Part of

AD

Charles Darwin, bapak evolusi, penulis On the Origin of Species, dan suami tercinta bagi sepupunya, Emma Wedgwood (allthatsinteresting.com)

Patah hati adalah sebuah perjalanan panjang membenci diri sendiri. Membenci para guru. Membenci orang tua. 
Membenci pemimpin agama. 
Membenci Tuhan.
Telah menjadi sebuah sikab hidup teramat mulia ketika gadis itu lalu akhirnya membuat keputusan serius: bunuh diri.
Semua orang tahu. 
Ia pada akhirnya membenci kehidupan.


***************

Dalima memang gadis tercantik yang pernah kutemukan di sepanjang dunia ini. Jika Anda memintaku sekedar untuk melukiskan kecantikannya itu, jujur aku tak pernah dapat. Otakku belum cukup dewasa dalam menemukan rumusan kalimat yang pantas untuk menjelaskannya padamu. Cukuplah saja kalian paham bahwa ia cantik. Sekumpulan zat yang membuat mata dan jantungmu berhenti berkedip pun berdetak seketika.

Kalian pasti akan setuju jika aku mempersunting wanita itu sebagai isteriku. Apa yang kurang dari orang sepertiku? Pengusaha muda dan sukses. Dan tentu tak terlupakan, selalu diincar oleh wanita-wanita gading di kota ini. Sayangnya, aku sudah beristeri. Seandainya tidak ada agama dan adat-istiadat, telah kukawini Dalima: gadis bermata biru mirip ayahku. Tak peduli apa kata orang-orang.
            
Isteriku yang sekarang sangat membosankan. Wajahnya tidak terlalu cantik. 
Sangat jauh bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan si Dalima. Ditambah lagi sifatnya yang cerewet, suka mengomel, membuat berada di sisinya bagai menghampiri neraka. 
Rambutnya yang kusut karena terbiasa dilahap asap dapur cukup untuk menggagalkan keinginanku untuk orgasme. 
Kadang, kukenakan saja masker penutup hidung saat kami bergumul malam-malam di tempat tidur.

Hampir setiap hari kupaksakan saja otak menemukan cara untuk menceraikan isteriku. Namun berkali-kali itu pula aku gagal. Ada sesuatu yang memintaku agar tidak lekas pergi. Kupikir, mungkin itu adalah pernikahan. Sebuah alasan mendasar kenapa justru Gerejalah, institusi yang paling kubenci. 
Lembaga kuno yang dari mana dan kapan datangnya itu, seolah-olah telah menjadi dewa bagi orang kebanyakan termasuk diriku sendiri. Begitu mudahnya ia mengatur segala sesuatu termasuk keinginan manusia. 
Lebih herannya lagi yakni kehadirannya mengandung daya imajinatif luar biasa. Semua orang patuh padanya. Tanpa protes. Apalagi membubarkannya. Bagai seorang pemuda yang berhenti gelisah setelah menemukan kembali hatinya yang hilang. 
Pernakah kalian mendengar bahwa seorang beragama ingin membubarkan dirinya sendiri?
            
Karena gereja itulah isteriku luput dari gugatan perceraian yang sudah matang kurumuskan dalam hatiku. Karena gereja pulalah aku gagal menjadi bahagia. Karena gereja, aku mulai belajar bercinta dengan isteri tetanggaku. Karena gereja, semakin sering kusempatkan diri mengunjungi nite club di ujung kota. 
Karena gereja, kubelanjakan uang negara demi kebutuhan keluarga. 
Karena gereja, dengan diam-diam kulakukan praktek nepotisme. 
Karena gereja, aku tidak berani lagi menahan keinginan-keinginan liar. 
Karena gereja, aku menjadi semakin merasa lapang. Sungguh, gereja mendekatkanku pada maut.
            
Telah sebulan lebih gelora nafsu yang bersembunyi di balik dadaku lenyap. Tak pernah sekalipun kujamahi isteriku walaupun untuk sebuah kecupan. 
Dan sejak saat itu masing-masing kami menempati kamar yang sama namun dengan dua buah ranjang yang sengaja diletakkan terpisah. Kurasakan badai perpecahan semakin membuncah dan pernikahan kami kini di ujung batas. 
Kuraih kunci mobil dan berjalan menuju garasi. Satu tujuannku: mengunjungi puteri semata wayang kami. 
Aku begitu merindukannya. 
Apalagi di saat-saat gamang seperti malam ini. 
Di saat isteriku memadamkan gairah yang meledak di kepalaku oleh karena aroma asap dapur sialan. Aku begitu membenci isteriku sampai-sampai puteriku diam saja ketika tubuhnya kurangkul dalam dekap.

***************
            
Patah hati adalah sebuah perjalanan panjang membenci diri sendiri. Bukan hanya soal hati tetapi juga masa depan. Sejak hatiku berpaut pada sosok pemuda tampan yang kukenal dengan paling.
Pria yang lebih pantas kuhargai karena usianya. Dan bukan sebaliknya menyodorkan ke hadapannya segumpal perasaan sesat seperti sekarang.

Apa boleh buat. Aku mencintainya. Pun begitu menghormatinya ketika dengan lembut ia membaringkan tubuhku di atas kasur. Melepaskan satu per satu pakaian yang kukenakan. Melucuti rasa percaya diriku sebelum akhirnya menghempas tubuhku tepat di atas dadanya.

Kejadian ini selalu mengingatkanku pada ibu.
“Maafkan Dalima bu,” ujarku lirih.

Seperti sepotong kawat berduri sedang tersangkut di tenggorokkanku.


Maumere, 14 Februari 2014.


Dimuat pada Pos Kupang, 03 Agustus 2014.

Post a Comment

Previous Post Next Post