Part of

AD

PDKT dan Sejarah Pemikiran Yunani Klasik



Kata kunci untuk memahami sejarah pemikiran pada masa Yunani Klasik yakni: Kekaguman


Sama seperti dalam proses awal pacaran di mana rasa kagum merupakan satu-satunya alasan mengapa PDKT perlu dilakukan, dalam dunia Yunani kuno, rasa kagum merupakan alasan pertama orang berfilsafat.

Kekaguman itu mendorong rasa ingin tahu akan sesuatu di luar diri yang pada masa itu cenderung bersifat kosmologis. Arti dari kata ini dapat diterjemahkan secara bebas sebagai kagum terhadap fenomena-fenomena alam seperti pelangi, gemintang, planet, pepohonan, sungai, lautan, dan seterusnya.

Kecenderungan kosmologis itu sudah dimulai sejak abad ke-7 SM di mana para filsuf pertama berusaha mempertanyakan asal usul alam semesta dan prinsip terdalamnya (sebut saja misalnya, itu anak asalnya dari mana, tinggal di mana (desa atau kota), nomor teleponnya ada tidak, ada akun facebook atau tidak, dan seterusnya).

Para filsuf ini dikenal sebagai filsuf pra-Sokrates, antara lain: Thales (625-545) berpendapat bahwa prinsip terdalam adalah air; Anaximandros (610-545) berpendapat bahwa prinsip terdalam adalah arche atau prinsip yang tidak terbatas; Anaximenes (585-528) berpendapat bahwa prinsip terdalam adalah udara; dan Herakleitos (540-475) berpendapat bahwa segala sesuatu ini berubah, mengalir, tidak ada yang tetap (panta rhei).

Setelah tokoh-tokoh ini, muncullah filsuf-filsuf besar Yunani mulai dengan Sokrates (470-400), Plato (428-348), dan Aristoteles (384-322). Mengingat fokus pembahasan saya tidak mesti terperinci, silakan cari sendiri apa saja gagasan mereka di atas.

Nah, PDKT menggunakan logika Yunani Klasik tampak dalam cara orang memerhatikan relasi antarmanusia dengan alam. Ada imajinasi tentang adanya keteraturan kosmik (bandingkan kata kosmetik sebagai turunan dari kata kosmos yang berarti keteraturan).

Mengenai hal ini, saya teringat salah satu kebiasaan di Bajawa, Flores, NTT misalnya. Jika ada orang yang “selingkuh” atau melakukan perbuatan “aib” semisal incest, fenomena alam memberi respon dalam bentuk turunnya hujan berkepanjangan disertai gelegar halilintar, sekalipun pada musim kemarau.

Tanpa berpikir panjang, orang langsung menyadari bahwa ada anggota masyarkatnya melakukan perbuatan amoral. Dengan kata lain, ada aturan adat yang dilanggar.

Model serupa juga tampak dalam kebiasaan anak muda Flores (dan mungkin juga di wilayah lain di Indonesia) yang tidak gegabah dalam memilih pasangan hidupnya. Ada semacam tremendum et fascinas ketika menyadari bahwa sosok yang kepadanya saya jatuh cinta ternyata digagalkan oleh norma adat.

Atas nama keteraturan kosmis itu pula, masing-masing orang dituntut untuk menjaga relasinya dengan orang lain.

Sayangnya, kebiasaan baik ini cenderung dilanggar terutama karena perkembangan dunia dan masyarakat yang selanjutnya mempertanyakan ketetapan dan norma adat istiadat.

Masa Pacaran dan Abad Pertengahan/Skolatisisme


Berpacaran dan menikah itu tidak semudah yang dibayangkan jika Anda hidup dalam masyarakat dengan kultur Abad Pertengahan.

Meskipun telah berpacaran namun tanpa kalian duga, perjalanan cinta kalian mesti butuh pengakuan dari otoritas lain. Sebut saja, keluarga, masyarakat, agama, kebudayaan, dan seterusnya.

Coba bayangkan, jika Anda pacaran dengan sesama jenis, bukankah sulit mendapat dukungan dari otoritas yang sudah saya sebutkan di atas? Nah, tingkat kesulitan yang sama juga dihadapi ilmu pengetahuan pada masa Abad Pertengahan

Orang seperti Galileo-Galilei yang menganggap alam sebagai sistem yang didasarkan secara ilahi yang dapat dimengerti oleh matematika dalam bukunya Dialogue on the Two World System (1632) ditangkap dan dipaksakan hidup dalam pembuangan.

Memang, karya terakhirnya “Dialogue Concerning Two New Sciences (1636) menjadi dasar bagi fisika modern namun melewati proses penolakan yang tidak gampang.

Galileo berani mengadopsi sistem heliosentris dan membela tesis Copernicus yang mengatakan bahwa semua lingkaran langit berputar mengelilingi matahari sebagai pusat dan karena itu pusat alam semesta adalah matahari.

Namun argumen ini ditentang oleh gereja yang bertolak dari ajaran Kitab Suci: “bumi selalu tetap di tempatnya dan matahari terbit dan terbenam dengan kembali ke tempat dari mana dia telah terbit (Pengkotbah 1:4-5). Atau dalam Yosua 10:13, di mana Yosua memerintahkan agar matahari berhenti.

Secara singkat, para pemikir pada Abad Pertengahan atau Skolatisisme ini percaya akan suatu revelasi (pewahyuan) Ilahi yang definitif.

Abad ini disebut juga dengan zaman teosentrisme (Allah sebagai penentu dan pusat gerak manusia). Apalagi, pada masa ini, Gereja diyakini sebagai penampakan Allah di bumi dengan motto: Roma locuta cause finita est (Roma dan otoritasnya adalah benar satu-satunya).

Di hadapan model berpikir seperti ini, kita hanyalah butiran debu, dek. Akibatnya, meskipun ada pernikahan adat dalam budaya Lamaholot misalnya, Anda wajib mengikuti ritual pernikahan gerejawi.
Saya menduga, wacana pernikahan beda agama dimulai tepat ketika agama dianggap penting dalam menentukan masa depan Anda dan pacar Anda.

Pemikiran Renaissance


Kata renaissance berasal dari kata kerja Perancis, renaitre: lahir kembali. Tepat pada level ini, muncul kebudayaan baru yang berbeda dari abad pertengahan.

Renaissance dimulai pada abad ke-16 sebagai masa transisi dari abad pertengahan menuju abad modern.
Di sini, ada upaya menghidupkan kembali karya-karya seni, filsafat, dan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno.

Selain itu, muncul juga ilmu-ilmu modern dan penemuan dunia baru yang menegaskan bahwa manusia semakin menguasai dan menaklukkan alam. Ada kepercayaan yang kuat akan kemampuan manusia atau humanisme.

Patut diingat bahwa humanisme sebenarnya berupaya menghidupkan kembali ide Protagoras yang mengatakan bahwa “manusia adalah ukuran segala sesuatu (man is the measure of things). Banyak dasar dan struktur intelek pada abad Pertengahan mulai goncang dan hilang oleh perkembangan baru karena model berpikir seperti ini.

Di situ, sebelum PDKT, Anda dibiasakan untuk menggunakan cara-cara romantis seperti membaca puisi, menyanyikan lagu, menulis surat, singkatnya menempatkan pendekatan artistik sebagai cara yang ampuh


Pada masa ini juga, setiap orang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Mau tampan atau tidak, cantik atau tidak, asalkan Anda percaya pada diri sendiri, semuanya mungkin.

Artinya, pacaran tidak tergantung total pada unsur banal seperti ketampanan dan kecantikan.
Bandingkan Jean Pau Sartre, seseorang yang bermata juling dan sama sekali tidak tampan. Maka, mungkin Anda kaget ketika teman esksistensialisme, Albert Camus, memperluas pengertian kebebasan manusia Sartre dengan mengatakan, “Aduh, setelah zaman tertentu setiap orang bertanggung jawab atas wajah yang dimilikinya”.

Meskipun agak reduksionis, PDKT berikutnya yang pernah dijalankan oleh ayah dan ibu saya sebenarnya mengisyaratkan apa yang sebelumnya pernah dipraktekkan dalam bidang politik masa renaissance.

Sebagaimana yang umum dikenal, pada masa itu, muncul pemikir seperti Niccolo Machiavelli yang gagasannya berupaya menempatkan ilmu politik sebagai sesuatu yang otonom, dibebaskan dari pertimbangan-pertimbangan spekulatif, religius, dan moral.

Machiavelli menggunakan sejarah dan Hobbes berpaling pada ilmu-ilmu baru seperti fisika dan geometri. Kalau filsuf klasik dan abad pertengahan lebih berpatok pada sumber otoritas, kebenaran, dan keadilan (dari mana asalnya adalah Allah, Manusia, dan Alam), mereka mempelajari realitas kekuasaan itu sendiri yang dianggap dapat dijelaskan secara rasional dan selalu berkembang.

Doktrin politik Machiavelli adalah tujuan menghalalkan cara dan alasan negara (raison d’etat) yang memungkinkan penguasa untuk bertindak dengan cara apa saja, juga dengan cara yang bertentangan dengan moral, agama, dan hukum umum.

Pada suatu sore, tiga puluh empat yang lalu, empat tahun sebelum menikah, dan lima tahun sebelum melahirkan saya, ayah mendatangi rumah ibu.

Di tangannya, tiga butir kerikil. Sekitar empat belas kaki dari rumah ibu, ayah berdiri mematung selama 7 menit sebelum melemparkan kerikil itu ke jendela kamar ibu sebanyak tiga kali.

Entah kesepakatan macam apa yang sudah mereka buat, perlahan jendela dibuka dan dari sana ibu keluar menemui ayah. Lalu mereka ngobrol di bawah siraman caya rembulan.

Tentu saja, sebagaimana bisa ditebak, Ayah hanya bisa pulang setelah dipergoki oleh kakek. Sesederhana itu. Segenting itu. Semanis dan seromantis itu.

Akhir Renaissance ditandai dengan adanya kecenderungan untuk menyatukan antara manusia dan alam. Relasi Allah dan dunia juga dijelaskan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan semi magis atas alam, yang dianggap cocok.

Leonardo de Vinici misalnya menegaskan adanya paralelisme antara manusia dan alam semesta. Manusia adalah mikrokosmos dan dunia adalah makrokosmos. Akhir dari PDKT antara ayah dan ibu yakni persatuan antara dua jenis mikrokosmos yang kemudian melahirkan mikrokosmos baru yakni saya. hahaha

Abad Modern


Filsafat modern dimulai oleh Descartes di Perancis dan Francis Bacon di Inggris. Pada masa ini, refleksi kritis yang berkembang pesat pada abad Yunani kuno secara praktis lenyap pada abad pertengahan, dan dihidupkan kembali pada abad renaissance dan mencapai kejayaan pada masa modern.

Di sini, manusia dan alam menjadi objek keingintahuan para filsuf dan bukannya Allah dan Being. Misteri yang ada di balik universe ini tidak lagi dipandang sebagai suatu kekaguman yang menuntut kerendahan/subsmissi dari pihak manusia, tetapi sebagai sebuh misteri yang menantang untuk diteliti, disingkapkan, dan pada akhirnya ditempatkan di bawah kontrol manusia sendiri. Ilmuwan seperti Kepler, Galileo, Newton menjadi terkenal pada masa ini.

Selain mengutamakan rasionalitas, abad modern juga ditandai oleh tumbuhnya kesadaran historis pada minatnya dalam persoalan genetik dan historitas manusia. Kalau klasik itu kosmosentrisme, maka modernisme itu antroposentisme.

Ada pembentukan subjektivitas dan kesadaran akan diri dan dunia di luar diri. Dengan kata lain, subjek menjadi pusat. Ada upaya memisahkan diri dari kerangka teologis.

Pada masa ini, lingkup kehidupan manusia didominasi oleh metode, konsep, dan persoalan yang tampak dalam ilmu-ilmu fisis-biologis yakni empirisme (J. Locke, G. Berkeley dan Hume yang mengakui pengalaman indrawi sebagai dasar unik pengetahuan manusia) dan rasionalisme (Descartes, Spinoza, Malebranche, dan Leibniz yakin penuh pada kemampuan akal budi dan meremehkan pengalaman indrawi), romantisisme (Herde dan Humboldt), idealisme (Fichte, Schelling, Schleiermacher, dan Hegel).

Perspektif ini memengaruhi proses PDKT di mana ada kepercayaan bahwa jatuh cinta bukan semata-mata bersifat situasional melainkan intensional.

Konsep “jatuh cinta pada pandangan pertama” merupakan hal yang dianggap tidak masuk akal.
Demikian pula jatuh cinta karena dipengaruhi oleh situasi (situasional), ditolak mentah-mentah. Sebaliknya, ada penekanan berlebihan pada intensionalitas.

Maksudnya, cinta bertumbuh dari paradigma kalkulasi untung-rugi. Tidak ada cinta sejati. Yang ada hanyalah cinta yang berdasarkan hasil akumulasi rasionalitas

Demikian pula, institusi paling legitim untuk mengikat tali cinta tidak lain adalah perkawinan. Pada masa ini juga, seks diluar nikah dianggap aib sosial.

Bahkan, ideologi modern bekerja menggunakan logika, oleh Michel Foucault, bio-power yang beroperasi pada taraf fisis biologis manusia. Konsekuensi logisnya, terdapat pembagian kategori usia ideal pacaran dan menikah. Artinya, secara otomatis, Anda tidak bisa dengan seenaknya mengklaim Anda mampu dan boleh berpacaran meskipun baru tamat PAUD.

Meskipun demikian, pada masa ini ada kelemahan mendasar dalam upaya pembentukan subyektivitas modern.

Pada Descartes, ada cogito, ergo sum sebagai titik pangkal filsafat modern.

Pada Leibniz, kenyataan terakhir ialah monade di mana substansi-substansi tidak hanya memiliki persepsi (pengamatan) tetapi juga appetites (kehendak).

Pada Kant (filsafat transendental), ditegaskan bahwa saya yang sedang berpikir hanyalah merupakan syarat untuk kemungkinan obyek-obyek.

Pada Fichte (idealsme etis), berpikir dan bertindak itu identik. Pada Schelling (idealisme estetis), bukan hanya aku yang mempunyai kebebasan dan kehendak, tetapi juga alam di mana manusia dan alam adalah satu subyek.

Pada Hegel (idealisme logis-historis), seluruh realitas merupakan suatu kejadian (peristiwa) besar, di mana subyektif dan obyektif diangkat untuk ditundukan dalam roh mutlak.

Dari semua uraian di atas, dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai pengaruh terhadap modernitas, tetapi lebih sebagai efek ketimbang sebagai fondasi atau sebab. Ilmu pengetahuan merupakan satu manifestasi dari sebuah penekanan baru pada obyektifitas.

Paradoksnya, sumber obyektivitas ditemukan dalam subyektivitas seseorang. Penekanan pada subyektivitas membuka jalan pada keyakinan bahwa kebenaran sangat bergantung pada masing-masing pribadi.

Tepat pada waktu yang sama, apa yang dibentuk dengan menggunakan metode pemikiran dan pengalaman yang benar, bukan untuk diri orang perorangan tetapi untuk dunia secara obyektif dan absolut.

Karena itu, bisa dikatakan bahwa filsafat modern dibangun di atas paradoks sebagaimana yang tergambar dalam cerita berikut:

Ada seorang bernama Beni mengambil mikrofon di Kantin Fisipol UGM. Ia berkata, “Secara serius, kawan… Apakah kalian mendengar mengenai seorang empiris dari Inggris yang mengatakan kepada istrinya bahwa dia tidak lain hanyalah kumpulan data indrawi?”

“O ya?” kata istrinya, “Menurutmu,, bagaimana rasanya tidur setiap malam dengan seseorang yang tidak mempunyai ding an sich?”

Postmodernisme


Prefiks “post” pada postmodernisme memiliki tiga arti yakni sesudah modernisme, kritik atas modernisme, dan melampaui modernisme. Sambil berutang pada Nietzsche (kritis-skeptis) dan Derrida (dekonstruksi), ada beberapa karakteristik posmodernisme yakni dediferensiasi yang berimbas pada adanya pluralitas yang radikal.

Meminjam istilah Habermas, postmodernitas “Gleichzeitigkeit der Ungleichzeitigkeiten”: keserentakan dari berbagai ketidakserentakan. Dengan kata lain, dunia terdiri atas fragmen-fragmen yang terpisah bahkan tidak jarang saling bertentangan. Konsekuensi logisnya, orang mulai mempertanyakan titik pusat dan kesatuan.

Oleh karena itu, pada masa ini, pembicaraan tentang kematian subjek begitu dominan. Dalam kondisi ini, orang cenderung mengalami keterpecahan diri atau schizophrenia.

Posmodernisme juga ditandai oleh apa yang kemudian sering (masih diperdebatkan) disebut sebagai post-sturkturalisme. Bandingkanlah cerita di bawah ini:

Pasien: Tadi malam saya bermimpi bersama dengan Jennifer Lopez dan Angelina Jolie di tempat tidur, dan kami bertiga bercinta sepanjang malam.

Shrink: Jelas kamu mempunyai keinginan yang mendalam untuk tidur dengan ibumu.

Pasien: Apa?! Kedua perempuan itu sama sekali tidak mirip dengan ibuku.

Shrink: Ha…ha…! Suatu pembentukan reaksi! Kamu jelas menekankan keinginan-keinginanmu yang sebenarnya.


Ini bukan lelucon, melainkan benar-benar cara bernalar sejumlah pengikut Freud.

Selain itu, postmodernitas sebagai munculnya mininarasi karena robohnya metanarasi modernisme, menyebabkan terjadinya relativitas kebenaran. Tidak ada pihak yang berani mengklaim adanya kebenaran tunggal, tetap, dan absolut.

Di dalam kritikannya terhadap logika induktif, filsuf abad ke-20, Karl Popper, berpendapat agar sebuah teori itu masuk akal, harus ada keadaan tertentu yang dapat menunjukkannya sebagai salah.
Bandingkan misalnya cerita di bawah ini:

Seorang perempuan melaporkan hilangnya suaminya kepada polisi. Mereka memintanya untuk menggambarkannya, dan dia berkata, “Tingginya enam kaki tiga inci, berbadan tegap, dengan rambut lebat dan keriting.”

Temannya mengatakan, “Apa yang kamu bicarakan? Suamimu itu tingginya lima kaki empat inci, botak, dan mempunyai perut buncit.”

Dan perempuan itu kembali mengatakan, “Siapa menginginkan orang seperti itu kembali?”

Cerita ini sudah banyak dikenal. Anda sendiri mungkin penah mendengar. Apa yang tidak terlalu dikenal adalah dialognya yang berikut:

Polisi itu berkata, “Nyonya, kami meminta Anda suatu gambaran mengenai suami Anda yang sesuai dengan suami Anda yang sebenarnya.”

Perempuan itu menjawab, “Korespondensi, korespondensi! Kebenaran tidak dapat ditentukan hanya dengan kriteria epistemologis, karena ketepatan kriteria itu dapat ditentukkan terlepas dari tujuan yang dicari dan nilai yang dipegang. Artinya, pada akhirnya, kebenaran adalah apa yang memuaskan, dan Tuhan tahu, suami saya tidak memenuhi itu.”


Tanpa perlu menjelaskan panjang lebar mengenai istilah yang lebih banyak meimbulkan kesulitan, postmodernisme juga melahirkan cara pandang mengenai performativitas (Buthler).

Dengan kata lain, seksualitas bukan lagi bersifat rigid, statis dan biologis, melainkan berdasarkan pada pertunjukkan

Hal ini dipengaruhi oleh cara pandang feminis paska de Beauvoir.

Feminisme mendapat tafsir ulang secara eksistensialis di dalam abad ke-10 dengan penerbitan The Second Sex oleh filsfu (dan kekasih Jean-Paul Sartre) Simone de Beauvoir.

Dia menyatakan bahwa tidak ada hal yang disebut keperempuanan, yang dianggapnya sebagai pengekang yang dikenakan kepada perempuan oleh laki-laki. Sebaliknya, perempuan bebas untuk menciptakan versi mereka sendiri mengenai apa itu menjadi perempuan.

Dua orang gay berdiri di sudut jalan ketika seorang perempuan berambut pirang dengan bentuk tubuh yang indah lewat dengan pakaian ketat dan tipis.

Kata seorang di antara mereka ke yang lain, “Pada kesempatan-kesempatan seperti ini, saya berkhayal menajdi seorang lesbi.”

Sampai pada level ini, apakah PDKT masih relevan? Benarkah Anda heteroseksual? Apa dan bagaimana menjadi seorang lelaki atau perempuan?

6 Comments

  1. Mengapa sulit sekali buat *dapetin dia*. Mungkin ada benarnya bahwa tak ada cinta sejati yang ada hanyalah cinta berdasarkan akumulasi rasionalitas. Saya tertarik sekali dengan kata-kata itu. Kalau cintanya orang Manggarai ya mungkin sudah mulai memasuki tahapan akumulasi rasionalitas. Anak perempuannya tidak aakn diberikan begitu saja ke laki-laki. Belis harus menyakinkan pak. Kalau tidak, "nana kau siap-siap kena sida bertubi-tubi dari anak rona" sebagai pengganti belis yang belum lunas.

    Cinta orang Manggarai dan mungkin di tempat lain pun juga sama, mulai dari gaya klasik ala-ala yunani. Harus ada pihak lain dalam suatu hubungan( budaya, alam bahkan orang yang terlibat dalam hubungan pun juga ikut, orang tua misalkan bahkan tetangga juga. Hem kalo tetangga pasti ikutan buat panas-panasin yang PDKT). Bagaimana suatu hubungan juga dinilai dari segi budayanya, orang-orang di sekitarnya juga. Pas kalau ketahuan lagi ehem ehemnya nah di situlah mungkin mengapa orang-orang terdahulu kita sangat antusias melihat/memantau hubungan kasmaran seseorang. Hubungan kasmaran yang tidak sesuai dengan budaya maka benar apa yang disampaikan penulis seperti yang terjadi di Bajawa. Kepercayaan orang-orang sana bahwa akan terjadi sesuatu yang aneh pabila masyarakatnya mulai melakukan hal-hal aneh katakanlah dalam hal bercinta tadi. Ada yang selingkuh. Cinta orang-orang kita saya rasa masih pada gaya yunani klasik. Modernisme mungkin akan menyusul. Kalau di Manggarai sudah mulai nampak cinta karena akumulasi. Yang sekolahnya tinggi siap-siap. Nana kau harus bawa lebih buat dapetin dia. Hehe.

    Ulasan yang menarik. Tapi saya agak repot bacanya gara-gara terlalu banyak nama filsuf yang dimasukkan. Namanya susah disebutkan hehe(mungkin karena lidah orang rakat kali ya).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat. Saya akan menulis topik ini secara serius tapi saya usahakan menggunakan bahasa yang lebih sederhana e. Terima kasih sudah membaca.

      Delete
  2. Replies
    1. Hahaha. Ketampanan Sartre tidak masuk dalam register Natasha dan Citra. wkwkw

      Delete
  3. Tulisanya menarik kak..
    Btw.. mungkinkah Pertanyaan terakhir bisa dterjemahkan dengan pendekatan femenis radikal kak hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwwk. Terima kasih, ade.
      Tepat sekali. Jawaban yang cukup memuaskan untuk pertanyaan terakhir itu bisa ditemukan dalam pemikiran feminis pos-marxis atau feminis radikal. Salah satunya, Chantal Mouffe.

      Delete

Post a Comment

Previous Post Next Post