Part of

AD
(Fragmen Kitab Suci Perjanjian Baru: Lukas 9: 46-48)
(teks lengkapnya dapat didownload di sini)



Narator

Begitu sulit berbicara sambil mengunyah makanan. Demikianpun menjadi yang terkecil di antara banyak orang besar zaman ini. Kecil itu indah. kecil itu menarik. Kecil itu sederhana. Kecil itu bermakna. Tapi kadang kecil itu sulit dan rumit.

Semua kita yang hadir di sini, mungkin enggan menjadi yang terkecil, bukan? Apabila menghadiri sebuah acara tertentu, kita begitu senang duduk di bagian terdepan. Mengharapkan penghormatan lebih dari sesama. Tetapi apa makna dari semuanya itu?

Pernakah kalian berpikir bahwa gedung yang megah justru dibangun oleh para pekerja kasar serta orang-orang kecil dan bukannya oleh seorang pemimpin pemerintahan?

Hal penting yang pertama dilakukan kura-kura sebelum berjalan adalah dia berani menjulurkan kepalanya ke luar. Bagaimana mungkin Anda sekalian tidak?


Setting
(Beberapa orang murid: Petrus, Yakobus, Andreas, Filipus, dan Bartolomeus; sedang duduk membentuk setengah lingkaran).



Petrus: 
Kawan-kawan, telah sepanjang hari bahkan seumur hidup, kita mengikuti Yesus tetapi siapakah dari kita yang akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Allah kelak?

Yakobus: 
Jelas-jelas itu pasti aku! Bukankah aku dipuji Yesus ketika membawakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang?

Andreas: 
Tunggu dulu, kawan. Aku malah dipanggil secara khusus olehNya saat sedang membereskan jala di Tiberias.

Filipus
Betul. (Sambil memeluk Andreas) Saat itu, Yesus kelihatan sangat mengharapkan keberadaan kami sebagai muridNya yang paling utama.

Bartolomeus
Kalian semua salah. Tanpa aku, mana mungkin Kerajaan Allah bisa terwujud?

Akulah paling setia membantu Guru ketika Dia memerlukan pertolongan yang sungguh.

Petrus
(Langsung memotong pembicaraan) Siapa bilang? Aku justru disapa sebagai Batu Karang Yang kokoh. Jelas, aku yang paling kuat dan besar di antara kalian.

Yakobus
Petrus....Petrus....Anda memang batu karang tetapi lemah dan rapuh. Bukankah Yesus katakan bahwa nanti engkau akan menyangkaliNya tiga kali?

Andreas
Jika demikian, tentulah aku orangnya. Walaupun dipanggil sebagai orang lemah tetapi pernakah ada orang yang sanggup mematahkan air?

Bartolomeus
Pokoknya akulah yang paling besar. Lihat saja tubuhku (pamerkan bagian tubuhnya yang perkasa), berurat dan berotot. Heheheh....(tertawa).

Filipus
(Berdiri dan hendak memukul Bartolomeus) Jangan pikir karena tubuhmu perkasa itu bisa membuatku takut, (Suasana jadi ribut).


(Yesus, Yohanes dan murid-murid lainnya berdatangan)



Yesus
Damai sejahtera bagi semua kalian.

Petrus
Guru, Engkaukah itu?

Yesus
(sambil berjalan masuk) Benar Petrus. Bukankah setiap domba senantiasa mengenal suara Gembalanya?

Bartolomeus
Betul Guru. Sebelum Engkau melangkah menuju tempat ini, perasaanku telah mengatakannya terlebih dahulu.

Yesus
Hai Bartolomeus...banyak orang gagal dalam hidup justru karena terlalu mengandalkan perasaannya. Sebaliknya, banyak orang jadi lumpuh dalam hidup karena terlalu meremehkan perasaannya.

Yohanes
Jikalau demikian, apa yang harus kami perbuat, Guru?

Yesus
(mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di sampingNya) Jadilah seperti anak kecil ini!

Filipus
Tuhan...Kenapa harus menjadi anak kecil segala?

Yohanes
Betul Guru. Lihatlah..., aku telah dewasa. Dapat berjalan, makan, dan mandi sendiri.

Yesus
Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku.

Petrus
Berarti apakah saya harus masuk ke dalam rahim ibu lagi? (Murid-murid yang lain kelihatan bingung memilirkan hal ini)

Yesus
Saudara-Ku....Para pemimpin bangsa ini (menunjuk ke arah penonton) memerintah dengan tangan besi. Korupsi terjadi di mana-mana bahkan dalam GerejaKu. Bahkan RumahKu kini menjadi sarang penyamun.

Yohanes
Jika demikian, apa yang harus kami perbuat, Guru?

Yesus
Jadilah seperti anak kecil. Di sana ada kejujuran, kepolosan, kerendahan hati dan bela rasa.

Bartolomeus
Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Yesus
Sungai, jika mengalir ke laut, dia akan melupakan kemasyhurannya. Begitupun di hadapan Allah, kalian harus seperti anak kecil.

Para Murid
(bersama-sama) Baik Guru.

Yesus
Baiklah demikian, Allah menyertai usaha kalian.


(Sambil bergandengan tangan, semua menyanyikan lagu: “Biarkanlah anak-anak datang padaKu”)


Narator

Kita berdiri di tengah anak kecil. Tapi sedihnya, kita justru mencari mereka seumur hidup. Tengoklah ke dalam, sebelum bicara maka akan Anda temukan bahwa mencintai berarti senantiasa mencari sampai menemukan. 

Hal tersulit yang dilakukan manusia zaman ini adalah menemukan jati dirinya sebagai yang kecil di antara kebesaran dunia. Sanggupkah kita seperti itu?

Kami, penghuni TK Nurabelen, menantikan jawaban Anda di belakang layar?





*Catatan:

1. Usahakan sedapat mungkin, ada musik instrumen untuk mengiringi pembicaraan para pelaku fragmen.

2. Fragmen ini bertujuan untuk meyakinkan penonton bahwa sesungguhnya dalam diri mereka terkandung jiwa seorang anak kecil. Jadi, artikulasi dan mimik pelaku sangat menentukan berhasil tidaknya fragmen ini dipentaskan sekaligus dipahami.

3. Fragmen ini ditulis untuk keperluan pementasan siswa TKK Nurabelen, Flores Timur, NTT.

Post a Comment

Previous Post Next Post