satu filsuf dari abad XX yang lahir di Versailles, Prancis pada tanggal 10 Agustus 1924. Lyotard lalu disekolahkan pada Paris Lycèes Buffon dan Louis-le-Grand. Setelah lulus dari Universitas Sorbonne, Lyotard lalu mengabdikan diri sebagai guru filsafat pada sekolah menengah Lycèes di Constantine.

Tahun 1971 Lyotard meraih gelar doktor dengan tesis tentang perbandingan antara fenomenologidengan strukturalisme di bawah judul Discours, Figure. Setelah menjadi profesor di Universitas Paris VIII, terjadi peningkatan profilik dalam karier kepenulisannya.[6] 

Lyotard pensiun pada tahun 1987. Bersama filsuf Derrida, Lyotard mendirikan sebuah pusat pendidikan filsafat Collège Internationale de Philosophie. Lyotard meninggal di Paris pada tanggal 21 April 1998.

Gagasan Dasar Tentang Status Pengetahuan Ilmiah

Dalam The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, Lyotard mencoba mengkaji pengetahuan sebagai basis dari analisis sosial dan refleksi filosofis dalam teori postmodernismenya. Bagi Lyotard, adalah mustahil jika ingin mengetahui kondisi pengetahuan tanpa memahami terlebih dahulu struktur sosial masyarakat, tempat pengetahuan eksis.

Sebagaimana yang diketahui bahwa pengetahuan ilmiah modern memperoleh basis legitimasinya pada sejumlah metanarasi, dan basis legitimasi pengetahuan postmodernisme diletakkan pada rasionalitas teknologis, Lyotard justru menganjurkan paralogi. 

Menurut Lyotard, pengetahuan manusia terdiri atas pengetahuan ilmiah dan pengetahuan naratif. 
Pengetahuan ilmiah mendasarkan kebenarannya pada sejumlah kaidah argumentasi rasional dan pembuktian empiris. Sedangkan pengetahuan naratif tampil secara konkret dan menjadi basis legitimasi bagi lembaga-lembaga sosial. Dalam pengetahuan ini,  terdapat ruang yang memadai bagipluralitas permainan bahasa yang tidak ditemukan dalam pengetahuan ilmiah.

Permainan Bahasa dan Tindakan Komunikatif

Permainan bahasa dipahami sebagai ragam jenis atau kategori ucapan yang keberadaan dan pemberlakuannya dalam praktik komunikasi ditentukan oleh aturan main tetentu yang memberisifatkhas bagitiap jenis kategoriucapan itu.[7] 

Setiap permainan bahasa ditandai oleh tiga karakteristik berikut. 
Pertama, setiap aturan dalam permainan bahasa tidak mendapat legitimasi dari dirinya sendiri, melainkan dari hasil kontrak di antara para pemainnya. 
Kedua, jika tidak ada aturan, maka tidak ada permainan. Begitu pula, modifikasi sekecil apa pun terhadap aturan akan berdampak pada keseluruhan sifat dasar sebuah permainan. 
Ketiga, setiap ucapan dalam sebuah permainan bahasa dilihat sebagai sebuah “gerakan” (move).[8]

Pernyataan di atas secara eksplisit menjabarkan bahwa ragam jenis bahasa menunjukkan faktum pluralitas yang agonistik (Yun.’agon’ berarti ruang sengketa atau konflik).[9] Namun pluralitas memiliki dua kemungkinan lain. 

Kemungkinan pertama mengacu pada pluralitas dan perbedaan yang tak terjembatani sebagai sebuah konflik (lyotard menyebutnya Differend). Dan, pluralitas dengan perbedaan yang terjembatani disebut litigation,[10] sebagai perkara yang dapat dicari solusinya. Solusinya terletak pada adanya titik temu berkat kriteria umum yaang diterapkan. Kemungkinan kedua adalah inkomensurabilitas. 

Permainan bahasa bersifat lokal dan imanen karena tidak dapat diperbandingkan dengan permainan bahasa lain. Karena tidak ada pengistimewaan, hal ini menjadikan semua permainan bahasa setara dan tak mungkin dibentuk sebuah kriteria umum sebagai pembandingnya.

Efek lanjut dari adanya permainan bahasa tersebut adalah penolakan atas konsensus. Habermas dalam teorinya tentang tindakan komunikatif di mana aktus komunikasi melalui bahasa adalah syarat utama menuju konsensus. Hal ini bagi Lyotard tercipta karena dikondisikan oleh sistem bahasa. 

Penyesuaian gaya percakapan, pergulatan makna, dan muatan dalam bahasa yang digunakan setiap kali terjadinya komunikasi guna melahirkan konsensus merupakan penolakan atas pluralitas penggunaan. Menggunakan gaya bahasa yang satu berarti meniadakan atau tidak memberi kesempatan bagi yang lain. Inilah yang disoroti oleh Lyotard dan menghantarnya pada keteguhan untuk menolak konsensus lalu menganjurkan disensus.

Permainan Bahasa dan Sruktur Masyarakat

Bahasa menunjukkan bangsa dan cara berbahasa mencerminkan cara kehidupan berbangsa. 
Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dapat dibaca dari sedalam mana pemaknaannya terhadap bahasa yang digunakannya. 

Penggunaan kreatif bahasa oleh manusia mencapai puncaknya pada etnometodologi; di sini hakikat bahasa manusia menjadi topik kajian sosiologi. Maka, hal-hal teknis seperti bagaimana bahasa digunakan oleh manusia untuk mengungkapkan isi pikiran satu sama lain merupakan sasaran perhatian. 

Bahasa dan kemampuan untuk menggunakannya mencerminkan pembeda dalam kehidupan manusia. Dari pembedaan inilah lahir struktur-struktur dalam masyarakat.

Lyotard yang mengedepankan permainan bahasa sejatinya menghadirkan juga pluralitas struktur yang hidup dalam masyarakat. Cara pandang atas struktur yang terbentuk dari institusi-institusi sosial mengandaikan cara baca atas permainan bahasa yang hidup dalam masing-masing struktur itu. 

Sebagai misal, penggunaan permainan bahasa pada institusi formal dan informal selalu berbeda satu sama lain. Masing-masing pihak mencerminkan entitas yang menjadi muatan di mana komunikasi terjadi.
_______________________________

Postmodernisme sejatinya membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dewasa ini. Perubahan yang paling dirasakan adalah adanya faktum pluralitas dan singularitas serta partikularitas. Kekayaan ini merupakan cara canggig membuat hidup manusia lebih berdaya guna. Salah satunya adalah permainan bahasa yang tanpa disadari sering kita gunakan. 

Permainan bahasa atau ragam jenis bahasa hendaknya perlu dilesatrikan guna menekankan aspek keunikan dan karakteristik dari struktur masyarakat tertentu. Sikap mengabaikan bahkan menghilangkan pluralitas berrarti mematikan kreativitas manusia.

Terhadap faktum pluralitas, Lyotard menganjurkan kita untuk senantiasa menghargai ‘kemerdekaan’ dari singularitas yang lain. Satu hal yang dilupakan Lyotard berkaitan dengan filsafat bahasanya adalah sikap tergesa-gesanya dalam menolak konsensus komunikasi. Komunikasi tidak semata-mata dibuat demi pencapaian konsensus. 

Sebaliknya, komunikasi justru digelar karena masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya ingin memahami satu dengan yang lain. Pemahaman intersubjektif inilah yang menjadikan komunikasi mungkin, di sampingadanya sikap inklusif di antara keduanya.


Catatan Kaki


[1]Jean- François Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (Manchester: Manchester University Press, 1986), p. 10.
[2]Scott Lash, Sosiologi Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius, 2004), pp. 15-22.
[3]Paul B. Kleden, Memahami Postmodernisme (ms.) (Maumere: STFK Ledalero, 2009), p.  2.
[4]Jean- François Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, Op. Cit., p. 15.
[5] Biogfari ini dikutip dari Willy Gaut, Filsafat Postmodernisme Jean- François Lyotard (Maumere: Ledalero, 2010), pp. 44-47
[6]Lyotard menulis sekurang-kurangnya 21 judul buku yang lahir dari pergulatan intelektualnya.
[7]Willy Gaut, Filsafat Postmodernisme Jean- François Lyotard, Op.cit.,p. 58.
[8]Ibid. 59
[9]Emilia Steurman, The Bounds of Reason, Habermas, Lyotard and Melanie Klein on Rationality, (New York: Routledge, 2000), p. 38.
[10]Ibid.

Post a Comment

Previous Post Next Post